Di Balik Tren Lemon Tea, Ada Persoalan Kenyamanan di Lambung yang Perlu Diperhatikan
Dulu teh identik dengan minuman hangat di pagi atau sore hari. Kini, ceritanya berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir, teh bertransformasi dari minuman tradisional menjadi lifestyle beverage. Teh telah berevolusi secara global dan menjadi bagian dari gaya hidup. Ia hadir dalam berbagai format dan inovasi seperti lemon tea, bubble tea, matcha latte, cheese tea, hingga beragam flavored tea menunjukkan bagaimana teh kini menjadi bagian dari ekspresi gaya hidup, terutama di kalangan generasi muda.
Bagi generasi muda Gen Z (usia 16 – 24 tahun) yang hidupnya serba cepat, minuman bukan lagi sekadar penghilang haus. Mereka tidak hanya mencari rasa, daya tarik visual dari sebuah produk, tapi juga mengikuti tren yang sedang populer. Mereka cenderung memilih minuman dengan flavor yang seimbang, tidak berlebihan, serta praktis untuk dikonsumsi di tengah aktivitas.
Salah satu varian teh saat ini sedang banyak diminati secara global adalah lemon tea. Selama ini, lemon tea dikenal menyegarkan namun seringkali terlalu asam untuk lidah Indonesia.
Lemon tea menjadi salah satu varian yang cukup populer karena kesan fresh yang langsung terasa di tegukan pertama. Sensasi asamnya sering dianggap membantu “membersihkan” rasa di lidah setelah makan makanan berat atau berbumbu kuat. Namun, tidak semua orang nyaman dengan karakter rasa yang terlalu tajam. Bagi sebagian orang, lemon tea yang terlalu asam bisa memicu rasa kurang nyaman di tenggorokan atau lambung, terutama jika diminum saat perut kosong.
Karena itu, kini banyak generasi muda mulai mencari profil rasa yang lebih seimbang yakni tetap segar, tidak terlalu asam, dan manisnya terasa halus serta nyaman diminum tanpa sensasi perih di lambung. Perpaduan lemon dengan sentuhan madu misalnya, bisa menghasilkan karakter rasa yang lebih lembut. Madu memberi dimensi manis yang lebih smooth dibanding gula biasa, sehingga rasa asamnya terasa lebih terkendali.
Melihat kebutuhan inilah, WINGS Food menghadirkan terobosan baru di kategori yang masih sangat terbuka untuk berkembang. “Lemon tea itu globally high demand, tapi seringkali terlalu asam untuk preferensi lokal. Kami melihat peluang besar untuk menghadirkan sesuatu yang lebih relevan dengan selera lidah orang Indonesia. Teh Lemon Madu kami hadirkan sebagai lemon tea yang gak asem, manisnya smooth dan pas, jadi bisa diminum kapan saja tanpa bikin eneg atau terlalu tajam di tenggorokan,” ujar Joshua Gunawan, Head of Ready to Drink Beverage WINGS Food pada konferensi pers baru-baru ini di Jakarta.
Minuman ready to drink (RTD) tersebut tersedia dalam kemasan botol 350 ml untuk menegaskan peran teh sebagai minuman praktis yang semakin relevan dengan gaya hidup modern dan mobilitas tinggi.
“Tren ini juga tercermin pada pertumbuhan kategori RTD Tea secara global, yang pertumbuhannya rata-rata diproyeksikan sekitar 6–7% per tahun hingga 2031. Jika di negara seperti Jepang pertumbuhan ini didorong oleh budaya konsumsi RTD melalui vending machine, di Indonesia, RTD Tea tumbuh kuat melalui akses yang sangat dekat dengan keseharian konsumen, seperti warung, minimarket, hingga convenience store yang mudah dijangkau kapan saja,” lanjut Joshua.
Sebagai representasi Gen Z yang aktif dan dinamis, Tissa Biani, aktris, penyanyi, dan model turut membagikan antusiasmenya menjadi Brand Ambassador. “Aku termasuk yang suka banget flavored tea, tapi kadang lemon tea yang sudah ada itu terlalu asam di lidah. Sedangkan teh lemon madu ini rasanya beda, gak asem, manisnya smooth dan pas banget, gak bikin perih lambung,” katanya.
Tissa Biani juga menyebut bahwa rasa yang tidak terlalu asam membuatnya nyaman diminum setelah makan, terutama saat jadwal aktivitasnya padat.
Teh memang telah menjadi bagian dari lifestyle modern. Namun pada akhirnya, yang dicari bukan sekadar sensasi segar, melainkan keseimbangan antara rasa, kenyamanan, dan kesesuaian dengan ritme hidup sehari-hari.