Donat Artisan, Cita Rasa Lokal yang Melintasi Bali, Doha, dan Jakarta
Bagi banyak ibu, memilih camilan bukan lagi sekadar soal rasa. Ada pertimbangan kualitas, proses pembuatan, hingga cerita di baliknya. Inilah yang membuat konsep artisan food—termasuk donat artisan—semakin menarik perhatian keluarga urban, terutama mereka yang ingin menghadirkan pengalaman makan yang lebih bermakna di rumah.
Awal Januari 2026, sebuah brand lokal donat artisan asal Bali akhirnya singgah di Jakarta lewat pembukaan pop-up store eksklusif di Gafoy, Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kehadiran Dough Darlings di Jakarta ini bersifat sementara, hanya berlangsung hingga Maret 2026, namun membawa cerita panjang tentang perjalanan rasa, proses handmade, dan identitas kuliner Indonesia yang telah melanglang hingga luar negeri.
Apa Itu Donat Artisan?
Istilah donat artisan merujuk pada donat yang dibuat secara manual, dalam jumlah terbatas, dengan perhatian khusus pada kualitas bahan dan proses. Berbeda dengan donat produksi massal, donat artisan tidak mengandalkan mesin otomatis, melainkan keterampilan tangan pembuatnya.
Pendekatan ini memungkinkan setiap donat memiliki karakter: mulai dari tekstur, aroma, hingga keseimbangan rasa. Karena dibuat tanpa bahan pengawet dan melalui proses yang lebih alami, donat artisan juga memiliki masa konsumsi yang lebih singkat dan idealnya dinikmati dalam kondisi segar yakni di bawah 6 jam.
Bagi ibu, konsep ini bisa sekaligus mengajarkan anak bahwa camilan bukan hanya soal “enak”, tetapi juga tentang bagaimana makanan dibuat dan dihargai prosesnya.
Sejak berdiri pada 2015, gerai donat premium ini dikenal konsisten mengusung pendekatan hand-crafted with love. Setiap donat diproduksi dengan ketelitian tinggi, menggunakan bahan pilihan, serta melalui teknik pengolahan yang dirancang untuk menghasilkan tekstur khas, lembut di dalam dengan karakter rasa yang kaya dan seimbang. Semua donat dibuat manual, tanpa mesin, dari adonan hingga tahap akhir. Bagi para pendirinya, proses ini bukan sekadar teknik, tetapi cara menjaga kualitas dan karakter rasa.
“Melalui pop-up store ini, kami ingin menghadirkan pengalaman donat artisan secara utuh kepada para penikmat kuliner di Jakarta. Kota ini memiliki dinamika dan selera yang sangat menarik, sehingga menjadi ruang yang tepat bagi kami untuk berbagi cerita, rasa, dan dedikasi di balik setiap donat yang kami buat,” ujar Ivan Mario Halim, Co-Founder Dough Darlings saat ditemui di pop-up store pertama mereka di Gafoy, Mall Kelapa Gading Jakarta (13/01).
Menembus Pasar Internasional
Bali menjadi titik awal perjalanan donat artisan tersebut. Pulau Dewata ini bukan hanya sumber inspirasi visual, tetapi juga rasa. Kekayaan kuliner Bali yang berani memadukan manis, gurih, dan rempah, diterjemahkan ke dalam bentuk donat, tanpa menghilangkan identitas lokalnya.
“Bali itu sangat personal buat kami. Dari sanalah kami belajar bahwa rasa, budaya, dan cerita bisa terhubung dalam satu gigitan,” tambah Ivan.
Menariknya, perjalanan donat artisan ini tidak berhenti di Indonesia. Dari Bali, langkah mereka berlanjut ke Doha, Qatar, sebuah pencapaian yang lahir dari hubungan organik dengan pelanggan. Awalnya, tamu asal Doha yang berlibur ke Bali mencicipi donat mereka dan langsung jatuh hati. Dari kunjungan berulang hingga komunikasi intens, lahirlah kesempatan membuka gerai di Timur Tengah.
“Doha itu milestone buat kami. Doha kami lihat sebagai kota F&B yang berkembang pesat dan sering mengadakan event internasional. Ini mimpi yang menjadi kenyataan dan kebanggaan bagi kami sebagai brand Indonesia,” imbuh Andrian, Co-Founder Dough Darlings.
Meski beroperasi di luar negeri, Andrian menegaskan standar kualitas tetap dijaga ketat. Tim dari Indonesia diterjunkan langsung untuk pelatihan, memastikan rasa dan tekstur tetap konsisten. Beberapa penyesuaian dilakukan mengikuti karakter pasar lokal Doha, namun bahan utama tetap dipertahankan agar identitas rasa tidak berubah.
Setelah gerai permanen di Bali dan Doha, Jakarta menjadi pemberhentian berikutnya. Pop-up store yang dibuka hingga Maret 2026 ini dirancang sebagai pengenalan pengalaman menyeluruh: bukan hanya mencicipi, tetapi memahami konsep donat artisan itu sendiri.
Sebagai brand lokal, mereka menjadikan kekayaan rasa nusantara sebagai DNA utama dalam setiap kreasinya. Pada pop up store di Jakarta, hadir empat varian baru terinspirasi dari cita rasa lokal pulau Bali. “Ada Donat Ayam Klungkung dan Donat Ayam Bejek memadukan teknik pastry dengan cita rasa khas masakan Bali. Lalu ada Donat Klepon Mochi yang menghadirkan perpaduan tekstur mochi dengan rasa klepon yang familiar, dan Donat Pie Susu mengangkat rasa manis klasik khas Bali ke dalam bentuk donat,” ujar Andrian.
“Kami memang ingin menghadirkan sesuatu yang fun dan berbeda. Empat varian ini awalnya eksperimen, dan ternyata hasilnya menarik,” ujar Agnes Dyke, yang juga merupakan Co-Founder.
Kehadiran pop-up store di Jakarta menjadi bagian dari perjalanan panjang donat artisan ini, berawal dari Bali, menembus Doha, lalu menyapa ibu kota. Meski hadir terbatas hingga Maret 2026, pengalaman yang ditawarkan dirancang untuk meninggalkan kesan: tentang rasa lokal, proses handmade, dan filosofi bahwa makanan bisa menghadirkan kebahagiaan sederhana di tengah rutinitas keluarga.
Setelah periode pop-up berakhir, donat artisan tetap dapat dinikmati melalui pemesanan online, memastikan cerita dari Bali ini tetap bisa hadir di meja makan keluarga Jakarta.