ads

Dari Lagu MALIQ & D'Essentials ke Musikal Senja Teduh Pelita, Kisah Futuristik yang Ajak Anak Belajar Empati dan Kepemimpinan

Efa Trapulina - Kamis, 04 Juni 2026
Dari lagu Maliq & D’essentials ke panggung musikal, Senja Teduh Pelita hadirkan kisah futuristik yang imajinatif (Foto: Ist)
Dari lagu Maliq & D’essentials ke panggung musikal, Senja Teduh Pelita hadirkan kisah futuristik yang imajinatif (Foto: Ist)
A A A

Mengajarkan anak tentang nilai moral bisa dari berbagai hal ya Moms. Misalnya Moms ingin ia belajar mengerti perasaan orang lain, bekerja sama dalam tim, dan berani mengambil keputusan di tengah situasi sulit? Ternyata, salah satu jalannya bisa lewat seni pertunjukan, lho

Inilah yang dialami oleh  Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar saat memerankan tokoh utama Arah dalam Musikal Senja Teduh Pelita, karya terbaru Jakarta Movin yang berkolaborasi dengan MALIQ & D'Essentials dan didukung Indonesia Kaya. Musikal ini akan dipentaskan pada 3 - 12 Juli 2026 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Jika Moms ingin anak belajar dengan cara menyenangkan, agenda ini patut ditunggu-tunggu. Ceritanya juga menarik!  Musikal ini berlatar dunia futuristik yang diadaptasi dari lagu-lagu grup musik MALIQ & D'Essentials. Mengisahkan bumi yang porak-poranda akibat berbagai krisis, mulai dari perubahan iklim hingga konflik antar manusia. Nah, ketika seluruh orang dewasa menghilang, anak-anak yang tertinggal harus bertahan hidup dan mencari harapan baru untuk masa depan.

Di tengah kondisi tersebut, hadirlah sosok Arah, seorang anak yang memimpin perjalanan sekelompok anak lainnya untuk menemukan masa depan yang lebih baik. Menariknya, karakter Arah diperankan oleh dua aktor anak dengan gender berbeda, yakni Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar.

Pertunjukan oleh para pemain Musikal Senja Teduh Pelita
Pertunjukan oleh para pemain Musikal Senja Teduh Pelita

Imajinasi Menjadi Kunci

Ditemui pada konferensi pers Musikal Senja Teduh Pelita di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Rabu (3/6), Alf Elijah Sigarlaki mengatakan bahwa tantangan terbesar bukan sekadar menghafal dialog atau menyanyikan lagu, melainkan memahami emosi yang dialami karakter Arah.

“Karakter Arah ini memang nggak mudah untuk diperankan. Ini beneran. Ada satu scene yang sedih banget dan aku harus nangis. Tapi aku nggak pernah mengalami kejadian seperti itu. Jadi aku harus berimajinasi supaya bisa masuk ke dalam emosinya,” ujar Alf serius. 

Pengalaman tersebut menjadi proses belajar yang menarik bagi anak. Melalui karakter yang dimainkan, mereka diajak memahami situasi dan perasaan yang mungkin belum pernah dialami secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan berimajinasi inilah yang menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun empati, yakni kemampuan memahami perspektif dan perasaan orang lain.

Saat Imajinasi Menjadi Kunci

Hal serupa juga dirasakan Daria Lakshmi Algamar. Menurutnya, Senja Teduh Pelita menghadirkan tantangan emosional yang berbeda dibanding pertunjukan yang pernah ia ikuti sebelumnya. "Tantangan aku sama kayak Al, yaitu berimajinasi. Karena ini musikal yang sangat berbeda. Kalau sebelumnya di Petualangan Sherina menggunakan emosi yang lebih general seperti senang dan sedih, di sini emosinya lebih dalam," kata Daria.

Tak hanya harus memahami emosi karakter, para pemain juga dituntut menguasai dialog, koreografi, nyanyian, pecahan suara, hingga blocking panggung secara bersamaan. "Ada banyak hafalan seperti dialog, lalu ditambah koreografi, menari, menyanyi, pecahan suara, dan blocking. Kita harus hafal banget, tapi nggak boleh terlalu nyaman karena pasti ada perubahan saat sudah di panggung," ujarnya.

Tak Harus Menghadapi Semuanya Sendiri

Di balik petualangan futuristik yang dihadirkan, Daria melihat pesan yang dekat dengan kehidupan anak-anak masa kini. "Kadang aku bisa merasa sendirian atau kehilangan arah. Tapi sebenarnya banyak teman-teman yang nge-support kita. Banyak juga yang sayang sama kita," ungkapnya.

Ia juga menangkap pesan penting bahwa anak-anak memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi tantangan dan membawa perubahan positif. "Aku dapat pesan bahwa anak-anak itu bisa bertahan, melakukan hal yang baik, melakukan perubahan, dan bisa menjadi pemimpin."

Pesan tersebut sejalan dengan kisah dalam musikal, ketika Arah (diperankan Alf Elijah Sigarlaki dan ⁠⁠Daria Lakshmi Algamar) membentuk Pasukan Pelita bersama delapan anak lain yang memiliki kemampuan berbeda-beda, seperti ahli sejarah dunia, listrik dan mekanika, ahli tumbuhan, pemanjat andal, dan sebagainya. Mereka belajar bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan melalui kolaborasi dan saling melengkapi.

