ads

Mengurai Evolusi Subeng: Bagaimana Menghidupkan Kembali Perhiasan Identitas Nusantara

Novita Sari - Jumat, 24 Juli 2026
Di antara beragam jenis perhiasan Nusantara, ada satu ornamen yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah konstruksi dan identitas budaya Indonesia: Subeng. Foto: Novi
Di antara beragam jenis perhiasan Nusantara, ada satu ornamen yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah konstruksi dan identitas budaya Indonesia: Subeng. Foto: Novi
A A A

Di antara beragam jenis perhiasan Nusantara, ada satu ornamen yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah konstruksi dan identitas budaya Indonesia: Subeng.

Jika kalung, gelang, atau anting-anting biasa dapat ditemukan dalam hampir setiap tradisi budaya khususnya di Asia, maka subeng berbeda. Ornamen telinga tradisional asal Bali ini secara konstruksi, bentuk, dan filosofi adalah betul-betul milik tanah air kita; sebuah identitas khas Nusantara yang tak dimiliki bangsa lain.

Keunikan dan perjalanan panjang subeng inilah yang menjadi panggung eksperimental bagi jenama perhiasan adiluhung TULOLA. Melalui gelaran tahunan Kawan Nusantara 2026 bertajuk "Evolusi: Heritage and Craft as a Vessel of Light and Wisdom" yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 di Nusantara Ballroom, The Dharmawangsa, Jakarta, bersama BCA dan Pertamina, mereka mengajak publik menyaksikan bagaimana warisan budaya ini berevolusi mengikuti zaman.

Bagi duo pendiri TULOLA, Happy Salma (Founder & Creative Conceptor) dan Sri Luce Rusna (Founder & Creative Designer), subeng telah menjadi passion project sekaligus panggung eksperimen selama hampir 19 tahun berkarya.

"Subeng itu bukan hanya sarat makna, cerita, dan filosofi, tetapi secara bentuk pun menjadi ruang bermain kami. Kami membongkar konstruksinya: bermain dengan ukuran, skala, hingga motif agar bisa tampil modern dan relevan dengan gaya busana masa kini," ungkap Sri Luce Rusna.

Foto: Novi
Ki-ka: Sri Luce Rusna (Founder & Creative Designer TULOLA) dan Happy Salma (Founder & Creative Conceptor TULOLA). Foto: Novi

Evolusi ini dipamerkan secara kontekstual melalui instalasi artistik yang membagi perjalanan subeng ke dalam empat tahap utama:

  • Persembahan: Menggunakan pola arsitektur padma yang terinspirasi dari bangunan suci Bali.
  • Ekspresi: Mengadopsi motif bunga lotus dan sulur tanaman yang menjulur, melambangkan seni ukir yang makin estetis.
  • Nilai: Memadukan motif keranjang dan bunga lili, merepresentasikan subeng yang memasuki ruang sosial dan ekonomi sebagai produk kriya bernilai tinggi.
  • Transformasi: Mengintegrasikan elemen tipografi bertuliskan "Evolusi", penanda bahwa tradisi adalah sesuatu yang terus bergerak maju.

Proses kreatif koleksi ini memakan waktu persiapan sekitar 6 bulan, dengan pengerjaan intensif di studio selama 4 bulan. Tantangan terbesarnya? Memilih untuk menembus batas keterampilan para pengrajin (push the boundaries).

Mereka menciptakan instalasi subeng raksasa setinggi kurang lebih 60 cm khusus untuk kebutuhan pameran, di samping menghadirkan 48 desain anyar dalam koleksi Artwear. Beberapa perhiasan bahkan dirancang secara tiga dimensi dan dapat bergerak, memberi perspektif baru dalam menikmati perhiasan tradisional.

Filosofi Transformasi dan Keberanian

Koleksi Artwear "EVOLUSI" meluncurkan berbagai motif simbolis, seperti Canang, Sinar, Bunga & Kupu-kupu, hingga Macan. Motif Macan, misalnya, dipilih secara khusus sebagai simbol keberanian.

"Setiap kali kita mau menjalani transformasi atau pertumbuhan, kita memang membutuhkan keberanian. Motif ini menjadi simbol keberanian diri saat kita harus memulai sesuatu yang baru," jelas Happy Salma saat konferensi pers, Kamis, 23 Juli 2026 di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Bagi Happy Salma, eksplorasi subeng ini tidak hanya berhenti di ranah desain. Perjalanan riset subeng ini juga menjadi bagian dari penelitian tesis akademik yang tengah ditempuhnya dalam bidang Agama, Seni, dan Budaya. Langkah ini semakin mempertegas komitmennya dalam menjaga estafet kebudayaan secara ilmiah dan kontekstual.

Foto: Novi
Perayaan Kawan Nusantara 2026 juga menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin. Foto: Novi

Sinergi Ekosistem Kreatif dan Dukungan Korporasi

Perayaan Kawan Nusantara 2026 juga menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin. Mereka merangkul sembilan jenama kreatif Indonesia seperti Camani, Ella & Glo, Glashka, dan Jeffry Tan serta UMKM binaan Bakti BCA dan Pertamina, termasuk pengrajin perak Desa Wisata Taro (I Made Suama dan Ketut Daging) serta pembuat Keris Pusaka (I Komang Sudena).

Dalam kesempatan ini, Hera F. Haryn (EVP Corporate Communications & Social Responsibility BCA) menegaskan bahwa sinergi ini adalah komitmen nyata dalam mendorong UMKM naik kelas dan melestarikan warisan budaya Indonesia.

Sementara Muhammad Baron (Vice President Corporate Communications Pertamina) menambahkan bahwa kolaborasi ini sejalan dengan komitmen dalam pemberdayaan ekonomi perempuan serta pengembangan kapasitas sektor kreatif lokal.

Melalui pameran "EVOLUSI", TULOLA merawat tradisi tidak dengan menguncinya dalam kaca museum, melainkan dengan meniupkan nyawa baru, membuktikan bahwa warisan leluhur akan selalu hidup selama manusia terus memelihara dan memaknainya kembali.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Gaya Hidup Sat Set jadi Solusi Praktis ala SIVIA, Agatha Pricilla, dan Ify Alyssa
img
Kisah Perempuan Pantang Menyerah: Pelajaran Penting tentang Ketangguhan dan Keberanian Menentukan Arah Hidup
img
Mengurai Evolusi Subeng: Bagaimana Menghidupkan Kembali Perhiasan Identitas Nusantara
img
Dari Rak Toko Menjadi Taman Bermain, "Kawaii Carnival" Bikin Momen Belanja Fesyen Anak Lebih Seru