Saat Proteksi Syariah Tak Hanya Melindungi Keluarga Tapi Juga Mengalirkan Kebaikan
Sebagai orang tua, rasa khawatir tentang masa depan keluarga kerap datang, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Tak jarang, sebelum tidur, muncul pertanyaan: sudah cukupkah perlindungan untuk anak-anak? Dalam keluarga Muslim, kekhawatiran itu pun sering berkembang, bukan sekadar tentang kecukupan, tapi juga apakah perlindungan itu sesuai dengan prinsip syariah dan bisa membawa manfaat sosial, seperti sedekah atau wakaf.
Akhmad Fadli, aktor, presenter dan ayah dari lima orang anak, menyoroti pentingnya perencanaan keuangan yang matang. “Sebagai orang tua, kita harus cerdas dan bijak mengelola keuangan. Biaya hidup meningkat, inflasi tinggi, sementara penghasilan sering kali tetap. Asuransi menjadi bagian dari perencanaan matang untuk pendidikan, kesehatan, dan warisan anak-anak, agar keluarga tidak kesulitan jika terjadi risiko,” ujarnya dalam sesi talkshow Akselerasi dan Proteksi Syariah di Azalia Hall, Jakarta, baru-baru ini.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, energi, dan transportasi membuat perencanaan finansial makin menantang. Data BPS menunjukkan standar hidup layak nasional naik 3,71% pada 2024, inflasi pangan 4,58% di 2025, dan inflasi Januari 2026 sudah mencapai 3,55%. “Kalau kita bicara soal uang, misalnya uang satu juta rupiah, sebenarnya capeknya sama untuk mendapatkan uang satu juta itu. Yang berbeda adalah cara menghabiskannya. Kalau dulu, uang satu juta mungkin bisa habis dalam waktu satu minggu. Tapi sekarang, habis dalam waktu hanya dua hari,” kata Fadli menggambarkan kondisi riil keluarga Indonesia.
Fadli mengakui bahwa pengeluaran setiap harinya makin besar. “Kebutuhan hidup, biaya pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga meningkat. Kita sebagai orang tua harus punya mindset yang cerdas untuk mengatur keuangan kita dengan baik,” katanya.
Bagi Fadli dan banyak orang tua lain, mempersiapkan perlindungan bukan berarti kurang tawakal, tapi bentuk ikhtiar agar anak-anak tetap punya pijakan kuat dalam kondisi apapun. “Lebih baik kita siapkan, supaya kalau ada apa-apa, tidak menyusahkan anak-anak,” tuturnya.
Dalam memilih asuransi, Fadli menekankan ia mempertimbangkan prinsip syariah, rekam jejak perusahaan, dan kemudahan klaim. Hal ini sejalan dengan kebutuhan keluarga Muslim yang menginginkan perlindungan finansial berbasis nilai dan keberkahan.
Literasi Syariah: Peluang dan Tantangan
Di tengah tantangan ekonomi, sektor keuangan syariah memang menunjukkan pertumbuhan positif. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat literasi keuangan syariah naik ke angka 43,42%. Namun, tingkat inklusinya masih 13,41%, artinya pemahaman masyarakat tentang produk syariah sudah naik, tapi kepemilikan dan pemanfaatannya masih perlu didorong.
“Literasi berarti pemahaman masyarakat terhadap produk proteksi, sementara inklusi adalah tingkat kepemilikan dan pemanfaatan produk tersebut. Keduanya harus berjalan seiring,” jelas Suswamela Zawawi, Operation Group Head Generali Indonesia. Faktor kepercayaan dan kemudahan akses, menurutnya, menjadi kunci agar keluarga Indonesia benar-benar memanfaatkan proteksi syariah.
Komitmen jangka panjang, reputasi perusahaan, serta pelayanan menjadi pertimbangan utama dalam memilih perlindungan, bukan sekadar harga. Hal inilah yang membangun kepercayaan masyarakat.
Solusi Syariah untuk Keluarga
Menjawab kebutuhan perlindungan yang sesuai dengan nilai keluarga Indonesia, perusahaan asuransi jiwa Generali Indonesia menghadirkan GEN Syariah Perlindungan Aman, yang merupakan produk perlindungan jiwa berbasis syariah yang memberikan manfaat bertumbuh, bertambah dan berkah. Tidak hanya menawarkan perlindungan jiwa, tetapi juga nilai tambah yang terus bertumbuh dan berkah berupa manfaat sosial yang dapat dirasakan lebih luas.
