Tes Darah Baru, Bantu Deteksi Alzheimer Lebih Dini, Kenali Gejalanya Sejak Awal
Ketika daya ingat mulai menurun, banyak orang menganggapnya sebagai bagian yang wajar dari proses penuaan. Padahal, penurunan daya ingat yang semakin mengganggu aktivitas sehari-hari, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan medis.
Kabar baiknya, kini hadir inovasi pemeriksaan yang dapat membantu dokter mengevaluasi penyakit Alzheimer dengan cara yang lebih minim invasif. Menyambut Bulan Kesadaran Alzheimer Dunia pada September 2026, Siloam International Hospitals bersama Roche Diagnostics Indonesia menghadirkan layanan pemeriksaan biomarker darah pTau 181 Plasma di Indonesia.
Tes ini menjadi salah satu inovasi diagnostik yang mendukung deteksi dan penegakan diagnosis Alzheimer secara lebih dini. Kehadirannya juga dinilai relevan dengan perubahan demografi Indonesia yang mulai memasuki era aging population, ketika jumlah penduduk lanjut usia telah melebihi 10 persen.
Cukup dengan Sampel Darah
Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia yang berkaitan dengan perubahan pada otak. Salah satu penanda penting yang berkaitan dengan penyakit ini adalah protein phosphorylated tau 181 atau pTau 181.
Kadar pTau 181 dalam plasma darah memiliki korelasi kuat dengan pembentukan plak amyloid di otak, yang merupakan salah satu indikator utama penyakit Alzheimer. Pemeriksaan pTau 181 Plasma memungkinkan evaluasi tersebut dilakukan melalui pengambilan sampel darah dari pembuluh vena di lengan, seperti pemeriksaan laboratorium pada umumnya.
Hal ini menawarkan pendekatan yang lebih minim invasif dibandingkan sejumlah pemeriksaan lanjutan yang selama ini dapat digunakan dalam proses evaluasi Alzheimer, seperti lumbar puncture untuk mengambil cairan serebrospinal atau pemeriksaan PET Scan.
Jangan Anggap Semua Pikun sebagai Hal Biasa
Menurut dr. Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N, SubSp.N.G.D.(K), Dokter Spesialis Neurologi dan Subspesialis Neurogeriatri & Demensia Memory and Aging Center, Siloam Hospitals Lippo Village, Alzheimer kerap baru terdeteksi ketika kerusakan sel otak sudah cukup parah.
Karena itu, perubahan daya ingat yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Konsultasi dengan dokter dapat membantu keluarga memahami kondisi yang dialami serta menentukan evaluasi dan penanganan yang sesuai.
Pesan ini menjadi semakin penting bagi keluarga yang mendampingi orang lanjut usia. Perubahan seperti semakin sering lupa, kesulitan menjalankan aktivitas yang sebelumnya mudah dilakukan, atau penurunan kemampuan kognitif yang mulai memengaruhi keseharian perlu diperhatikan dan didiskusikan dengan tenaga medis.
Teknologi untuk Mendukung Dokter dan Pasien
Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, dr. Grace Frelita, MM, mengatakan kebutuhan terhadap deteksi dan penanganan gangguan kognitif yang tepat semakin penting seiring Indonesia memasuki era aging population.
Menurutnya, pemeriksaan pTau 181 Plasma dapat menjadi salah satu inovasi diagnostik yang mendukung dokter dalam memperoleh informasi klinis yang lebih komprehensif mengenai kondisi pasien.
Sementara itu, Lee Poh Seng, Director, Diagnostics Division, PT Roche Indonesia, menyampaikan bahwa inovasi diagnostik diharapkan dapat membantu mengubah alur perawatan pasien. Pemeriksaan pTau 181 Plasma dirancang untuk membantu dokter dan spesialis neurologi dalam melakukan evaluasi awal penyakit Alzheimer secara lebih efisien.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak bukan hanya tentang mengingat banyak hal, tetapi juga memperhatikan ketika terjadi perubahan yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Semakin cepat perubahan tersebut dikonsultasikan kepada dokter, semakin jelas pula langkah evaluasi dan penanganan yang dapat dilakukan bersama.