ads

Di Balik Tinggi Badan Anak, Ada Banyak Hal yang Perlu Diperhatikan

Novita Sari - Kamis, 24 September 2026
Ki-ka: Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global; Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk; dan Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD, Selasa (22/09) di Jakarta. Foto: Is
Ki-ka: Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global; Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk; dan Merien Frentinia, orang tua dari anak dengan GHD, Selasa (22/09) di Jakarta. Foto: Is
A A A

Ketika melihat anak tumbuh lebih pendek dibandingkan teman-teman seusianya, orang tua mungkin langsung berpikir tentang asupan gizi atau stunting. Padahal, pertumbuhan anak merupakan proses yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor. Selain nutrisi, kondisi hormonal, genetik, hingga penyakit tertentu juga dapat berperan.

Karena itu, tinggi badan anak sebaiknya tidak hanya dilihat dari angka pada satu waktu. Yang tak kalah penting adalah memperhatikan pola dan laju pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.

PT Merck Tbk kembali mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya memahami beragam penyebab gangguan pertumbuhan anak. Edukasi tersebut juga diwujudkan melalui laman interaktif serta buku cerita anak Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa, yang dapat membantu keluarga mengenali dan memantau pertumbuhan anak secara rutin.

Evie Yulin, Presiden Direktur PT Merck Tbk, menyatakan, “Sebagai perusahaan sains dan teknologi terkemuka, kami berkomitmen mendukung pertumbuhan optimal anak-anak Indonesia melalui edukasi yang berkelanjutan. Bersama berbagai pemangku kepentingan, termasuk media dan komunitas, kami mendorong pemahaman masyarakat tentang pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan mengenali potensi gangguan, termasuk perawakan pendek (short stature) sejak dini. Kami berharap edukasi ini membantu lebih banyak orang tua memahami pola pertumbuhan anak dan mengetahui kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.”

Bukan Hanya Soal Nutrisi

Stunting dan masalah nutrisi memang menjadi bagian penting dalam pembahasan pertumbuhan anak di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen. Namun, perawakan pendek atau short stature memiliki penyebab yang jauh lebih beragam.

Gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hipotiroidisme, faktor genetik seperti Sindrom Turner, maupun kondisi medis kronis lainnya.

Pada sebagian anak, penyebab spesifik bahkan tidak dapat ditemukan meskipun sudah menjalani evaluasi secara menyeluruh. Kondisi ini dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Gangguan pertumbuhan juga tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi dapat berpengaruh terhadap aspek psikososial anak.

Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi dan Ketua Umum Yayasan Kesehatan Anak Global, menegaskan bahwa perawakan pendek tidak dapat serta-merta disamakan dengan stunting atau dianggap semata-mata sebagai persoalan nutrisi.

Menurutnya, faktor hormonal, genetik, hingga penyakit kronis juga dapat menjadi penyebab. Secara global, Growth Hormone Deficiency diperkirakan terjadi pada sekitar satu dari 4.000–10.000 anak.

Perhatikan Pola Pertumbuhan Anak

Lantas, apa yang perlu dilakukan orang tua?

Menurut Prof. Aman, perhatian sebaiknya tidak hanya tertuju pada tinggi badan anak saat ini. Orang tua perlu melihat bagaimana pertumbuhan tersebut berlangsung dari waktu ke waktu.

Jika terdapat pola pertumbuhan yang berbeda dari yang diharapkan, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk memperoleh evaluasi lebih lanjut dan memahami langkah yang sesuai.

Pemantauan sederhana di rumah maupun sekolah dapat menjadi langkah awal. Catatan tinggi badan yang dilakukan secara berkala dapat membantu orang tua melihat apakah pertumbuhan anak berlangsung secara konsisten.

Pengalaman Merien Frentinia menjadi salah satu contoh pentingnya pemantauan tersebut. Ia mulai menyadari adanya sesuatu yang perlu diperhatikan ketika putrinya yang saat itu berusia tujuh tahun memiliki tinggi badan yang berbeda dibandingkan teman-teman seusianya.

