Raih Rekor MURI! Dear Money, We Need to Talk: Saat Cerita Uang jadi Pelajaran Hidup
Mengelola keuangan bukan sekadar soal menghitung pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga memahami kebutuhan, menentukan prioritas, serta mengambil keputusan finansial yang tepat.
Berangkat dari pemahaman tersebut, BCA Digital meluncurkan buku antologi literasi keuangan berjudul Dear Money, We Need to Talk yang menghimpun 50 karya jurnalistik terbaik dari para jurnalis di Indonesia.
Peluncuran buku yang berlangsung di Perpustakaan Habibie & Ainun, Patra Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa, 13 Oktober 2026 ini sekaligus menjadi momen istimewa karena Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) memberikan penghargaan untuk kategori Buku Literasi Keuangan Karya Jurnalis Terbanyak.
Buku tersebut merupakan hasil kurasi terhadap 118 karya jurnalistik yang melibatkan pakar keuangan. Diterbitkan dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan (BIK), inisiatif ini menjadi bagian dari upaya mereka melalui program bluAcademy untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak.
Direktur Utama BCA Digital, Lanny Budiati, mengatakan bahwa setiap orang memiliki perjalanan finansial yang berbeda sehingga tidak ada satu formula yang bisa diterapkan kepada semua orang.
“Lewat buku ini, kami ingin menunjukkan bahwa mengelola keuangan bukan sekadar tentang angka, melainkan bagaimana kita mengambil keputusan yang lebih baik. Kami sangat mengapresiasi rekan jurnalis yang telah menghadirkan cerita pengalaman nyata ini agar edukasi finansial terasa lebih dekat dengan masyarakat,” ujar Lanny.
Cerita Nyata yang Dekat dengan Kehidupan Anak Muda
Menariknya, Dear Money, We Need to Talk tidak hanya membahas teori keuangan, tetapi juga mengangkat beragam persoalan yang akrab dengan kehidupan generasi Z dan milenial.
Mulai dari perjuangan menghadapi tantangan sandwich generation, strategi menabung atau soft saving, mengatur keuangan bersama pasangan sebelum menikah, menyiapkan dana darurat, hingga menyiasati pengeluaran sehari-hari tanpa kehilangan kesempatan menikmati masa muda.
Berbagai cerita tersebut diharapkan dapat membuat pembaca menyadari bahwa tantangan finansial yang mereka hadapi, juga dialami banyak orang lain. Dengan begitu, pembahasan mengenai uang tidak lagi terasa rumit atau menakutkan, tetapi menjadi percakapan yang lebih terbuka dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Head of Brand & Communications BCA Digital, Duardi Prihandiko, menilai karya jurnalistik memiliki peran penting dalam menyampaikan edukasi keuangan melalui pendekatan yang lebih manusiawi.
“Teori keuangan di atas kertas sering kali terasa kaku, tetapi cerita nyata di media terasa jauh lebih familiar dan menggugah kesadaran. Rekor MURI ini menjadi stempel validasi resmi bahwa karya jurnalistik rekan-rekan media memiliki dampak abadi dalam menemani masyarakat belajar mengelola uangnya,” ungkap Duardi.
Ia menjelaskan, gagasan penerbitan buku ini berawal dari keinginan mereka untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan. Jurnalis dipilih sebagai mitra karena mampu mengemas pengetahuan dan pengalaman menjadi cerita yang mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.
Sebelum diterbitkan, karya-karya tersebut juga melalui proses kurasi bersama pakar keuangan untuk memastikan materi yang disampaikan tetap relevan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Menjembatani Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan
Peluncuran buku ini juga menjadi respons terhadap tantangan literasi keuangan di Indonesia.
Berdasarkan data yang disampaikan, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61%, sedangkan indeks literasi keuangan berada di angka 69,57%. Selisih 24,04 poin persentase itu menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai.
Masyarakat mungkin sudah memiliki rekening atau menggunakan berbagai layanan keuangan digital. Namun, tanpa pengetahuan yang cukup, akses tersebut belum tentu membuat seseorang mampu mengambil keputusan finansial secara tepat.
Karena itu, peningkatan literasi keuangan perlu mencakup kemampuan memahami produk keuangan, mengelola anggaran, mempertimbangkan risiko, serta mengenali tawaran investasi ilegal dan berbagai modus penipuan.
Tantangan ini semakin penting bagi generasi muda yang mulai mandiri secara finansial dan dihadapkan pada beragam pilihan pengeluaran. Keinginan menikmati hiburan, menonton konser, bepergian, atau memenuhi kebutuhan pendidikan perlu diimbangi dengan perencanaan keuangan yang sesuai kemampuan.
Melalui bluAcademy, mereka berupaya melengkapi akses terhadap layanan keuangan dengan edukasi yang membantu masyarakat membangun kebiasaan finansial secara bertahap dan berkelanjutan.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, buku Dear Money, We Need to Talk tidak diperjualbelikan. Buku ini disiapkan sebagai materi edukasi publik dan akan didistribusikan ke berbagai sarana edukasi di Indonesia. Salah satu eksemplarnya juga diserahkan untuk menjadi koleksi Perpustakaan Habibie & Ainun.
Masyarakat dapat mengakses versi digital atau e-book secara gratis. Melalui kumpulan cerita nyata ini, diharapkan semakin banyak orang berani membicarakan persoalan keuangan, belajar dari pengalaman orang lain, dan menemukan cara mengelola uang yang sesuai dengan kebutuhan serta tujuan hidup masing-masing. Sebab, keuangan yang sehat tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga oleh kebiasaan dan keputusan yang diambil setiap hari.