ads

Saat Tubuh Ringkih Mengajari Kita Arti Keteguhan: Kidung Pantang Menyerah dari Panggung Gita Citra Cita

Novita Sari - Kamis, 21 Mei 2026
Anak-anak pejuang kanker asuhan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), berdiri tegak membuka babak pertama pergelaran amal mulia bertajuk GITA CITRA CITA. Foto: Novi
Anak-anak pejuang kanker asuhan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), berdiri tegak membuka babak pertama pergelaran amal mulia bertajuk GITA CITRA CITA. Foto: Novi
A A A

Tirai megah panggung The Ballroom Djakarta Theatre, Thamrin, Jakarta Pusat  perlahan tersingkap pada Rabu malam, 20 Mei 2026. Suasana riuh mendadak hening berganti takjub saat sorot lampu hangat jatuh tepat ke tengah panggung. 

Di sana, berdirilah jemari-jemari kecil dan senyum-senyum polos yang menyembunyikan keteguhan luar biasa. Mereka adalah anak-anak pejuang kanker asuhan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), berdiri tegak membuka babak pertama pergelaran amal mulia bertajuk GITA CITRA CITA.

​Alunan musik mengalun syahdu, memecah kesunyian malam. Suara kekanak-kanakan namun sarat ketegasan mulai menggema, melantunkan bait-bait lagu "Jangan Menyerah". Di bawah pancaran lampu panggung, tampak jelas kepala-kepala mungil yang tak berambut—sebuah saksi bisu dari perjuangan panjang melawan zat kemoterapi. Namun, tatapan mata mereka tidak menyiratkan keputusasaan. 

Ketika lirik demi lirik terucap dari bibir mungil mereka, getaran emosi yang begitu hebat merambat ke seluruh sudut ruangan. Tidak sedikit dari sembilan ratus pasang mata penonton yang hadir tergenang air mata, larut dalam keharuan mendalam sekaligus kekaguman atas daya juang yang tiada tara.

​Kejutan emosional tak berhenti sampai di situ. Di tengah keheningan yang magis, seorang anak kemudian membawakan sebuah seni tutur cerita (storytelling) yang unik dan penuh makna mendalam: sebuah dongeng tentang mengapa bulu burung gagak berwarna hitam. 

Lewat narasi yang lugu namun teatrikal, sang anak mengisahkan bahwa warna hitam pekat burung gagak bukanlah simbol keburukan atau kedukaan. Sebaliknya, warna hitam itu melambangkan sebuah ketabahan tertinggi, kesetiaan untuk terus bertahan, serta kemampuan menyerap seluruh kegelapan malam demi memancarkan keindahan esok hari.

Storytelling dongeng tentang mengapa bulu burung gagak berwarna hitam. Foto: Novi
Storytelling dongeng tentang mengapa bulu burung gagak berwarna hitam. Foto: Novi

​Metafora gagak hitam itu seakan merefleksikan diri mereka sendiri. Di balik "kegelapan" vonis penyakit kanker yang mendera tubuh ringkih mereka, anak-anak ini adalah makhluk-makhluk paling tabah yang sedang menyerap segala kepedihan, untuk kemudian diubah menjadi seberkas cahaya harapan yang benderang. 

Melalui nyanyian dan dongeng pembuka ini, mereka tidak sedang meminta belas kasihan, melainkan sedang menularkan energi kehidupan yang luar biasa kepada siapa saja yang menyaksikannya.

Kepedulian yang Diterjemahkan Menjadi Aksi Nyata

​Pergelaran kolaboratif yang dipersiapkan matang selama sepuluh bulan ini merupakan sebuah mahakarya amal yang digagas oleh Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung. Sinergi kokoh dari 250 penampil di atas panggung serta 25 anggota tim produksi berhasil mewujudkan sebuah pergelaran musikal 10 babak yang megah.

​Dihadiri oleh para tokoh masyarakat, filantropis, mitra, dan khalayak luas, panggung malam itu bukan sekadar menyajikan hiburan artistik kelas atas, melainkan murni menjadi medium aksi nyata. 

Ketua YKAKI, Ira Soelistyo, dalam keterangannya menyatakan bahwa malam ini adalah bukti nyata bahwa solidaritas dapat menjadi kekuatan magis bagi anak-anak pejuang kanker.

​“Malam ini bukan hanya tentang sebuah pergelaran, tetapi tentang ribuan doa, kepedulian, dan harapan yang dipersatukan. Setiap dukungan yang hadir membantu anak-anak pejuang kanker merasa tidak berjuang sendirian. Ini adalah tentang kehidupan, martabat, dan masa depan mereka,” ujar Ira Soelistyo penuh rasa syukur.

​Dana yang berhasil dihimpun melalui kegiatan fundraising sepanjang acara ini seluruhnya akan disalurkan demi menjamin keberlanjutan layanan YKAKI. 

