Dari Kantor ke Rumah, Kebiasaan Pilah Sampah Bisa Jadi Gaya Hidup Keluarga
Moms pasti setuju, mengenalkan kebiasaan memilah sampah sejak di rumah bisa menjadi cara sederhana bagi orang tua untuk mengajak anak lebih peduli pada lingkungan. Selain membantu anak memahami bahwa setiap barang perlu dikelola dengan baik, kebiasaan ini juga mengajarkan mereka untuk lebih bertanggung jawab terhadap apa yang digunakan sehari-hari.
Kebiasaan tersebut akan semakin mudah dilakukan ketika tersedia sistem yang mendukung. Salah satu contohnya terlihat dalam program Bank Sampah Karyawan di kantor WINGS Group di Cakung, Jakarta Timur. Berawal dari lingkungan kerja, kebiasaan memilah ini juga dibawa ke rumah dan melibatkan anggota keluarga.
Program ini merupakan bagian dari kampanye #PilahDariSekarang yang dijalankan Yayasan WINGS Peduli. Karyawan tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai pemilahan, tetapi juga terhubung dengan Bank Sampah Kartini 09, salah satu bank sampah binaan yang telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan teknis bersama Waste4Change sejak 2023.
Program diawali dengan Sustainability Talk bersama pengelola Bank Sampah Kartini 09. Dalam sesi ini, karyawan mendapat pemahaman mengenai pentingnya memilah dari sumber, cara kerja bank sampah, hingga perjalanan material setelah disetorkan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan melalui grup WhatsApp dan penimbangan rutin setiap bulan. Pada saat penimbangan, material yang terkumpul ditimbang dan dicatat ke dalam rekening tabungan masing-masing anggota.
Jenis material yang diterima meliputi plastik, kertas, kaleng, serta minyak jelantah. Setelah dikumpulkan, material tersebut dijual Bank Sampah Kartini 09 kepada pelapak atau offtaker sesuai jenisnya, sebelum diteruskan ke industri daur ulang untuk menjadi bahan baku baru. Dengan begitu, material yang sudah dipilah memiliki jalur pengelolaan yang lebih jelas sekaligus dapat memberikan nilai ekonomi.
Seva Nefertiti, perwakilan Yayasan WINGS Peduli, mengatakan bahwa kebiasaan memilah akan lebih mudah tumbuh ketika masyarakat memiliki sistem yang mendukung dan memastikan material dikelola secara bertanggung jawab.
“Kami percaya bahwa kebiasaan memilah sampah akan tumbuh saat masyarakat memiliki sistem yang memudahkan mereka dan memastikan bahwa sampah tersebut benar-benar dikelola secara bertanggung jawab. Melalui program Bank Sampah Karyawan ini, kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, dan pelaku daur ulang dapat membentuk ekosistem yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus masyarakat,” katanya.
Kebiasaan di Kantor Ikut Terbawa ke Rumah
Menariknya, kebiasaan yang dibangun melalui program di tempat kerja juga mulai diterapkan oleh karyawan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Sheila, salah satu peserta, keberadaan Bank Sampah Karyawan membuat proses menyetorkan hasil pemilahan menjadi lebih praktis karena bisa dilakukan di kantor.
“Menyetorkan sampah ke Bank Sampah Karyawan benar-benar memudahkan. Saya cukup membawa sampah ke kantor, lalu semua proses penimbangan dan pencatatan dilakukan sekaligus, jadi praktis dan tidak merepotkan. Yang paling melegakan, saya tahu sampah yang saya setorkan akan didaur ulang secara bertanggung jawab oleh pelapak,” tutur Sheila.
Kemudahan tersebut juga membuat kebiasaan memilah lebih mudah diterapkan dalam keseharian. Mona, salah satu peserta lainnya, bahkan mengaku langsung mengajak anggota keluarga dan orang-orang di rumah untuk ikut memilah. Ia juga mengajak orang tua dan adiknya untuk berpartisipasi.
“Ketika ada program ini, saya langsung mengajak ART di rumah untuk membantu pilah sampah, bukan cuma di rumah pribadi tapi juga mengajak orangtua dan adik untuk ikut berpartisipasi. Lucunya semua excited untuk membantu memilah sampah untuk disetor kepada bank sampah,” tuturnya antusias.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan memilah tidak harus berhenti di lingkungan kantor. Ketika prosesnya terasa praktis dan ada tempat untuk menyalurkan hasil pemilahan, kebiasaan tersebut dapat lebih mudah diterapkan di rumah.
Bagi keluarga, hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenalkan pengelolaan sampah melalui aktivitas sederhana sehari-hari, misalnya membiasakan memisahkan botol plastik, kertas, kaleng, atau minyak jelantah sesuai jenisnya.
Hasil Pemilahan yang Memberi Nilai
Program Bank Sampah Karyawan saat ini telah memiliki puluhan anggota aktif. Dalam setiap penimbangan, material yang terkumpul mencapai sekitar 290 kilogram hingga 500 kilogram.
Selain membantu mengurangi material yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), sistem ini membuat hasil pemilahan memiliki nilai ekonomi. Praktik tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Permen LHK Nomor 14 Tahun 2021 yang menempatkan bank sampah sebagai fasilitas pengelolaan berbasis masyarakat.
Program Bank Sampah Karyawan menjadi bagian dari pilar Pendampingan Bank Sampah dalam kampanye #PilahDariSekarang, bersama Aksi Bersih, Edukasi, dan KolaborAKSI. Melalui rangkaian tersebut, pengelolaan yang bertanggung jawab tidak hanya melibatkan komunitas, tetapi juga karyawan dan masyarakat yang lebih luas sebagai bagian dari upaya #WINGSPeduliLingkungan.
Pada akhirnya, kebiasaan menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Seperti yang dirasakan Martaulina, salah satu peserta program, langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari keseharian.
“Saya mulai memilah sampah dari hal sederhana, karena saya percaya kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan. Terima kasih telah menghadirkan program yang mengajak karyawan untuk peduli terhadap lingkungan,” tutupnya.