Mengapa Arah Diperankan oleh Dua Anak?

Produser sekaligus sutradara Senja Teduh Pelita, Nuya Susantono, menjelaskan bahwa keputusan menghadirkan dua versi Arah bukan sekadar pilihan artistik.

Menurutnya, cerita ini pada dasarnya bukan tentang laki-laki atau perempuan, melainkan tentang manusia. "Ini bukan cerita laki-laki maupun cerita perempuan. Ini cerita manusia. Meskipun yang menjalani perjalanan dalam ceritanya adalah anak-anak, ini bukan cerita anak-anak saja, cerita dewasa juga. Semua bisa relate dengan journey dan perjuangan ini," ujar Nuya.

Karena itulah Arah hadir dalam dua versi, laki-laki dan perempuan, dengan perjalanan yang sama tetapi membawa nuansa emosi yang berbeda.

“Bagi orang tua yang punya anak perempuan mungkin bisa nonton Daria yang pengin hero-nya anak perempuan. Yang punya anak laki bisa nonton Alf atau sebaliknya,” imbuh Nuya.

Nuya menjelaskan bahwa setiap pemeran diberi ruang untuk menghadirkan warna masing-masing sehingga penonton dapat merasakan pengalaman yang berbeda dari karakter yang sama. "Harapannya, siapa pun yang menonton bisa menemukan dirinya dalam karakter ini, baik laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa."

Seni Pertunjukan sebagai Ruang Tumbuh Anak

Bagi Indonesia Kaya, keterlibatan anak-anak dalam pertunjukan seperti ini juga menjadi bagian penting dari regenerasi ekosistem seni pertunjukan Indonesia. Program Manager Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, menilai karya-karya seperti Senja Teduh Pelita bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka ruang belajar dan berkarya bagi generasi muda. "Kami bangga dapat mendukung karya yang lahir dari kolektif seni pertunjukan yang secara konsisten membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat, belajar, dan berkarya," ujar Billy.

Menurutnya, upaya seperti ini penting untuk mendorong semakin banyak talenta muda berpartisipasi dalam dunia seni pertunjukan sekaligus memastikan ekosistem seni Indonesia terus berkembang.

Ketika Lagu Menemukan Makna Baru

Selain menghadirkan cerita yang relevan dengan isu masa depan, musikal ini juga menjadi cara baru untuk memperkenalkan karya-karya MALIQ & D'Essentials kepada generasi yang lebih muda.

Sebanyak 20 lagu MALIQ & D'Essentials dirangkai menjadi bagian dari perjalanan cerita, termasuk "Senja Teduh Pelita", "Aurora", "Himalaya", dan "Jalan Pulang". Memasuki usia ke-24 tahun, MALIQ & D’Essentials terus memperluas cara karya-karyanya hadir dan terhubung dengan publik.

Drummer sekaligus pendiri MALIQ & D'Essentials, Angga Puradiredja, mengaku tidak pernah membayangkan lagu-lagu yang telah menemani pendengarnya selama lebih dari dua dekade bisa berkembang menjadi sebuah pertunjukan musikal. “Musikal Senja Teduh Pelita menghadirkan perspektif baru terhadap karya-karya kami,” ujar Angga.

Ia menambahkan bahwa melihat lagu-lagu mereka yang selama ini hidup melalui rekaman dan panggung konser tersebut diterjemahkan menjadi sebuah narasi yang utuh merupakan pengalaman yang membahagiakan sekaligus membanggakan. “Kolaborasi ini bukan sekadar adaptasi lagu ke medium yang berbeda, tetapi juga sebuah kesempatan untuk melihat musik kami hidup, bergerak, dan menemukan makna baru di hadapan penonton,” pungkas Angga.

Bagi keluarga, pengalaman menonton musikal ini tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membuka ruang diskusi bersama anak tentang persahabatan, keberanian, kepemimpinan, hingga tanggung jawab terhadap masa depan bumi. Lewat perjalanan Arah dan Pasukan Pelita, anak-anak diajak membayangkan dunia yang lebih baik sekaligus memahami bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian untuk peduli pada sesama dan lingkungan sekitar.

Dan kabar baiknya, antusiasme yang tinggi terlihat pada pada penjualan tiket Presale BCA 1 dan 2 yang habis hanya dalam beberapa hari Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita. Semula direncanakan hanya berlangsung pada 3 - 5 Juli 2026, lalu diperpanjang menjadi 3 - 12 Juli 2026, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pembelian tiket resmi hanya melalui website atau aplikasi TIKET mulai tanggal 3 Juli 2026. So, jangan lewatkan, ya, Moms.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Dear Moms, Jangan Takut Berikan Lemak untuk MPASI Si Kecil
img
Dari Lagu MALIQ & D'Essentials ke Musikal Senja Teduh Pelita, Kisah Futuristik yang Ajak Anak Belajar Empati dan Kepemimpinan
img
Perjalanan Dad Rifat Sungkar Mempersiapkan El Mayka Sungkar di Dunia Motorsport
img
Belajar dari Tren 2026: Pentingnya Punya Safety Net Keuangan untuk Si Kecil