Punya UMKM? Ini 5 Mindset yang Wajib Kamu Punya Biar Bisnismu Naik Kelas
Sebagai tulang punggung perekonomian nasional, sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, data menunjukkan bahwa 99 persen UMKM masih berada di level Usaha Mikro.
Selain itu, pelaku UMKM, terutama perempuan, masih menghadapi berbagai tantangan struktural: kesenjangan literasi keuangan dan digital dibandingkan laki-laki, keterbatasan akses pembiayaan dan pasar, hingga kurangnya partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Di tengah tantangan tersebut, banyak pelaku UMKM perempuan yang mampu berkembang. Dari pengalaman mereka, ada lima pola pikir atau mindset yang perlu kamu tanamkan untuk membantu usahamu naik kelas:
1. Siap dan Adaptif dengan Perubahan, Termasuk Teknologi
Dunia bisnis penuh perubahan dan ketidakpastian, apalagi di era digital, dimana teknologi bukan lagi pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Data INDEF tahun 2024 mengungkap bahwa digitalisasi bisnis mampu meningkatkan omzet tahunan UMKM hingga 50 persen. Media sosial, platform e-commerce, hingga pemanfaatan AI pun penting untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjangkau lebih banyak pelanggan.
2. Jangan Lelah Belajar dan Memperkaya Ilmu
Bagi pelaku UMKM, mengikuti pelatihan bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi juga membuka akses ke mentor, komunitas, dan cara berpikir baru dalam mengembangkan bisnis secara lebih strategis.
3. Perbanyak Relasi, Perluas Peluang
Selain mengikuti program pelatihan, berjejaring menjadi salah satu kunci penting untuk tumbuh. Partisipasi dalam komunitas dan bazar dapat membuka akses ke pasar yang lebih luas, peluang kolaborasi, hingga dukungan sesama pelaku usaha.
4. Usaha Kecil pun Bisa Menciptakan Dampak Berarti
Jika dikelola dengan serius, UMKM bisa menciptakan dampak yang melampaui skala bisnis itu sendiri dalam menggerakkan ekonomi lokal, membuka peluang bagi komunitas sekitar, hingga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan.
Contohnya Hj. Nurlaela, salah satu juara SisBerdaya 2025. Lewat Cantika Sabbena, ia melahirkan brand kain khas Soppeng yang mempromosikan warisan budaya Bugis melalui motif tradisional yang khas. “Saat ini, 90 persen karyawan saya perempuan karena saya ingin menciptakan ruang untuk sesama wanita bisa bertumbuh. Dalam pembuatan kain pun, Cantika Sabbena memakai limbah kain. Jadi kalau ada niat, kita bisa menggabungkan pelestarian budaya, pemberdayaan perempuan, dan sustainability,” katanya.
5. Tekun dan Konsisten, Kunci yang Sering Terlupakan
Di balik semua strategi, ada satu hal yang selalu muncul dalam setiap cerita UMKM yang berhasil, yakni ketekunan. Tidak sedikit pelaku usaha yang memulai dari nol dengan segala keterbatasan. Namun, konsistensi dalam menjalankan usaha, terus belajar, dan beradaptasi menjadi faktor penentu kesuksesan usaha
Dorong Lebih Banyak Perempuan
Untuk mendorong UMKM perempuan naik kelas, DANA dan Ant International Foundation kembali menghadirkan SisBerdaya dan DisBerdaya 2026: Perempuan Berteknologi Membangun Bisnis & Kesetaraan.
“Dalam tiga tahun terakhir, program ini telah menjangkau ~9.000 UMKM dan ~600 UMKM menerima penghargaan. Program ini kembali kami selenggarakan untuk membuka kesempatan yang lebih luas. Kami akan memberikan beberapa kurikulum baru untuk peserta terpilih tahun ini, termasuk salah satunya adalah pembekalan gaya hidup finansial sehat. Tujuannya agar mereka tidak hanya sukses dalam berbisnis, tetapi memastikan usahanya berkelanjutan. Di akhir acara, kami juga akan mendorong 30 finalis untuk berpartisipasi dalam salah satu bazar ternama di Jakarta,” ujar Olavina Harahap, Director of Communications DANA.
Tahun ini, mereka menargetkan total partisipasi hingga 6.000 pelaku UMKM di seluruh Indonesia, naik 20 persen dari tahun sebelumnya. DisBerdaya juga hadir lebih inklusif dengan menjangkau berbagai wilayah di luar Jawa.
Ini dimungkinkan berkat adanya kolaborasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Republik Indonesia. “Perempuan Indonesia punya potensi besar sebagai penggerak ekonomi, termasuk melalui UMKM. Lewat SisBerdaya dan DisBerdaya, kami melihat bagaimana peserta diberikan ruang untuk tumbuh, belajar, dan mengembangkan usahanya. Kami mengapresiasi komitmen ini karena sejalan dengan upaya kami dalam memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal dalam pembangunan ekonomi nasional,” kata Veronica Tan, Wakil Menteri PPPA Republik Indonesia.
“Dengan mendukung wirausaha dan pemilik usaha perempuan melalui akses terhadap teknologi serta pengetahuan bisnis, dampaknya tidak hanya berhenti pada peningkatan pendapatan, tetapi juga meluas pada kesejahteraan keluarga dan penciptaan lapangan kerja. Kami bangga dapat terus mendukung program bermakna ini dan para mitra ekosistem lokal, untuk memberdayakan lebih banyak usaha yang dipimpin perempuan agar dapat berkontribusi pada ekonomi digital Indonesia, sekaligus menjadi fondasi menuju masa depan dunia usaha yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan dinamis,” tambah Wilson Siahaan, Senior Director, Government Affairs and Strategic Development for Indonesia and Philippines, Ant International.
Program terbuka bagi pelaku UMKM perempuan yang telah menjalankan usaha minimal enam bulan, dengan kategori pendapatan bulanan Rp1–10 juta (ultra mikro) dan Rp11–30 juta (mikro). Pendaftaran dibuka pada 1–28 April 2026, dilanjutkan dengan rangkaian pelatihan dan pendampingan selama tiga bulan sebelum puncak program pada 30 Juni 2026.