ads

Makan Bersama, Cara Sederhana Dukung Tumbuh Kembang Anak lewat Nutrisi, Stimulasi, dan Lingkungan Keluarga

Novita Sari - Kamis, 08 Oktober 2026
Ki-ka: Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis; Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC); dan MC. Foto: Novi
Ki-ka: Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis; Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC); dan MC. Foto: Novi
A A A

Bagaimana jika ada satu kebiasaan sederhana yang bisa membantu mendukung kesehatan tubuh, menjadi stimulasi bagi anak, sekaligus memperkuat hubungan dalam keluarga? Jawabannya ada di aktivitas yang dilakukan setiap hari. Ya, makan.

Hal itu diungkap oleh Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC), saat diskusi media “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” yang digelar Danone pada Kamis, 08 Oktober 2026 di Sentosa Senayan, GBK, Jakarta.

“Ketika kita menerapkan perilaku makan yang baik pada anak, kita bisa menembak sekaligus tiga jalur, yaitu biologis, stimulasi, dan family environment,” jelas Dr. Ray.

Dari sisi biologis, makanan yang masuk ke tubuh tentu menjadi sumber nutrisi yang dibutuhkan berbagai organ, termasuk otak. Karena itu, memastikan anak mendapatkan makanan yang beragam, bergizi, lengkap, dan seimbang, menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembangnya.

Namun, menurut Dr. Ray, manfaat makan tidak berhenti pada apa yang ada di dalam piring. Cara anak makan juga merupakan bentuk stimulasi.

Anak, terutama pada usia dini, belajar dengan mengamati dan meniru orang-orang terdekatnya. Pola makan orang tua pun dapat menjadi contoh yang mudah ditiru. Karena itu, kebiasaan makan di rumah memiliki peran penting dalam membentuk perilaku anak.

“Pola makan itu salah satu tipe perilaku yang paling gampang di-copy paste oleh balita,” tandas Dr. Ray.

Makan Bersama Jadi Momen Belajar

Dalam kesempatan yang sama, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis menambahkan, salah satu kebiasaan yang dapat diterapkan adalah mengajak anak makan bersama keluarga. “Setelah anak berusia lebih dari satu tahun, orang tua dapat mulai mengenalkan makanan keluarga dengan porsi yang disesuaikan dengan kebutuhan anak,” kata Ratih.

Menurut Ratih, momen tersebut bukan sekadar waktu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. “Meja makan juga bisa menjadi ruang bagi anak untuk belajar berkomunikasi, mengamati perilaku orang tua, mengenal kebiasaan makan, sekaligus membangun kedekatan emosional dengan keluarga,” ucapnya.

Karena itu, Ratih menganjurkan agar orang tua menyediakan waktu untuk makan bersama, setidaknya satu kali dalam sehari jika belum memungkinkan dilakukan lebih sering.

“Yang tidak kalah penting, waktu makan sebaiknya menjadi kesempatan untuk berinteraksi tanpa gangguan gawai. Orang tua bisa mengajak anak berbicara, mendengarkan ceritanya, atau sekadar menikmati makanan bersama,” ujar Ratih.

“Kalau makan bersama keluarga, ngobrol yang enak dan tidak memakai HP atau gadget, perilaku ini akan di-copy paste oleh anak,” tambahnya.

Dengan begitu, aktivitas makan dapat menjadi sebuah “intervensi” sederhana di tingkat keluarga. Anak mendapatkan nutrisi, melihat contoh perilaku yang baik, sekaligus memperoleh pengalaman positif bersama orang-orang terdekatnya.

Manfaatkan Masa Emas Anak

Kebiasaan tersebut menjadi semakin penting ketika dilakukan pada masa awal kehidupan anak. Periode golden period, termasuk critical period dan sensitive period, merupakan fase ketika perkembangan otak dan kemampuan anak berlangsung sangat pesat.

Pada masa ini, pengalaman yang diberikan orang tua dapat menjadi bagian dari fondasi perkembangan anak. Karena itu, Dr. Ray mengajak orang tua untuk tidak memandang makan hanya sebagai aktivitas rutin, tetapi juga sebagai kesempatan memberikan pengalaman dan pembelajaran.

“Coba kita jadikan perilaku makan ini sebagai injeksi, intervensi di tingkat keluarga,” ujarnya.