Sebagaimana kita ketahui, kanker pada anak sangat berbeda dengan kanker pada orang dewasa. Ini bukan soal gaya hidup, bukan karena apa yang mereka makan, dan sering kali bukan sesuatu yang bisa dicegah.

Ketika seni menjadi bahasa kemanusiaan. Foto: Novi
Ketika seni menjadi bahasa kemanusiaan. Foto: Novi

​Di sinilah YKAKI hadir sejak tahun 2006 di berbagai kota di Indonesia sebagai "rumah kedua". Melalui program Rumah Kita, anak-anak dan keluarga memiliki tempat tinggal sementara yang layak selama pengobatan. Melalui program Sekolahku, anak-anak tetap bisa belajar dan merajut mimpi meski tengah berjuang melawan sakit. Ditambah pendampingan psikososial serta dukungan transportasi, YKAKI menjadi jembatan kokoh yang menemani mereka agar tidak merasa berjalan sendirian menuju masa depan.

Ketika Seni Menjadi Bahasa Kemanusiaan

​Sebagai penggagas kegiatan, President Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung, Martha Haliman dalam kata sambutannya menegaskan bahwa kepedulian menjadi lebih bermakna ketika diwujudkan bersama. Semangat pelayanan "We Serve" yang diusung Lions Club tercermin penuh dari antusiasme luar biasa dari para mitra, donor, dan tamu undangan.

Sang penggagas kegiatan, President Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung, Martha Haliman. Foto: Novi
Sang penggagas kegiatan, President Lions Club Jakarta Jaya Sunter Agung, Martha Haliman. Foto: Novi

​Senada dengan itu, Poppy Hayono Isman selaku Pencipta Karya Kreatif GITA CITRA CITA menyampaikan bahwa seluruh pergelaran dirancang bukan hanya untuk menghibur, tetapi menyentuh batin dan menggerakkan perubahan. Konsep pertunjukan membawa audiens menelusuri perjalanan panjang dari perjuangan menuju harapan yang benderang.

Budi Widiastuti Suharto, Manajer Produksi Pergelaran, menekankan bahwa setiap elemen artistik malam ini disusun untuk memperkuat pesan kemanusiaan.

“Produksi ini dibangun bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi sebagai narasi bersama tentang daya juang, cinta, dan solidaritas. Kami berharap setiap orang yang hadir pulang membawa bukan hanya kesan artistik, tetapi dorongan untuk ikut ambil bagian,” ucapnya.

Gerakan Bersama untuk Anak Indonesia

Pergelaran malam ini menghadirkan sejumlah tokoh dan musisi, di antaranya Prof. Aru Wisaksono Sudoyo, Ario Djatmiko, Eddy Tobing, Hayono Isman, Marlinda Adam, komunitas paduan suara, survivor kanker anak, serta para relawan dan pendukung yang bergabung secara sukarela demi misi kemanusiaan.

Gerakan bersama untuk anak Indonesia. Foto: Novi
Gerakan bersama untuk anak Indonesia. Foto: Novi

Selain menjadi malam apresiasi seni, GITA CITRA CITA menjadi ajakan terbuka bagi publik untuk memperkuat dukungan terhadap anak-anak dengan kanker melalui donasi dan keterlibatan berkelanjutan.

​Malam kian larut di The Ballroom Djakarta Theatre, dan pergelaran pun ditutup dengan syahdu lewat penampilan Grand Finale lagu "Tanah Airku". Riuh tepuk tangan bergemuruh, namun api harapan yang dinyalakan oleh anak-anak pejuang kanker bersama YKAKI malam itu dipastikan tidak akan padam. 

Pergelaran boleh usai, tetapi gerakan gotong royong kemanusiaan untuk mengantarkan anak-anak Indonesia menuju masa depan yang cerah dan bermartabat, baru saja memperkuat langkahnya.

“Malam ini membuktikan bahwa harapan bisa dinyalakan ketika banyak tangan bergandengan. Ini bukan akhir dari sebuah pertunjukan, tetapi penguatan dari sebuah gerakan,” tutup Ira Soelistyo.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Saat Tubuh Ringkih Mengajari Kita Arti Keteguhan: Kidung Pantang Menyerah dari Panggung Gita Citra Cita
img
Kerja Lebih Produktif, Quality Time Lebih Nyaman dengan Lampu yang Tak Hanya Terang Tapi Nyaman di Mata
img
Berbagi Kesejukan, Kampanye 3-2-1 Berangkatkan Marbot dan Pemenang Kejutan Tutup Botol Ramadan ke Tanah Suci
img
Dua Dekade Bantuan Riset: Dukung Peneliti Muda dan Inovasi Pangan Berkelanjutan