ads

Tidak Setiap Flu dan Batuk Sama, Pentingnya Memahami Gejala Sebelum Memilih Swamedikasi

Dwi Retno - Jumat, 02 Oktober 2026
Actifed dan Ikatan Apoteker Indonesia mengajak para keluarga untuk memahami gejala sebelum memilih swamedikasi (Foto : Ist)
Actifed dan Ikatan Apoteker Indonesia mengajak para keluarga untuk memahami gejala sebelum memilih swamedikasi (Foto : Ist)
A A A

Musim hujan yang akan datang di Indonesia berpotensi membawa dampak lebih dari sekadar perubahan cuaca. Menurut BMKG, musim hujan diperkirakan akan dimulai pada bulan-bulan terakhir tahun 2026; sementara itu, menurut International Journal of Molecular Sciences, kondisi ini juga dapat memengaruhi mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan. Seiring dengan pola cuaca yang semakin sulit diprediksi, memahami gejala serta menerapkan perawatan swamedikasi yang tepat menjadi hal yang semakin penting.

Guna mendukung masyarakat Indonesia dalam menghadapi musim batuk dan pilek, Actifed, mengumpulkan 100 apoteker dari Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) dan para ahli kesehatan dalam sebuah acara edukasi. Acara ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai berbagai gejala batuk dan pilek, serta bagaimana setiap kondisi tersebut mungkin memerlukan pertimbangan penanganan yang berbeda. Acara ini juga menjadi momen peluncuran modul edukasi baru berjudul “Batuk dan Pilek dari Perspektif Pasien: Menjawab Keluhan Pasien dengan Edukasi dan Konseling Berbasis Self – Care”. Modul ini dirancang untuk membekali apoteker dengan panduan praktis guna mendukung pemberian konsultasi kepada masyarakat, mendorong penggunaan obat secara bertanggung jawab, sekaligus membantu mengidentifikasi kapan saran medis lebih lanjut diperlukan.

Dhanica MaeDumo-Tiu, General Manager Haleon Indonesia, mengatakan: “Tujuan kami untuk menghadirkan solusi kesehatan sehari – hari yang lebih baik dengan kemanusiaan, melampaui sekadar menyediakan produk – produk terpercaya. Komitmen ini juga mencakup upaya dalam membantu masyarakat dalam memberikan pengetahuan dan membangun kepercayaan diri yang mereka butuhkan dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan mereka.

“Kami ingin mendukung hal tersebut dengan membuat informasi mengenai swamedikasi untuk batuk dan pilek menjadi lebih mudah dipahami, khususnya di masa seperti sekarang ini, ketika masyarakat mungkin lebih cermat dalam memikirkan cara mempersiapkan diri serta merawat kesehatan diri sendiri dan keluarga,” imbuhnya.

Apoteker memegang peranan penting sebagai sumber informasi kesehatan yang mudah diakses oleh pasien dan keluarga. Kemudahan akses terhadap tenaga kesehatan di sekitar juga memberikan kesempatan bagi pasien maupun pendamping pasien untuk mendapatkan panduan sejak dini, terutama saat mereka merasa ragu mengenai gejala yang dialami atau langkah penanganan yang tepat untuk diambil.

Dr. apt. Lucy Novianti, MM, Penulis Modul sekaligus Ketua Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, mengatakan, “Kami sering menjumpai orang yang telah menentukan sendiri obat atau penanganan medis berdasarkan kebiasaan pribadi sebelumnya atau rekomendasi orang lain saat mengalami gangguan kesehatan umum, khususnya flu, batuk, pilek, atau masalah pernapasan ringan lainnya. Padahal, kondisi dan gejala yang dialami bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, begitu pula dengan tingkat keparahan gejalanya. “Melalui modul edukasi baru yang dikembangkan bersama antara Actifed dengan IAI, apoteker akan memiliki sarana panduan tambahan untuk membantu memberikan konseling kepada konsumen, mendukung praktik swamedikasi yang bertanggung jawab, sekaligus mengidentifikasi situasi yang memerlukan saran medis lebih lanjut,” lanjutnya.

Membahas tentang beragam gejala batuk dan pilek, dr. Ikhsanuddin Qoth’i, menjelaskan, “Gejala batuk dan pilek dapat muncul secara berbeda pada setiap orang, bergantung dengan variasi dalam hal karakteristik, intensitas, bahkan durasinya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memerhatikan perkembangan gejala mereka dari waktu ke waktu. Gejala yang menetap, bertambah parah, atau disertai tanda-tanda peringatan tertentu mungkin memerlukan perhatian lebih lanjut, karena bisa jadi berkaitan dengan masalah kesehatan pernapasan lainnya, seperti ISPA atau influenza. Dengan mengenali perubahan gejala sejak dini, pasien dapat lebih memahami kapan perawatan swamedikasi tepat untuk dilakukan dan kapan saatnya mencari saran dari tenaga kesehatan profesional atau dokter spesialis.”

Menjelaskan lebih lanjut tentang kolaborasi ini, Actifed juga meluncurkan “Beda Gejalanya, Beda Warnanya,” sebuah kampanye edukasi baru yang mendorong konsumen untuk memahami gejala mereka sebelum memilih metode perawatan swamedikasi yang paling tepat. Anindita Pranawestri, Senior Brand Manager OTC Haleon Indonesia, menyampaikan, “Selama bertahun-tahun, kami telah mendukung masyarakat Indonesia dalam menangani gejala batuk dan pilek. Melalui “Beda Gejalanya, Beda Warnanya,” kami ingin membantu konsumen memahami gejala mereka dengan lebih baik dan mengambil keputusan swamedikasi yang lebih tepat, khususnya terkait kesehatan pernapasan sehari-hari. Dengan menyajikan informasi kesehatan yang lebih sederhana dan mudah diakses, kami berharap dapat memberikan kepercayaan diri lebih bagi masyarakat dalam merawat diri sendiri dan keluarga mereka,” tutupnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Komitmen Perkuat Kualitas dan Keamanan Berhasil Raih Purity Award Dunia
img
Tidak Setiap Flu dan Batuk Sama, Pentingnya Memahami Gejala Sebelum Memilih Swamedikasi
img
Meski Baru Berusia 1 Tahun, Cokelat Lokal Sulawesi Sudah Jadi Perbincangan di Dunia Kuliner
img
Dengan Fitur Kontrol Orang Tua, Moms Bisa Atur Privasi Remaja Di Aplikasi Pesan Instan