Cara Atasi Anak Suka Berbohong
Mom Mira mendapati putrinya yang yang baru berusia 3 tahun, Ranti, sedang menangis kencang. Rino, putra sulungnya yang berusia 6 tahun, berdiri tak jauh dari Ranti. Ia hanya melihat adiknya itu menangis. Ketika menanyakan ada apa, Rino hanya mengangkat bahu, pertanda ia tidak tahu. Ranti lalu mengadu bahwa mainan ia direbut Rino yang langsung dibantah oleh Rino.
Ini sudah kesekian kalinya Rino berbohong dan tidak mengakui perbuatannya. Mom Mira tahu hal ini sebab ia pernah memergoki Rino sengaja merebut mainan adiknya dan membuatnya menangis. Meski sudah diberitahu untuk mengatakan hal sebenarnya, Rino masih suka berbohong. Tak hanya soal merebut mainan, beberapa kali Rino sering mengarang cerita yang berlebihan di luar fakta sebenarnya.
Mengapa Anak Berbohong?
Berbohong memang merupakan perilaku yang tidak baik. Perbuatan ini sebaiknya dihindari oleh anak-anak. Sebab, jika anak suka berbohong dan menjadi kebiasaan, bisa menjerumuskan mereka pada perilaku buruk lainnya. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?
Perlu Moms ketahui, ada beberapa alasan mengapa anak suka berbohong, antara lain: menutupi sesuatu agar tidak dimarahi atau mendapatkan hukuman, ingin membuat suatu cerita lebih seru, mendapat perhatian atau membuat dirinya terdengar lebih baik, ingin melihat bagaimana Anda merespons, menghindari menyakiti perasaan orang lain (bohong putih), dan sebagainya.
Dilansir dari Child Mind Institute, Matthew Rouse, PhD, seorang psikolog klinis mengatakan bahwa terkadang kebohongan terjadi secara tiba-tiba dan intens. “Ini adalah sesuatu hal yang baru dimana biasanya anak-anak jujur, namun tiba-tiba mereka berbohong tentang banyak hal,” katanya.
Kebanyakan orangtua menganggap anak-anak berbohong untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, menghindari konsekuensi, atau untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka lakukan. Ini adalah motivasi yang umum, namun ada juga beberapa alasan yang kurang jelas mengapa anak-anak mungkin tidak mengatakan yang sebenarnya.
Anak-anak yang kurang percaya diri, mungkin berbohong dan membuat cerita yang berlebihan agar terlihat lebih keren. Anak-anak yang depresi atau cemas mungkin berbohong karena mereka tidak ingin orang lain khawatir.
Terlepas dari apapun alasannya, anak tidak boleh dibiasakan untuk berbohong. Biasanya, anak akan lebih suka berbohong saat memasuki usia usia 4 - 6 tahun. Bahkan, pada usia ini, mereka sudah bisa berkata bohong disertai bahasa tubuh tertentu agar lebih meyakinkan, mulai dari ekspresi wajah hingga nada suaranya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak bisa saja belajar berbohong dengan labih baik tanpa ketahuan. Ini lah yang tidak bisa dibenarkan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Untuk mengatasi anak suka berbohong, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
Ketika Moms mendapati anak sedang berbohong, bereaksi lah dengan nada tenang dan dekati situasi tersebut sebagai kesempatan untuk mengajar. Moms bisa berkata, “Mama cukup yakin bukan itu yang sebenarnya terjadi, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?” Jika kebohongan yang dilakukan anak terasa menyakitkan, Moms bisa mencoba mengatakan, “ Bagaimana perasaanmu jika seseorang mengatakan hal itu kepadamu?”
Beri anak satu peringatan ketika Moms cukup yakin telah memergoki mereka berbohong. Misalnya, dengan tenang katakan, “Mama akan beri 1 lagi kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya. Jika kamu berbohong, kamu akan menerima konsekuensi tambahan.”
Jelaskan mengapa kebenaran itu penting. Jika kebohongan membahayakan anak, misalnya anak menyembunyikan korek api, pastikan anak memahami bahwa mengatakan kebenaran akan membantu Moms dan Dads menjaganya tetap aman.
Diskusikan Soal Jujur vs Berbohong
Berapa pun usia anak, penting untuk menjelaskan perbedaan antara berkata jujur dan berbohong. Namun perlu diingat bahwa hingga usia empat tahun, anak kecil belum sepenuhnya memahami perbedaan antara kebohongan dan kebenaran.
Ajarkan juga berbicara tentang mengatakan kebenaran versus bersikap sangat jujur, sama pentingnya. Anak-anak perlu belajar bahwa mereka tidak perlu mengatakan, “Bajumu jelek,” atau “Kamu punya jerawat di muka,” hanya karena itu jujur. Ajarkan anak sejak dini keterampilan sosial dengan penuh kasih sehingga ia bisa tahu bagaimana bertindak yang benar sesuai situasi.
Bicarakan dengan anak tentang potensi konsekuensi dari ketidakjujuran, seperti orang akan berhenti mempercayai apa yang kita katakan.
Jaga Nada Suara Tetap Tenang
Memang penting untuk menegaskan kembali apa konsekuensi ketidakjujuran. Namun fokuslah untuk mengajarkan tanggung jawab dan kejujuran, daripada menyalahkan atau mempermalukan anak kita. Tetaplah jaga nada bicara tetap tenang tapi tegas. Tindakan yang penuh kasih sayang akan membantu. Jika Moms marah, membentak, atau mengancam, anak mungkin akan merasa kurang nyaman untuk berterus terang dan kebohongan itu malah akan terus berlanjut. Semoga berhasil, Moms!