ASI Lancar, Ibu Lebih Tenang: Peran Pompa ASI bagi Ibu Modern di Tengah Aktivitas Padat
Menyusui bukan sekadar proses memberi makan bayi, tapi juga perjalanan belajar bagi ibu. Di balik manfaat besar ASI untuk tumbuh kembang si kecil, ada banyak tantangan yang sering tidak terlihat—mulai dari produksi ASI yang naik turun, rasa lelah, hingga perubahan emosi setelah melahirkan. Memahami dasar-dasar menyusui bisa membantu ibu menjalani fase ini dengan lebih tenang dan percaya diri.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih berada di kisaran 66–67 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih ada ibu yang menghadapi berbagai kendala dalam memberikan ASI secara optimal, terutama saat harus kembali beraktivitas setelah melahirkan.
Pakar Laktasi, Jamilatus Sadiyah menjelaskan, salah satu kunci utama produksi ASI adalah prinsip “supply and demand”. “Semakin sering ASI dikeluarkan, baik melalui menyusui langsung atau pumping, produksi akan tetap lancar. Sebaliknya, kalau jarang dikeluarkan, tubuh akan ‘mengira’ ASI tidak dibutuhkan, sehingga produksinya berkurang,” jelasnya dalam acara talkshow bertajuk “Empowering Modern Kartini: Celebrating Strength, Embracing Freedom” di Aether Jakarta (21/4).
Wanita yang biasa disapa Mila ini menambahkan bahwa kondisi fisik dan emosional ibu sangat berpengaruh. “Stres atau rasa sakit bisa menghambat hormon oksitosin, yaitu hormon yang membantu pengeluaran ASI. Jadi walaupun ASI ada, keluarnya bisa jadi lebih sulit,” ujarnya.
Tak hanya itu, praktik mixed feeding (ASI dan susu formula bergantian) juga bisa memengaruhi produksi. Ketika frekuensi menyusui berkurang, rangsangan ke tubuh ibu ikut menurun. Akibatnya, produksi ASI pun bisa ikut berkurang. Sementara itu, saat proses penyapihan dimulai, tubuh secara alami akan mengurangi produksi karena tidak ada lagi “permintaan”.
Tanda Bayi Sudah Cukup ASI
Banyak ibu merasa cemas apakah ASI yang diberikan sudah cukup. Padahal, ada beberapa tanda sederhana yang bisa diamati sehari-hari.
- Pertama, dari berat badan. Setelah sempat turun di minggu pertama (yang masih tergolong normal), berat badan bayi akan kembali naik dan stabil mengikuti grafik pertumbuhan.
- Kedua, dari frekuensi buang air kecil (BAK). Setelah usia enam hari, bayi yang cukup ASI biasanya pipis minimal enam kali sehari dengan warna urin jernih atau kuning muda.
- Ketiga, dari buang air besar (BAB). Perubahan warna dari gelap menjadi kuning keemasan serta tekstur yang lebih lembek menandakan ASI sudah terserap dengan baik.
“Bayi yang cukup ASI biasanya juga terlihat puas setelah menyusu, tidur cukup tenang, dan aktif saat bangun,” tambah Mila.
Pentingnya Konsistensi dan Manajemen ASI Perah
Bagi ibu yang bersiap kembali bekerja, manajemen ASI perah (ASIP) menjadi hal penting. Disarankan mulai menabung ASI sekitar 1–2 minggu sebelum kembali beraktivitas, agar memiliki cadangan dan mengurangi stres.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain penggunaan wadah khusus, pemberian label tanggal dan jam, serta menjaga suhu penyimpanan tetap stabil. ASI juga tidak dianjurkan dipanaskan terlalu tinggi atau menggunakan microwave karena dapat merusak kandungan nutrisinya.
Menurut Mila, “Kunci dari keberhasilan menyusui adalah konsistensi dan kenyamanan. Banyak ibu menghadapi kendala seperti rasa tidak nyaman, kelelahan, atau keterbatasan waktu, yang akhirnya memengaruhi frekuensi menyusui maupun pumping.”
Ia menekankan bahwa pendekatan yang mendukung kenyamanan ibu sangat penting. “Ketika ibu merasa lebih nyaman dan memiliki fleksibilitas dalam mengatur waktu, peluang untuk mempertahankan ASI eksklusif juga menjadi lebih besar, bahkan bagi ibu yang aktif atau bekerja.”
Kesehatan Mental Ibu Tak Kalah Penting
Selain aspek fisik, kondisi mental juga berperan besar. Psikolog keluarga, Pritta Tyas Mangestuti, M.Psi, Psikolog, mengingatkan bahwa masa setelah melahirkan sering diwarnai perubahan emosi. “Ibu perlu menyadari perubahan emosi, seperti mudah sedih, marah, atau lelah. Ini wajar, tapi penting untuk dikenali, bukan diabaikan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti munculnya pikiran tidak rasional, seperti merasa menjadi ibu yang tidak cukup baik. “Pikiran seperti ini sering muncul, tapi belum tentu benar. Penting untuk disadari agar tidak terlalu memengaruhi diri,” tambahnya.
