Dua Dekade Bantuan Riset: Dukung Peneliti Muda dan Inovasi Pangan Berkelanjutan
Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah komitmen. Di tengah dinamika bangsa, bahkan saat badai pandemi COVID-19 melanda beberapa tahun lalu, sebuah asa tidak pernah surut: memastikan kedaulatan pangan Indonesia tetap berdiri kokoh.
Semangat luar biasa inilah yang membuncah pada Perayaan 20 Tahun Indofood Riset Nugraha (IRN) dan temu kangen di Restaurant Habitate, Jl. Setia Budi Utara Raya No.5, Kuningan, Karet Kuningan, Jakarta Selatan pada Selasa, 19 Mei 2026 yang mempertemukan para peneliti muda, alumni, dan jajaran tim pakar senior, baik tatap muka maupun yang hadir secara online.
“Tahun ini, pelaksanaan program bantuan riset memasuki usia ke-20 tahun, sebuah wujud nyata komitmen kami untuk mendukung semangat generasi peneliti muda Indonesia. Bertepatan dengan momentum Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), kami berharap program ini dapat terus membangkitkan semangat peneliti muda menjadi scientific-preneur yang inovatif. Mereka diharapkan siap berkontribusi bagi masyarakat, khususnya dalam mengembangkan potensi pangan lokal menjadi solusi dan peluang usaha yang berdampak," ujar Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk dalam kata sambutannya.
Menurut Indrayana, program yang awalnya diinisiasi pada tahun 1998 untuk berfokus pada komoditas gandum dan tepung terigu ini, bertransformasi sejak tahun 2006 menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa dari seluruh pelosok negeri. Fokusnya kini meluas, menantang para peneliti muda untuk menggali potensi pangan fungsional berbasis kearifan lokal yang melimpah dari Aceh hingga Papua.
Selama dua dekade pelaksanaannya, program ini telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa di lebih 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, membentang mulai Aceh hingga Papua.
Di tengah dinamika zaman, konsistensi program ini membuktikan bahwa investasi pada manusia (building human capital) adalah harga mati demi mewujudkan ketahanan pangan (food security) sekaligus ketahanan gizi (nutrition security) bagi masyarakat.
Bukan Sekadar Dana
Satu hal mendasar yang membedakan program bantuan riset ini dengan program lainnya adalah kehadiran sistem pendampingan yang intensif. Mahasiswa tidak hanya dilepas dengan dana penelitian, melainkan dibimbing langsung oleh para pakar yang memiliki komitmen tinggi dalam menumbuhkan bibit-bibit peneliti baru.
Kisah nyata mengenai dampak transformatif program ini tergambar jelas dari perjalanan seorang alumni IRN tahun 2004 yang kini menjadi Guru Besar ITB, Prof. Dr. Fenny Martha Dwivany.
Fenny pun bercerita, saat pulang dari Melbourne University sebagai fresh graduate di bidang biologi molekuler, ia sempat gamang menghadapi keterbatasan fasilitas alat riset di dalam negeri.
"Ide awal muncul saat saya melihat pedagang pisang lewat di depan rumah. Seorang pedagang pisang keliling dengan kondisi dagangan pisang yang kulitnya mencokelat dan berbintik hitam. Saya tergerak untuk membantu meminimalkan kerugian pascapanen dan saya pun memberanikan diri mengajukan proposal riset mengenai studi molekuler pascapanen pisang melalui program bantuan dana ini," tutur Fenny.
Siapa sangka, pendanaan awal tersebut menjadi fondasi karier yang luar biasa. Penelitian terhadap pisang, dimana Indonesia merupakan pusat keanekaragaman dunia dengan lebih dari seribu kultivar, terus ditekuni secara konsisten selama bertahun-tahun.
Konsistensi tersebut mengantarkannya meraih gelar Guru Besar di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2022. Tak hanya itu, Fenny juga berhasil menciptakan sebuah konsep Smart Village berbasis komoditas pisang yang mengintegrasikan kultur jaringan, teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga pemasaran digital. Inovasi lokal yang berakar di Bali ini kini telah menarik perhatian dunia internasional.
Senada dengan Fenny, Mariska Priscilla, alumni angkatan 2017 yang kini bergabung dalam tim Research & Development (R&D) Indofood, menilai pendampingan bersama tim pakar membentuk pola pikir yang lebih solutif, dimana riset tidak hanya dipandang sebagai teori, tetapi juga solusi yang relevan bagi kebutuhan industri dan masyarakat.
