Ajak Santri Berkarya Melalui Medium Film Lewat Santri Film Festival
Tahun ini, Santri Film Festival (SANFFEST) memasuki tahun kedua penyelenggaraannya dengan kembali membuka ruang bagi para santri untuk berkarya dan menyampaikan gagasan melalui medium film. Mengusung tema “The Verses in Motion”, mengajak para santri untuk tidak sekadar memindahkan kisah Al-Qur’an ke layar, tetapi menggali nilai-nilai di dalamnya dan menghadirkannya sebagai cerita yang relevan dengan kehidupan hari ini.
Memasuki tahun keduanya, SANFFEST kembali mempertemukan dunia pesantren dengan ekosistem perfilman Indonesia. Sejumlah nama dari industri perfilman turut terlibat dalam penyelenggaraan, di antaranya Tyo Pakusadewo, Mario Irwinsyah, Fajar Bustomi, dan Niniek L. Karim.
Neno Warisman, Ketua Komite SANFFEST mengatakan, film dapat menjadi medium bagi santri untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan nilai yang tumbuh di lingkungan pesantren kepada masyarakat yang lebih luas. “Santri didorong untuk melihat film bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium menyampaikan gagasan, pengalaman, dan nilai,” ujarnya.
Ada tiga kategori utama yang dilombakan, yaitu Santri Pelajar, Santri Umum, dan Inklusi. Kategori Santri Pelajar menghadirkan sembilan nominasi, yaitu Penata Suara Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Skenario Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Pemeran Terbaik Putera, Pemeran Terbaik Puteri, serta Film Cerita Terbaik. Sementara itu, kategori Santri Umum memiliki tiga nominasi, yakni Skenario Terbaik Umum, Penyutradaraan Terbaik Umum, dan Film Cerita Terbaik Umum. Untuk memastikan ruang berkarya yang lebih inklusif, juga menghadirkan kategori Inklusi, yang terdiri dari Film Inklusi Disabilitas Terbaik dan Film Inklusi Daerah 3T Terbaik. Selain 14 nominasi dari ketiga kategori tersebut, juga memberikan Penghargaan Khusus 20 Poster Terbaik yang terbuka bagi seluruh kategori.
Melalui tema “The Verses in Motion”, para peserta diajak untuk melihat kembali kisah dan nilai-nilai dalam Al-Qur’an, kemudian menerjemahkannya ke dalam karya film yang memiliki relevansi dengan persoalan dan kehidupan masyarakat hari ini. SANFFEST tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga menjadi wadah bagi santri untuk mengembangkan kemampuan dan perspektif dalam dunia perfilman. Para peserta akan mendapatkan pengalaman melalui berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari Jaulah bersama sineas internasional, proses kurasi dan penjurian, screening karya, hingga Malam Anugerah SANFFEST 2026.
Kehadiran para pelaku industri perfilman seperti Tyo Pakusadewo, Mario Irwinsyah, Fajar Bustomi, dan Niniek L. Karim turut memperkuat ruang pertemuan antara kreativitas santri dan ekosistem perfilman Indonesia. Dengan total hadiah sebesar Rp415 juta, membuka kesempatan bagi para santri untuk membawa kisah dan nilai-nilai Al-Qur’an ke layar melalui pendekatan yang kreatif, kontekstual, dan relevan. Memasuki tahun kedua, SANFFEST terus membawa semangat untuk membuka ruang bagi santri dari berbagai latar belakang agar dapat bercerita, berkarya, dan menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam bahasa sinema.