Digelar Agustus 2026, Festival Pahlawan Anak Ajak Masyarakat Ciptakan Ruang Aman bagi Generasi Penerus
Tentunya tiap orang tua ingin anaknya tumbuh sehat, bahagia, dan merasa aman. Namun, di balik potensi besar yang dimiliki anak-anak Indonesia, masih ada berbagai tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Mulai dari kekerasan, kemiskinan, hingga ancaman di dunia digital yang kini menjadi bagian dari keseharian mereka.
Inilah yang ingin diingatkan organisasi non-profit Save the Children Indonesia melalui Festival Pahlawan Anak. Bukan sekadar perayaan 50 tahun kiprahnya di Indonesia, festival ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat lebih dekat kondisi anak-anak Indonesia sekaligus mengajak semua pihak mengambil peran dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Indonesia sebenarnya terus menunjukkan kemajuan dalam pemenuhan hak anak, mulai dari kesehatan dan gizi, pendidikan, hingga perlindungan anak. Berbagai capaian tersebut menjadi modal penting untuk terus membangun ekosistem yang semakin berpihak pada kepentingan terbaik setiap anak.
Meski begitu, berbagai tantangan masih ada. Salah satu isu yang masih menjadi perhatian adalah kekerasan terhadap anak. Berdasarkan Profil Anak Indonesia 2025 yang diterbitkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 15.300 kasus kekerasan seksual dan 12.160 kasus kekerasan fisik terhadap anak. Yang paling memprihatinkan, 60,1 persen kasus terjadi di rumah, tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak.
Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan anak tidak selalu dimulai dari kebijakan besar, tetapi dari keseharian di rumah. Cara orang tua membangun komunikasi, mendengarkan cerita anak, hingga menciptakan rasa aman memiliki peran yang sangat penting.
Dalam acara Diskusi Media: Mengawal Ekosistem Perlindungan Hak Anak, Refleksi Upaya Kolaboratif Pemenuhan Hak Anak di Indonesia yang digelar Save the Children Indonesia di Jakarta, Selasa (14/7/26), diungkap bahwa sekitar 50,78 persen anak usia 13–17 tahun pernah mengalami sedikitnya satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya, atau setara dengan sekitar 11,5 juta anak.
Persoalan yang dihadapi anak Indonesia ternyata jauh lebih luas. Masih ada anak yang tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, kehilangan pengasuhan yang layak, bahkan harus bekerja di usia ketika mereka seharusnya belajar dan bermain.
Data menunjukkan 11,44 persen anak hidup di bawah garis kemiskinan nasional, 4,58 persen balita mengalami pengasuhan yang tidak layak, serta sekitar 3,05 juta anak bekerja, termasuk 1,01 juta pekerja anak. Di sisi lain, perkawinan anak masih berada di angka 5,90 persen, menunjukkan bahwa masih banyak hak anak yang perlu terus diperjuangkan. Selain itu, prevalensi stunting pada 2025 masih mencapai 19,8 persen, mengingatkan pentingnya pemenuhan gizi dan pengasuhan yang optimal sejak awal kehidupan anak.
Tantangan lain yang tak kalah penting datang dari dunia digital. Kini, sebagian besar anak sudah akrab dengan gawai dan internet. Lebih dari tiga perempat anak usia 5–17 tahun telah menggunakan telepon seluler dan hampir 74 persen mengakses internet.
Teknologi memang membuka peluang belajar dan berkreasi, tetapi juga membawa risiko baru, termasuk perundungan dan kekerasan di ruang digital. Karena itu, kehadiran orang tua sebagai pendamping menjadi semakin penting agar anak dapat memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Di bidang pendidikan, tantangannya tidak hanya soal akses sekolah. Profil Anak Indonesia 2025 juga mencatat sekitar 29,8 juta anak masih mengalami ketertinggalan pembelajaran (learning loss), sehingga peningkatan kualitas belajar menjadi pekerjaan rumah bersama.
Meski demikian, Indonesia terus menunjukkan kemajuan. Tingkat melek huruf anak usia 5–17 tahun telah mencapai 92,90 persen. Namun, masih ada pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Sekitar 1 dari 5 anak usia SMP dan 1 dari 3 anak usia SMA masih belum bersekolah, sementara partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) baru mencapai 36,03 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap anak masih membutuhkan kesempatan yang sama untuk belajar dan mengembangkan potensinya sejak usia dini.
Selama hampir lima dekade, Save the Children Indonesia telah mendorong berbagai upaya untuk memperkuat pemenuhan hak anak, mulai dari penguatan pengasuhan berbasis keluarga, mendorong partisipasi anak melalui Children and Youth Advisory Network (CYAN), hingga mendukung Kampanye Stop Pneumonia yang berkontribusi pada masuknya Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) ke dalam program imunisasi dasar nasional. Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa perlindungan anak membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan komitmen jangka panjang.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, mengatakan perubahan yang bermakna bagi anak tidak pernah lahir dari satu pihak saja.
"Selama 50 tahun, kami belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi. Berbagai capaian yang telah diraih menunjukkan bahwa perubahan nyata bagi anak dapat terwujud ketika semua pihak bergerak bersama. Namun, perjalanan ini juga mengingatkan kita bahwa masih banyak tantangan yang harus dijawab. Karena itu, keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret dan berkelanjutan," ujar Dessy Kurwiany Ukar.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Festival Pahlawan Anak akan digelar pada 13–16 Agustus 2026 di Main Atrium Gandaria City, Jakarta. Selama empat hari, pengunjung dapat mengikuti pameran imersif yang mengangkat perjalanan dan tantangan pemenuhan hak anak di Indonesia, serta beragam talkshow, workshop, aktivitas edukatif untuk anak dan keluarga, pertunjukan musik, hingga kegiatan penggalangan dana. Festival ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi keluarga, komunitas, pemerintah, dunia usaha, media, dan masyarakat untuk bersama-sama memperkuat ekosistem perlindungan anak.
Momentum peringatan 50 tahun Save the Children Indonesia bukan hanya menjadi refleksi atas perjalanan yang telah dilalui, tetapi juga titik tolak untuk memperkuat gerakan bersama dalam mengawal pemenuhan hak anak di Indonesia.
Pada akhirnya, menjadi "Pahlawan Anak" tidak selalu berarti melakukan hal besar. Meluangkan waktu mendengarkan cerita anak, menciptakan rumah yang aman, mendampingi mereka saat menggunakan internet, hingga memastikan hak mereka untuk belajar dan tumbuh terpenuhi adalah langkah sederhana yang bisa dimulai dari setiap keluarga. Sebab, setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman, didengar, dan dicintai.