Kiprah para alumni juga meluas hingga ke tingkat global. Salah satunya Ratu Salsabila Astrakusuma, alumni angkatan 2023 yang saat ini tengah meneruskan kiprahnya sebagai scientific research enthusiast di Lille, Prancis.
“Program ini memberikan fondasi keberanian bagi saya untuk mengembangkan berbagai potensi pangan menjadi peluang inovasi yang berdaya saing,” kata Ratu yang hadir secara online.
Sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Indrayana mengaku program ini murni dirancang untuk memicu kreativitas mahasiswa, melatih mereka menyusun proposal yang kuat, menghadapi proses audit laporan yang kredibel, hingga melakukan publikasi ilmiah. "Skema utama program tidak diarahkan untuk kepentingan komersial industri penopangnya. Namun, jika dalam perjalanannya ditemukan riset yang memiliki potensi aplikatif yang sangat tinggi dan sejalan dengan kebutuhan pasar seperti penelitian pemanfaatan beta karoten pada sawit, standardisasi ragi tempe, hingga eksplorasi buah merah Papua, pihak industri tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama kemitraan khusus di luar skema reguler," jelas Indrayana.
Dari Laboratorium Menuju Meja Makan Keluarga
Bagi sebuah produk pangan, riset tidak boleh berakhir sebagai tumpukan kertas laporan di rak laboratorium. Pangan memiliki filosofi dampak yang nyata: ia baru dirasakan manfaatnya jika aman, bergizi, dan benar-benar dikonsumsi oleh masyarakat.
Ketua Tim Pakar IRN, Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc, menekankan pentingnya peran riset untuk memastikan produk pangan masa depan memenuhi standar emas industri.
"Pangan itu value-nya tidak sekadar mengenyangkan. Syarat dasarnya adalah aman (safe). Jika tidak aman, maka itu bukan makanan. Di samping aman dan bergizi untuk kesehatan, makanan juga harus memiliki aspek sensori yang baik yaitu rasa yang enak dan tekstur yang pas. Di sinilah peran riset dan kolaborasi industri masuk; memastikan inovasi mahasiswa bisa ditranslasikan menjadi produk nyata di pasar yang dinikmati masyarakat," ungkap Prof. Purwiyatno.
Menariknya, ruang lingkup penelitian pangan ini tidak melulu soal tabung reaksi. "Mahasiswa ditantang untuk melihat ekosistem pangan secara menyeluruh melalui pendampingan dari 8 pakar lintas disiplin ilmu, mulai dari teknologi pangan, sosial ekonomi pertanian, budidaya, peternakan, gizi kesehatan, kelautan, hingga genetika molekuler. Proposal yang mendalami strategi edukasi pangan sehat lewat media sosial atau aspek sosiologi pemasaran pangan lokal pun mendapatkan ruang apresiasi yang sama luasnya," terang Prof. Purwiyatno.
Dua puluh tahun perjalanan ini membuktikan bahwa langkah-langkah kecil yang diambil oleh para mahasiswa di bangku kuliah, melalui bimbingan yang tepat, mampu menjelma menjadi lompatan besar bagi kemandirian bangsa. Sebuah ikhtiar berkelanjutan untuk membuahkan kebaikan bagi sesama dan menjaga masa depan pangan Indonesia.
Kini, jejak tersebut diteruskan oleh ribuan alumni lain, mulai dari mereka yang berkarier di divisi R&D industri, hingga yang melanglang buana menjadi peminat riset ilmiah di Lille, Prancis. Program ini tidak sekadar memberikan bantuan dana, melainkan membekali mahasiswa dengan karakter scientific-preneur—ilmuwan yang tangguh, kritis, dan jeli melihat peluang usaha yang berdampak sosial.
Memasuki lembaran baru di tahun ke-20, kesempatan emas kembali dibuka bagi mahasiswa S1 di seluruh Indonesia yang sedang menyelesaikan tugas akhir atau skripsi di bidang penganekaragaman pangan. Rangkaian agenda untuk periode 2026–2027 telah disusun secara matang.
Bagi para mahasiswa yang memiliki ide segar untuk mengoptimalkan kekayaan alam daerahnya, informasi mengenai panduan pendaftaran dan ketentuan tema penelitian dapat diakses melalui situs resmi IRN. Mari jadikan riset akademis kamu sebagai solusi nyata yang menghadirkan kebaikan bagi meja makan keluarga Indonesia.