Tak Hanya Otak, Kesehatan Pencernaan Juga Penting

Selain stimulasi dan pola pengasuhan, pemenuhan kebutuhan nutrisi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuh kembang anak. Salah satu area yang semakin banyak mendapat perhatian adalah kesehatan saluran pencernaan.

Dr. Ray menjelaskan bahwa kesehatan pencernaan memiliki hubungan erat dengan fungsi otak melalui Gut-Brain Axis (GBA), yaitu hubungan komunikasi dua arah antara saluran pencernaan dan otak.

"Untuk mendukung kecerdasan emosional dan potensi anak secara optimal, stimulasi perlu berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi, terutama untuk mendukung kesehatan pencernaan anak. Sebab, sering kali dikatakan bahwa pencernaan merupakan otak kedua anak. Hal ini disebabkan karena otak dan saluran pencernaan saling terhubung sebagai Gut-Brain Axis," kata Dr. Ray.

Menurutnya, mikrobiota usus menjadi salah satu bagian penting dalam sistem tersebut. Saluran pencernaan dihuni oleh komunitas mikroorganisme dalam jumlah sangat besar yang berinteraksi dengan tubuh. Pada masa awal kehidupan, perkembangan dan kematangan mikrobiota menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan sebagai bagian dari kesehatan anak secara menyeluruh.

Prebiotik dan Pola Makan Beragam

Untuk mendukung kesehatan saluran pencernaan, anak membutuhkan pola makan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan serta tahap perkembangannya. Salah satunya dengan mencukupi asupan serat dan sumber prebiotik.

Prebiotik merupakan komponen makanan yang dapat dimanfaatkan oleh mikrobiota usus. Sumbernya dapat ditemukan dalam berbagai makanan, seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, serta beberapa jenis umbi-umbian.

"Guna menjaga jumlah bakteri baik dalam usus anak tetap seimbang, si Kecil perlu diberikan asupan prebiotik yang biasanya banyak terkandung dalam makanan sumber serat, seperti buah-buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian dan wortel," jelas Dr. Ray.

Ia menambahkan, kebutuhan nutrisi anak perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi masing-masing. Dalam kondisi tertentu, sumber nutrisi tambahan seperti susu pertumbuhan untuk anak di atas satu tahun yang mengandung prebiotik juga dapat menjadi bagian dari pola makan anak, sesuai kebutuhan dan anjuran yang tepat.

Pada akhirnya, tumbuh kembang anak bukanlah hasil dari satu faktor saja. Nutrisi yang baik, kesehatan pencernaan, stimulasi, pengasuhan yang responsif, serta lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang perlu berjalan bersama.

"Pencernaan yang sehat merupakan salah satu fondasi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, untuk mendukung potensi anak secara optimal, nutrisi dan kesehatan perlu berjalan bersama dengan stimulasi, pengasuhan responsif, dan kesempatan belajar," tutur Dr. Ray.

Dengan memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan masing-masing, orang tua dapat memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya. Sebab, membangun kecerdasan anak bukan hanya tentang membuatnya pintar secara akademis, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang mampu mengenali emosi, berinteraksi, berempati, belajar, dan menghadapi berbagai tantangan dengan lebih baik.

"Setiap anak memiliki potensi yang unik. Dengan dukungan yang tepat pada waktu yang tepat, potensi tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara optimal," ucap Dr. Ray.

Pada akhirnya, tidak selalu dibutuhkan aktivitas yang rumit untuk mendukung tumbuh kembang anak. Hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menjadi bagian penting dari keseharian anak.

Mulai dari meja makan, orang tua dapat menghadirkan nutrisi, stimulasi, sekaligus kehangatan keluarga dalam satu momen yang sama.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Makan Bersama, Cara Sederhana Dukung Tumbuh Kembang Anak lewat Nutrisi, Stimulasi, dan Lingkungan Keluarga
img
MRI 3 Tesla: Kualitas Pencitraan Lebih Detail untuk Mendukung Diagnosis dan Penanganan Pasien
img
Gelar Operasi Katarak Gratis, Mengenang 101 Tahun Pandji Wisaksana
img
Mata Terasa Pegal dan Perih? Kenali Digital Eye Strain dan Cara Mencegahnya