ads

Dari Kain Perca hingga Botol Plastik, Renjana Perca Ubah Limbah Menjadi Barang Mewah

Novita Sari - Sabtu, 15 Agustus 2026
Ki-ka: Kanina Hanindita, Andarina Sumarno (Co-founder & CFO Purana), Hanny, Nonita Respati, dan Arif Susanto. Foto: Novi
Ki-ka: Kanina Hanindita, Andarina Sumarno (Co-founder & CFO Purana), Hanny, Nonita Respati, dan Arif Susanto. Foto: Novi
A A A

Siapa sangka, potongan kain sisa dan serat dari botol plastik bekas, ternyata bisa diubah menjadi karya mode yang mewah dan bernilai tinggi?

Ya, di tangan para perancang kreatif, sampah tidak lagi dianggap sebagai barang buangan yang tidak berguna. Sebaliknya, sampah justru menjadi bahan utama untuk memadukan seni, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Lewat gerakan bertajuk "Renjana Perca", konsep sustainable luxury (kemewahan yang ramah lingkungan) bukan lagi sekadar wacana. Gerakan ini membuktikan bahwa kemewahan sejati adalah kemewahan yang ikut menjaga kelestarian Bumi.

Menyambut kemeriahan Hari Kemerdekaan Indonesia, perayaan karya kreatif ini resmi dibuka di Main Atrium East Mall (Lantai 1), Grand Indonesia, Jakarta. Rumah mode lokal menggelar acara ini untuk memperingati perjalanan 17 tahun mereka melalui pameran "PURANA 17: Renjana Perca" yang berlangsung dari tanggal 14 hingga 23 Agustus 2026.

Lebih dari sekadar pameran busana biasa, acara ini menjadi gerakan kebanggaan nasional. Ini adalah langkah nyata industri mode Indonesia untuk berani melangkah lebih jauh: tidak hanya sekadar ramah lingkungan, tetapi juga mendaur ulang bahan yang ada, menjadi karya baru yang terus berputar secara berkelanjutan (circular fashion).

Foto: Novi
Tidak hanya sekadar ramah lingkungan, tetapi juga mendaur ulang bahan yang ada. Foto: Novi

Harmoni 17 Tahun: Perjalanan Bersama Para Sahabat Karya

Didirikan pada 2009 oleh Nonita Respati selaku Founder & Chief Creative Officer, PURANA senantiasa memegang teguh filosofi Livable Art, sebuah komitmen untuk menjembatani seni rupa dan narasi budaya Nusantara ke dalam ruang keseharian melalui busana ready-to-wear.

Angka 17 menjadi kian istimewa karena dirayakan bersamaan dengan ulang tahun Grand Indonesia yang juga memasuki usia ke-17. Namun bagi Nonita, fondasi terbesar dari perjalanan hampir dua dekade ini adalah kolaborasi.

"Selama 17 tahun, perjalanan kami dalam menghidupkan filosofi Livable Art bukanlah perjuangan saya seorang diri. Kami tidak pernah berjalan sendirian," ungkap Nonita Respati, Jumat (14/08) di Grand Indonesia, Jakarta. "Para seniman yang terlibat dalam 'Renjana Perca' adalah sahabat karya yang telah tumbuh bersama kami, mulai dari talenta muda berbakat hingga maestro legendaris seperti Sutjipto Adi," jelasnya.

Nonita Respati, Founder & Chief Creative Officer PURANA. Foto: Novi
Nonita Respati, Founder & Chief Creative Officer PURANA senantiasa memegang teguh filosofi Livable Art. Foto: Novi

"Kami sangat bangga dapat menjadi tuan rumah bagi gerakan kebanggaan nasional ini. Bagi kami, pusat perbelanjaan adalah katalis yang mempertemukan komunitas, budaya, seni, dan inovasi sirkular. Melalui kolaborasi ini, kami menegaskan komitmen kami dalam mendorong penerapan praktik ekonomi sirkular dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan. Kami mengundang seluruh masyarakat untuk menjadi bagian dari perjalanan ini dan menyaksikan secara langsung bagaimana warisan budaya Indonesia dan zero-waste luxury dapat menyatu secara harmonis," ujar Kanina Hanindita, General Manager Marketing Communications & Operations, Grand Indonesia.

Melalui galeri museum The Living Archive, sisa-sisa kain perca yang disimpan, sejak 2009 tak dibiarkan menjadi limbah. Kain tersebut dirajut kembali menjadi kanvas memori oleh 12 seniman kolaborator lintas disiplin.

Masyarakat dapat menikmati lukisan di atas perca denim raksasa berukuran 6×6 meter karya maestro Sutjipto Adi, instalasi seni lukis Ruth Marbun dan Agan Harahap, flower doll khas Suanjaya Kencut, ekspresi medium serat kain karya Hana Surya (Threadapeutic), hingga eksperimen keramik bermotif cap PURANA oleh Francisca "Kika" Puspitasari (Kaloka Pottery).

Arsitektur Kardus Ajaib & Inovasi Waste-to-Weave

Kejutan visual tidak hanya datang dari jajaran busana dan lukisan, tetapi juga dari tata ruang pameran itu sendiri. Seluruh instalasi galeri pameran dibangun menggunakan 100% kardus daur ulang hasil rancangan seniman Arif Susanto, Founder & CEO Dus Duk Duk.

Dengan memanfaatkan 600 lembar kardus yang 30% hingga 40% di antaranya merupakan material daur ulang dari pameran ulang tahun ke-16, struktur ini berdiri megah tanpa balutan kayu, besi, paku, maupun palu. Seluruh konstruksi dirancang agar dapat dibongkar dan didaur ulang kembali demi mencapai target near-zero post-event waste.

