Menghibur Tanpa Menggurui, Cara Jenaka Menertawakan Sisi Gelap Ambisi Manusia
Di era yang serba digital ini, kita sering menganggap bahwa tradisi mistis adalah peninggalan masa lalu yang mulai ditinggalkan. Namun, realitanya justru terbalik. Masyarakat modern hari ini sering kali terjepit di antara dua dunia, tuntutan ekonomi yang kian mencekik dan sisa-sisa tradisi mistis yang menawarkan "jalan pintas".
Fenomena inilah yang dipotret secara cerdas dalam film Setannya Cuan. Film ini bukan sekadar horor yang menjual kaget-kagetan, melainkan sebuah satir tajam tentang bagaimana setan telah berubah fungsi dalam masyarakat kita.
Setan Bukan Lagi Peneror, Tapi Mitra Bisnis
Dalam narasi horor klasik, setan adalah sosok yang datang untuk meneror dan menakuti. Namun, dalam dinamika masyarakat yang "gila cuan", sosok setan telah bergeser menjadi bagian dari ekosistem ambisi manusia. Setan dianggap sebagai "mitra" yang bisa diajak berbagi hasil demi mengubah nasib secara instan.
Seperti karakter-karakter dalam filmnya, banyak orang di dunia nyata yang merasa bahwa bekerja keras saja tidak cukup. Ketika pintu kesempatan tertutup, jendela klenik pun dibuka. Dari sinilah muncul istilah “Setannya Cuan", sebuah kondisi dimana ambisi mencari kekayaan sudah lebih menakutkan dibandingkan penampakan gaib itu sendiri.
Dijadwalkan tayang 5 Maret 2026, dalam acara peluncuran poster dan trailer terbarunya Jumat, 23 Januari 2026 di CGV fX Sudirman Jakarta, para pemain berbagi kisah seru, mulai dari karakter yang "gampang dimanipulasi" hingga urusan jaga lilin demi cuan instan.
Sisi komedi film ini diperkuat oleh geng ibu-ibu kampung yang hobi berkumpul di tukang sayur. Tidzara Dia yang berperan sebagai Rini, bersama Mega Carefansa dan Gabriella Desta (Nenden), menjadi trio maut yang siap mengocok perut.
"Nenden ini paling kecil, jadi dia ngikut aja ke mana ibu-ibu ini pergi. Apa pun yang mereka bicarakan, dia percaya. Pokoknya gampang banget dimanipulasi," ujar Gabriella sambil tertawa.
Tak ketinggalan, Aming yang berperan sebagai Kang Sayur disebut-sebut sebagai scene stealer. Meski kemunculannya singkat, celetukan "Paket Darurat"-nya dijamin bakal terngiang-ngiang bagi penonton.
"Kami ingin penonton pulang dengan perasaan bahagia dan lega setelah tertawa berjamaah. Kalau ada pesan moral yang bisa dibawa pulang, seperti bahayanya menghalalkan segala cara demi uang, itu adalah bonus," pungkas sang Sutradara, Sahrul Gibran.