Rebecca Tan, Presiden Direktur dan CEO Generali Indonesia, mengatakan, “Kami melihat situasi ekonomi dan sosial saat ini. Harga kebutuhan pokok dan biaya hidup terus meningkat. Risiko kehidupan juga semakin kompleks. Di tengah biaya hidup yang naik dan tekanan finansial yang bertambah, berbagi kepada sesama menjadi semakin berat. Dalam situasi ini, kami menghadirkan solusi asuransi syariah yang memberikan perlindungan sekaligus mendukung keluarga Indonesia untuk terus bertumbuh dan berbagi kebaikan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Rebecca mengatakan bahwa mereka ingin setiap keluarga memiliki peace of mind dalam menjalani kehidupan, ibadah, sekaligus bisa berbagi untuk kebermanfaatan bagi banyak orang. “Perlindungan ini fleksibel dan adaptif, selaras dengan prinsip syariah dan kebutuhan masyarakat masa kini,” ujarnya.
Rebecca menjelaskan bahwa GEN Syariah Perlindungan Aman menawarkan fitur perlindungan yang bertumbuh hingga 250% selama masa asuransi, dengan peningkatan manfaat setiap lima tahun. Produk ini juga memberikan 110% manfaat tambahan jika peserta meninggal dunia saat menjalankan ibadah haji atau umrah. “Manfaat perlindungan yang terus bertumbuh memberikan rasa tenang selama menjalankan ibadah, sekaligus mendukung semangat berbagi kepada komunitas yang lebih luas,” jelas Rebecca Tan.
Bukan hanya perlindungan jiwa, ada juga asuransi tambahan kesehatan yang memberikan penggantian biaya perawatan rumah sakit, rawat jalan, dan rawat inap. “Bagi keluarga yang ingin menebar manfaat, produk ini juga memiliki fitur wakaf, di mana peserta dapat menyalurkan sebagian manfaat asuransi untuk kepentingan sosial melalui kerja sama dengan Dompet Dhuafa,” imbuh Suswamela Zawawi.
Dituturkan oleh H. Prima Hadi Putra, ST. M.Com, Direktur Lembaga Pengembangan dan Investasi Wakaf Dompet Dhuafa, manfaat sosial dari fitur wakaf produk ini telah nyata dirasakan, seperti pembangunan fasilitas kesehatan, ambulans, dan pengembangan UMKM di berbagai daerah. Jadi, masyarakat di luar pemegang polis pun bisa memperoleh manfaatnya. “Ini merupakan sebuah kontribusi nyata bagi ekosistem ekonomi dan sosial syariah di Indonesia,” imbuhnya.
Ahmad Fadli menambahkan, “Saya senang produk seperti ini lahir dari kebutuhan masyarakat, bukan sekadar keinginan perusahaan. Asuransi berbasis syariah seperti ini memberikan rasa aman dan manfaat universal, tidak hanya untuk Muslim. Saya senang ada unsur wakaf-nya. Saat kita sedang menjalani kehidupan sehari-hari, tiba-tiba ada pahala yang terus mengalir. Misalnya, kita tidak pernah merasa memberikan jasa ambulans kepada orang lain, tetapi ternyata melalui program wakaf ini, ada ambulans yang digunakan oleh masyarakat,” ujar Fadli tersenyum.
Achmad Zakaria selaku Sharia Training Head memaparkan bahwa distribusi produk asuransi dilakukan melalui ribuan tenaga pemasar berlisensi syariah yang tersebar di seluruh Indonesia. “Layanan konsultasi dan pembelian polis kini semakin mudah berkat aplikasi digital iPropose, yang memungkinkan konsultasi online, analisis kebutuhan proteksi, hingga pembayaran kontribusi secara praktis dan aman,” katanya.
Produk syariah membuktikan bahwa perlindungan finansial dapat berjalan seiring dengan nilai-nilai sosial dan spiritual. Dengan pendekatan yang edukatif dan manfaat yang terus bertumbuh, proteksi syariah bisa menjadi solusi yang relatable bagi keluarga Indonesia baik dalam menghadapi tantangan ekonomi, merencanakan masa depan anak, maupun menebar keberkahan lewat wakaf.