Yang lebih menarik perhatian, berdasarkan pengukuran tinggi badan setiap bulan selama satu tahun, tinggi putrinya tetap berada di angka 113 sentimeter. Kondisi tersebut kemudian mendorong keluarga untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Setelah menjalani rangkaian pemeriksaan, putrinya didiagnosis mengalami GHD dan membutuhkan terapi hormon pertumbuhan. Sejak kelas dua hingga kelas lima SD, ia menjalani terapi tersebut. Menurut Merien, selama kurang lebih tiga tahun, tinggi badan putrinya bertambah sekitar satu sentimeter setiap bulan.

Perubahan yang dirasakan keluarga bukan hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga pada rasa percaya diri sang anak.

Dampaknya Bisa Menyentuh Kepercayaan Diri Anak

Pertumbuhan fisik dan kondisi psikologis anak dapat saling berkaitan. Anak yang merasa berbeda karena memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan teman-temannya dapat mengalami rasa kurang percaya diri dan berpotensi menjadi sasaran perundungan.

Inilah sebabnya pemantauan pertumbuhan perlu dilakukan secara menyeluruh. Orang tua tidak perlu langsung panik ketika menemukan perbedaan tinggi badan, tetapi juga sebaiknya tidak mengabaikannya.

Mengenali pola pertumbuhan sejak dini dapat membantu orang tua mengetahui kapan perlu mencari informasi lebih lanjut dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Belajar Memantau Pertumbuhan Lewat Cerita

Untuk membantu keluarga memahami pentingnya pemantauan pertumbuhan, Merck menghadirkan sebuah laman interaktif yang membantu orang tua memantau pertumbuhan anak dengan mempertimbangkan tinggi badan orang tua dan potensi pertumbuhan anak.

Selain itu, juga diperkenalkan buku cerita anak Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa. Cerita ini mengajak anak dan orang tua memahami pertumbuhan melalui kisah Arka, seorang anak yang bercita-cita menjadi astronaut.

Suatu ketika, Arka menyadari tinggi badannya belum memenuhi syarat untuk menaiki sebuah wahana di taman bermain. Orang tuanya kemudian mulai lebih memperhatikan pertumbuhannya. Mereka menemukan beberapa tanda yang sebelumnya luput dari perhatian, seperti Arka yang masih dapat mengenakan baju yang dibelikan ketika ia berusia lima tahun, meski saat itu usianya sudah delapan tahun. Arka juga kerap berada di barisan depan ketika bersama teman-teman sekelasnya.

Melalui perjalanan Arka, keluarga diajak memahami bahwa pertumbuhan anak bukan sekadar soal tinggi badan hari ini. Ada pola yang perlu diamati dan berbagai faktor yang dapat memengaruhinya, mulai dari hormon, genetik, gizi seimbang, gaya hidup, hingga pemantauan kesehatan.

Pada akhirnya, setiap anak memiliki perjalanan tumbuh kembang yang berbeda. Tugas orang tua bukan membandingkan tinggi badan anak dengan anak lain, melainkan mengenali pola pertumbuhannya sendiri.

Dengan pemantauan rutin dan perhatian terhadap berbagai tanda yang muncul, orang tua dapat lebih cepat memahami bila ada sesuatu yang perlu diperiksa. Bila ditemukan pola pertumbuhan yang mengkhawatirkan, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah penting agar anak mendapatkan evaluasi dan dukungan yang sesuai.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Di Balik Tinggi Badan Anak, Ada Banyak Hal yang Perlu Diperhatikan
img
Sambut Hari Jantung Sedunia, YJI dan PERKI Gaungkan “Don’t Miss A Beat” Menuju Hidup Lebih Sehat
img
Tes Darah Baru, Bantu Deteksi Alzheimer Lebih Dini, Kenali Gejalanya Sejak Awal
img
30 Tahun Neuroscience, Menembus Batas untuk Hadirkan Layanan Saraf yang Semakin Presisi