ads

Dari Belajar Jadi Berkoneksi, Saatnya Solopreneur Indonesia Naik Kelas

Novita Sari - Jumat, 04 September 2026
Menjadi seorang solopreneur berarti berani membangun bisnis dengan tangan sendiri. Foto: Ist
Menjadi seorang solopreneur berarti berani membangun bisnis dengan tangan sendiri. Foto: Ist
A A A

Menjadi seorang solopreneur berarti berani membangun bisnis dengan tangan sendiri. Mulai dari mencari ide, mengatur keuangan, memasarkan produk, hingga memastikan bisnis terus berjalan. Namun, perjalanan seorang founder tentu tidak harus dilakukan sendirian.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin dinamis, memiliki pengetahuan saja ternyata belum cukup. Koneksi, peluang kolaborasi, akses pasar, hingga dukungan finansial, juga menjadi bagian penting untuk membawa sebuah usaha tumbuh lebih jauh.

Inilah yang coba dijawab Bank Saqu melalui Solopreneur Society: The Founders Club. Program yang sebelumnya dikenal sebagai Solopreneur Academy ini berkembang menjadi sebuah growth ecosystem yang mempertemukan para founder dengan pengetahuan, jaringan bisnis, peluang kolaborasi, sekaligus solusi finansial.

Sejak 2024, program ini telah melibatkan lebih dari 1.000 pelaku usaha dari berbagai industri. Jika sebelumnya fokus utama berada pada pembelajaran dan penguatan fundamental bisnis, kini ruang tersebut diperluas menjadi tempat untuk terhubung, menemukan peluang, dan tumbuh bersama.

Perubahan ini bukan tanpa alasan. Laporan Striving to Thrive: The State of Indonesian Micro and Small Enterprises 2024/25 menunjukkan bahwa lebih dari separuh usaha mikro dan kecil yang mendapatkan dukungan bisnis dalam 12 bulan terakhir, mengalami peningkatan pendapatan. Dukungan tersebut antara lain berupa pendampingan, pelatihan finansial, digital marketing, hingga peer networking.

Artinya, ekosistem yang tepat bisa menjadi salah satu kunci penting bagi pelaku usaha untuk berkembang.

“Dalam dua tahun terakhir, kami melihat perjalanan para solopreneur terus berkembang. Seiring bisnis bertumbuh, kebutuhan mereka pun semakin luas. Selain pengetahuan dan pondasi bisnis yang kuat, mereka membutuhkan akses terhadap jaringan, peluang pasar, dan dukungan finansial yang sesuai dengan tahapan bisnisnya,” ujar Hendrik Komandangi, Relationship Banking Director Bank Saqu.

Menurutnya, melalui Solopreneur Society: The Founders Club, mereka ingin memberikan lebih banyak akses yang dapat membantu para founder membawa bisnisnya ke tahap berikutnya.

Bukan Sekadar Networking

Menariknya, Solopreneur Society: The Founders Club 2026 tidak hanya menghadirkan sesi berbagi ilmu. Program ini menggabungkan tiga elemen utama, yaitu industry insights, networking, dan business matchmaking yang dikurasi.

Para founder bisa mendapatkan wawasan langsung dari praktisi dan ahli mengenai berbagai tantangan serta peluang bisnis di empat kategori, yakni coffeepreneur, food & beverage (F&B), MICE, dan artificial intelligence (AI).

Namun, setelah mendapatkan ilmu, langkah berikutnya adalah bagaimana mengubah wawasan tersebut menjadi peluang nyata.

Disinilah business matchmaking menjadi bagian menarik dari program ini. Para founder dipertemukan dengan pelaku bisnis yang relevan berdasarkan kebutuhan dan potensi usaha masing-masing. Pertemuan tersebut diharapkan dapat membuka pintu untuk kerja sama, memperluas pasar, maupun menciptakan peluang bisnis baru.

Dari Komunitas Kopi hingga Solusi Finansial

Ekosistem juga diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai pelaku industri. Salah satunya adalah Otten Coffee, yang selama ini membangun ekosistem bagi para coffeepreneurs melalui produk, pengetahuan, dan komunitas.

Melalui strategic partnership, ekosistem tersebut dipertemukan dengan akses terhadap solusi finansial.

“Kami membangun ekosistem yang mendukung coffeepreneurs melalui produk, pengetahuan, dan komunitas. Kami melihat visi yang sejalan dalam membantu pelaku usaha untuk terus berkembang,” ujar Jhoni Kusno, CEO Otten Coffee.

Dukungan terhadap solopreneur pun tidak berhenti pada koneksi dan pengetahuan. Bank Saqu juga menghadirkan solusi finansial untuk membantu kebutuhan nasabah sesuai dengan tahapan perkembangan bisnisnya.

Salah satunya melalui Saku Kredit, fasilitas pinjaman dengan limit hingga Rp30 juta yang dapat digunakan secara fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Bagi pelaku usaha yang membutuhkan dukungan modal untuk operasional dan pengembangan bisnis, tersedia pula Kredit Modal Kerja bagi nasabah yang memenuhi kriteria.

Dengan pendekatan ini, perjalanan solopreneur tidak lagi hanya tentang bagaimana memulai bisnis, tetapi juga bagaimana membangun fondasi yang kuat, menemukan orang-orang yang tepat, membuka peluang baru, dan terus bertumbuh.

Dari belajar bersama, kini waktunya terhubung, menciptakan peluang, dan tumbuh bersama.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Ketika Proteksi, Investasi, dan Pensiun Saling Terhubung
img
Dari Belajar Jadi Berkoneksi, Saatnya Solopreneur Indonesia Naik Kelas
img
Rahasia Tetap Wangi Seharian Meski Anak Aktif Bermain dan Bereksplorasi
img
Dorong Gaya Hidup Sehat dan Aktif Lewat Lomba Lari