7 Jebakan Kebiasaan Finansial Gen-Z yang Sering Dianggap Sepele
Gen Z dikenal melek teknologi, cepat belajar, dan adaptif. Tapi ketika bicara soal keuangan, banyak dari mereka menghadapi masalah yang sama: gaji cepat habis, tabungan tak kunjung jadi, dan resolusi finansial selalu berhenti di tengah jalan. Setiap awal tahun, niat menabung dan mengatur keuangan terasa kuat, namun sering menemui kegagalan sebelum pertengahan tahun.
Faktanya, berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) Desember 2025, proporsi pendapatan yang disimpan (saving to income ratio) sebesar 14,9 persen, meningkat tipis dibanding bulan sebelumnya, tetapi masih jauh dari porsi konsumsi yang mencapai 74,3 persen. Kebiasaan konsumtif masih tinggi karena mudahnya belanja di era serba digital: satu klik langsung checkout belanja, satu swipe bayar, dan satu notifikasi promo bisa langsung menguras saldo.
Tak heran, survei Forbes Health mencatat resolusi Tahun Baru rata-rata hanya bertahan sekitar 3,7 bulan. Jika kamu Gen Z yang ingin resolusi keuangan 2026 benar-benar jalan, kenali dulu 7 kesalahan paling umum yang sering menjebak, beserta solusi realistisnya:
Kebanyakan pasang target sekaligus
Ingin menabung, investasi, traveling, upgrade gadget, dan tetap nongkrong. Akhirnya, semua cuma jadi wacana. Solusinya sederhana: fokus 1–3 prioritas finansial saja. Untuk tahap awal, dana darurat, dan kontrol belanja kamu sudah lebih dari cukup.
Resolusi tanpa angka
“Lebih hemat” atau “lebih rajin nabung” terdengar seperti niat baik ya, tapi tanpa angka, tidak pernah jelas apakah kamu sudah berhasil. Ubah target kamu menjadi konkret, misalnya Rp300.000–Rp500.000 per bulan atau 10% dari penghasilan, agar progres bisa dilacak.
Menabung menunggu sisa
Ini kesalahan klasik Gen Z yang penghasilannya belum stabil. Kalau menunggu akhir bulan, tabungan hampir pasti nol. Solusinya: menabung di awal, begitu gaji atau uang masuk. Auto-transfer membantu tabungan kamu berjalan dengan satset.
Semua uang dicampur di satu rekening
Saldo terlihat “masih aman”, padahal isinya campur aduk antara uang jajan, tagihan, dan tabungan. Pisahkan rekening berdasarkan fungsi agar otak lebih sadar mana uang yang boleh dipakai dan mana yang sebaiknya tidak kamu sentuh.
Kamu bisa memanfaatkan fitur seperti fitur Celengan dari Amar Bank. Lewat fitur Celengan, kamu dapat memisahkan tabungan sesuai tujuan, dilengkapi pengingat dan auto-debit agar proses menabung jadi lebih rapi dan disiplin.
Extra income sering dianggap “Free Money”
Bonus, THR, atau side hustle sering dianggap uang tambahan yang sah untuk dihabiskan. Padahal, ini kesempatan emas mempercepat target finansial. Mengalokasikannya ke tabungan atau deposito membuat uang kamu lebih aman dari godaan yang impulsif.
Kalau kamu ingin menjaga dana ekstra agar tidak mudah terpakai, gunakan deposito untuk membantu “mengunci” dana dalam jangka waktu tertentu. Ditambah lagi, kamu bisa buka rekening digital dengan mudah tanpa saldo minimum, sehingga mulai menata keuangan terasa lebih ringan.
Belum punya dana darurat
Saat laptop rusak atau tiba-tiba sakit dan harus cek ke dokter, semua rencana langsung buyar. Dana darurat memberi ruang bernapas agar kamu tidak mengorbankan tujuan jangka panjang.
Dan untuk kamu yang masih bingung menentukan besaran dana darurat, fitur Saving Insight dapat membantu menghitung kebutuhan dana darurat ideal berdasarkan pemasukan dan pengeluaran kamu.
Menunda investasi karena merasa belum siap
Banyak Gen Z menunggu gaji besar atau kondisi ideal. Padahal, mulai kecil jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Patokannya sederhana: mulai dari sekitar 10% penghasilan atau kamu bisa alokasikan mulai Rp300.000 - 500.000 per bulan, lalu kamu tingkatkan perlahan, ini disesuaikan dengan kemampuan keuangan kamu juga, ya.
Buat Gen Z, resolusi keuangan bukan soal bagaimana menjadi “dewasa berfinansial” dalam sekejap. Kuncinya adalah membangun sistem yang realistis dan konsisten. Fokuskan prioritas, gunakan angka, dan kunci kebiasaan kamu lewat pemisahan pos serta otomatisasi.