Yang tak kalah penting adalah self-compassion atau berbelas kasih pada diri sendiri. Istirahat saat lelah, meminta bantuan, dan tidak memaksakan diri menjadi sempurna adalah bagian dari merawat diri. “Perlakukan diri sendiri seperti kita memperlakukan orang yang kita sayangi,” ujarPritta.
Teknologi Pompa ASI Handsfree untuk Ibu Modern
Di tengah berbagai tantangan tersebut, inovasi teknologi mulai hadir untuk membantu ibu menjalani proses menyusui dengan lebih nyaman agar bisa memberikan ASI kepada bayi secara optimal, terutama bagi ibu yang harus kembali bekerja dalam waktu singkat setelah melahirkan. Dalam momentum Hari Kartini, eufy—sub-brand dari Anker Innovations—secara resmi meluncurkan kategori produk bayi terbarunya di Indonesia melalui acara New Product Launching yang digelar di Aether Jakarta (21/4).
Peluncuran ini menandai kehadiran pompa ASI handsfree dengan teknologi terapi hangat HeatFlow™, yang pertama kali diperkenalkan secara global pada 2024 dan kini resmi hadir di Indonesia sebagai bagian dari solusi menyusui modern.
Sebagai pionir di kategori ini, perangkat ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi ibu, terutama yang memiliki mobilitas tinggi, sehingga tetap dapat beraktivitas tanpa terganggu proses pumping.
Berbeda dari pompa ASI konvensional, desain handsfree memungkinkan ibu tetap bergerak dan beraktivitas tanpa harus terganggu. Perangkat pompa ASI handsfree ini juga dilengkapi Smart App yang membantu mengatur tingkat panas, ritme tarikan, hingga frekuensi pumping, sekaligus memudahkan pencatatan dan perencanaan sesi secara lebih terstruktur.
Teknologi HeatFlow™ yang dihadirkan juga menggunakan pendekatan berbasis sains dan telah divalidasi oleh lebih dari 100 konsultan laktasi bersertifikasi internasional (IBCLC), menunjukkan manfaatnya dalam meningkatkan kenyamanan sekaligus efektivitas proses menyusui.
Di pasar global, pompa ASI handsfree ini mendapat respons positif dan menjadi salah satu produk dengan penjualan teratas di kategori Electric Breast Pump dalam beberapa ajang penjualan di platform Amazon sejak peluncurannya di Amerika Serikat pada 2024.
Alex Woo, Country Go To Market Manager Anker Innovations Indonesia, mengatakan, “Kami melihat kebutuhan ibu modern yang ingin tetap produktif tanpa harus mengorbankan peran mereka dalam memberikan ASI terbaik bagi anak. Melalui inovasi seperti HeatFlow™, kami menghadirkan solusi yang tidak hanya praktis, tetapi juga memberikan kenyamanan lebih dalam proses menyusui.”
Senada dengan itu, Vini Millatina Urfani, Country Brand Manager Anker Innovations, menegaskan bahwa peran ibu dan karier seharusnya bisa berjalan beriringan. “Kami percaya bahwa menjadi ibu dan berkarier bukanlah dua pilihan yang saling menghilangkan. Dengan pompa ASI handsfree, kami ingin membantu ibu Indonesia tetap bisa memberikan ASI secara optimal tanpa mengorbankan kenyamanan maupun produktivitas mereka,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa inovasi ini merupakan bagian dari semangat empowering motherhood, di mana ibu tetap dapat menjalankan peran ganda secara seimbang tanpa harus memilih salah satunya.
Sebagai bagian dari upaya memperluas akses, eufy juga menjalin kemitraan eksklusif dengan Mothercare untuk penjualan flagship model pompa ASI, yaitu S1 Pro dan E20, yang mulai tersedia pada Mei 2026.
Kartika Tirta Putri, Marketing General Manager PT Multitrend Indo Tbk (Mothercare), menyampaikan, “Kami melihat kebutuhan ibu modern yang semakin dinamis, terutama dalam menyeimbangkan antara aktivitas dan peran sebagai ibu. Melalui kemitraan ini, kami ingin menghadirkan solusi yang relevan sekaligus memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam perjalanan menyusui.”
Perjalanan menyusui setiap ibu berbeda. Ada yang berjalan mulus, ada pula yang penuh tantangan. Namun satu hal yang pasti, keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada niat, tetapi juga dukungan—baik dari lingkungan, pengetahuan, kondisi mental, hingga teknologi yang membantu.