"Bagi kami, kata yang selalu mewakili Dus Duk Duk adalah 'kardus ajaib'. Material kardus ini sangat luar biasa dan mungkin hampir selalu ada di setiap rumah tempat tinggal kita. Namun di tangan kami, material 100% serat daur ulang ini kami eksplorasi menjadi berbagai produk berguna, salah satunya adalah kursi yang menjadi andalan kami, yang juga menjadi cikal bakal nama DusDukDuk, yaitu kardus untuk duduk," kata Arif.

"Spesialnya di perhelatan 17 tahun bertema Renjana Perca ini, Bapak dan Ibu bisa merasakan langsung duduk di atas kursi rancangan kami yang murni terbuat dari serat kardus daur ulang. Konstruksi ini berdiri kokoh sepenuhnya tanpa bantuan bahan pendukung lain. Tanpa besi, tanpa kayu, bahkan tanpa paku maupun palu. Ini adalah bukti nyata bagaimana bahan yang sering dianggap biasa, bisa bertransformasi menjadi karya arsitektur yang berkelanjutan," tambah Arif.

Tak berhenti di situ, komitmen sirkularitas ini diperkuat lewat inovasi laboratorium tekstil "Waste-to-Weave". Melalui proses interaktif, limbah botol plastik daur ulang dicacah, diubah menjadi serat fiber menyerupai kapas, lalu dipintal menjadi benang tekstil bernilai tinggi yang siap diolah menjadi produk gaya hidup.

Foto: Novi
Limbah botol plastik daur ulang yang dicacah yang akan diubah menjadi serat fiber menyerupai kapas. Foto: Novi

Regal Bloom: Wajah Baru Mode yang Berkesadaran

Sebagai menu utama peragaan busana, diluncurkan koleksi Spring/Summer 2027 bertajuk Regal Bloom. Koleksi ini mempertemukan elegansi dekoratif klasik Eropa dengan keagungan warisan Nusantara.

Wastra batik dan corak tradisional diinterpretasikan ulang menjadi motif hibrida baru yang memikat, seperti:

  • Tartan Parang
  • Puspa Paisley
  • Bakung Melati
  • Merpati Pelangi dengan aksen tekstur Jacquard.

Dipresentasikan dalam palet warna segar seperti Sage, Magenta, Turquoise, Emerald, dan Earthy Neutrals, koleksi ini sepenuhnya diproduksi menggunakan serat botani premium 100% Bemberg (Asahi Kasei) dan TENCEL (Lenzing). Material ini tidak hanya bertekstur lembut dan sejuk di kulit, tetapi juga bersifat biodegradable (dapat terurai secara alami).

Kolaborasi Lintas Industri

Selama 10 hari penyelenggaraan, pengunjung disuguhkan beragam agenda menarik:

  • Eksklusif Fashion Runway: Menampilkan koleksi fashion dan tas.
  • Peluncuran PURANA KIDS: Debut perdana lini busana anak-anak yang diawali dengan ajang pencarian bakat model anak-anak.
  • Renjana Showcase Boutique: Area first-to-preview bergaya pekan mode internasional untuk pemesanan awal (pre-order).
  • 14 Workshop Komunitas: Sesi edukatif harian yang membuka kelas kriya upcycling, racikan jamu tradisional, seni table setting, hingga personal color analysis.
Alat pintal yang digunakan untuk menenun kain perca. Foto: Novi
Alat pintal yang digunakan untuk menenun kain perca. Foto: Novi

Keberhasilan gerakan kebudayaan ini terwujud berkat sinergi mitra strategis. Didukung oleh Grand Indonesia (Official Venue Partner), BRI (Official Banking Partner), Wonderful Indonesia, serta ParagonCorp & Wardah yang mengusung semangat Beauty Moves You sebagai Sustainability & Beauty Partner.

"Bagi kami, beauty bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat, tetapi juga tentang apa yang membuat kita terus bergerak, berekspresi, dan berkarya, sesuai dengan semangat Beauty Moves You. Semangat ini mencerminkan bagaimana beauty dapat memberikan rasa percaya diri untuk berani menjadi diri sendiri, mengeksplorasi kreativitas, dan melakukan hal-hal yang berarti. Kami percaya beauty dan fashion memiliki hubungan yang erat karena keduanya merupakan ruang ekspresi untuk menuangkan kreativitas. Melalui ‘Renjana Perca’, kami ingin merayakan semangat Kemerdekaan Berkarya dengan mendukung talenta dan karya lokal untuk terus tumbuh, berkembang, dan membawa cerita Indonesia semakin jauh," dukung Elsa Maharani, Senior Head of Strategic Brand Growth and Influence, for Halal, Teens, Emerging Beauty and Personal Care, ParagonCorp.

"Tidak ada kata “tak bisa”, yang ada hanyalah kata “tak mau”,” tandas Hanny, General Manager, Vicenza (PT Rindang Sakti Persada).

Melalui pameran ini, industri mode Indonesia membuktikan bahwa kemewahan (luxury), nilai seni tinggi, dan tanggung jawab terhadap kelestarian Bumi dapat berjalan berdampingan, menciptakan warisan karya yang mekar secara berkelanjutan.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dari Kain Perca hingga Botol Plastik, Renjana Perca Ubah Limbah Menjadi Barang Mewah
img
Bukan Lagi Olahraga Bapak-Bapak, Golf Kini Disukai Gen Z hingga Pegolf Perempuan
img
60 Tahun Inovasi Berbalut Tradisi: Dari Mobil Kepresidenan Tiongkok Hingga SUV Listrik Modern di Indonesia
img
Lebih dari 40 Kuliner Legendaris dan Otentik dari Berbagai Penjuru Indonesia Hadir dalam Satu Destinasi Kuliner untuk Memeriahkan HUT RI ke-81