Tantrum, Meltdown, atau Overload? Kenali Perbedaannya Sebelum Merespons Anak
Di antara para ibu, mungkin ada yang alami situasi ini. Anak menangis keras karena tidak dibelikan mainan. Di lain waktu, ia menutup telinga di tempat ramai, lalu berteriak dan sulit diajak bicara. Dari luar, keduanya bisa terlihat sama dan sering langsung disebut tantrum.
Padahal, anak bisa saja sedang mengalami tantrum, overload, atau bahkan meltdown. Ketiganya membutuhkan respons yang tidak selalu sama. “Yang terlihat oleh orang tua adalah perilakunya. Tetapi sebelum merespons, kita perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya, apa pemicunya, dan apakah anak masih mampu mengendalikan respons,” ujar Diah Cahyaningrum, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam webinar Atelier of Minds bertajuk “Meltdown, Tantrum, atau Overload? Pahami Apa yang Terjadi Saat Anak Kewalahan dan Bagaimana Meresponsnya.”
Lalu, bagaimana membedakannya? Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua.
1. Tantrum sering berawal dari frustrasi
Tantrum umum terjadi pada masa kanak-kanak. Salah satu pemicunya adalah frustrasi, terutama ketika kemampuan anak untuk mengatur emosi dan menghadapi situasi sulit masih berkembang.
Kondisi sederhana juga bisa berpengaruh. Anak yang lapar, lelah, atau sedang sakit dapat memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap hal-hal yang biasanya masih bisa dihadapi. Karena itu, tantrum tidak selalu bisa dilihat hanya dari apa yang terjadi pada saat anak menangis. Orang tua perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya.
2. Overload terjadi ketika beban sudah terlalu banyak
Ada kalanya masalahnya bukan karena anak menginginkan sesuatu. Anak bisa mengalami sensory overload ketika input sensorik yang diterimanya terasa berlebihan. Ada pula emotional overload, ketika emosi terasa terlalu besar untuk dikelola, serta cognitive overload, saat terlalu banyak informasi atau tuntutan harus diproses sekaligus.
“Suara, cahaya, keramaian, perubahan aktivitas atau tuntutan tertentu bisa terasa jauh lebih intens bagi sebagian anak. Kita perlu belajar mengenali kapan anak mulai kewalahan, bukan menunggu sampai responsnya menjadi sangat besar,” kata Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Terapis Okupasi Atelier of Minds.
3. Saat meltdown, anak sudah kehilangan kendali
Meltdown merupakan respons ekstrem ketika anak sudah sangat kewalahan dan kehilangan kendali atas responsnya. Bentuknya bisa berbeda pada setiap anak. Ada yang menangis atau berteriak, memukul, menggigit, melempar barang, mencoba melarikan diri, atau menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan dirinya.
Saat meltdown, anak juga dapat mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan berpikir jernih. Ini menjadi salah satu perbedaan penting yang perlu dipahami orang tua. Saat anak sudah berada dalam kondisi tersebut, meminta penjelasan panjang atau terus memberikan instruksi justru dapat menambah beban yang harus diprosesnya.

4. Respons orang tua perlu disesuaikan dengan kondisi anak
Saat tantrum terjadi dan anak berada dalam kondisi aman, orang tua dapat tetap tenang, tidak langsung memberikan apa yang dituntut anak, menawarkan pilihan yang sesuai, dan mengajarkan cara lain untuk menyampaikan kebutuhan setelah situasi mereda.
Saat meltdown, prioritasnya berbeda. Pastikan anak aman dan kurangi tuntutan. Orang tua tidak perlu memaksa anak menjawab banyak pertanyaan ketika ia sedang berada di puncak kewalahan. Kalimat sederhana seperti “Kamu aman” atau “Aku ada untukmu” dapat digunakan sambil memberikan waktu bagi anak untuk kembali tenang.
5. Jangan berhenti ketika tangisan sudah selesai
Anak yang terlihat tenang setelah meltdown belum tentu sudah sepenuhnya pulih. Setelah mengalami respons yang intens, anak dapat merasa lelah dan memiliki toleransi yang lebih rendah. Materi Atelier of Minds menyarankan orang tua untuk memberikan waktu pemulihan, mengurangi tuntutan, dan membantu anak melakukan co-regulation. Bentuknya tidak harus rumit. Orang tua dapat berada di dekat anak, menawarkan aktivitas yang familiar atau menenangkan, serta menunggu sampai anak siap kembali beraktivitas.
Yang juga penting adalah melihat kembali apa yang terjadi sebelum episode tersebut. Apakah anak kurang tidur? Terlambat makan? Berada terlalu lama di lingkungan yang ramai? Menghadapi terlalu banyak tuntutan? Catatan sederhana mengenai pemicu dan pola perilaku dapat membantu keluarga memahami kebutuhan anak dengan lebih baik.
Lantas, Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?
Tantrum merupakan bagian yang dapat muncul dalam perkembangan anak. Orang tua bisa mempertimbangkan bantuan profesional ketika tantrum terjadi sangat sering atau sangat lama, menimbulkan risiko cedera pada anak atau orang lain, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari anak dan keluarga. Hal serupa berlaku ketika keluarga terus menghadapi episode overload atau meltdown dan kesulitan memahami pemicunya.
Psikolog dapat membantu melihat perkembangan emosi, perilaku dan kemampuan regulasi anak. Occupational therapist dapat membantu memahami bagaimana anak memproses input sensorik dan bagaimana hal tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari. Memahami penyebabnya dapat mengubah cara orang tua melihat situasi. Pertanyaannya tidak lagi hanya, “Bagaimana supaya anak berhenti menangis?”, tetapi juga, “Apa yang membuat anak saya kewalahan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membantunya?”
Salah satu sarana bantuan profesional yang bisa Moms temukan adalah Atelier of Minds (AOM), sebuah inclusive student care dan enrichment center di Jakarta Selatan, yang mendampingi anak, remaja, dan dewasa muda neurodivergent untuk membangun keterampilan yang bermakna dalam kehidupan sehari-hari.