Generasi Mendatang Masih Bisa Menikmati Hidangan Laut? Ini Langkah Kecil dari Meja Makan untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem Laut Dunia
Menikmati Naniura khas Batak yang segar dengan sensasi getir andaliman, disusul semangkuk tekwan hangat yang gurih, lalu beralih ke gado-gado unik yang disajikan di dalam pot tanaman, hingga mencicipi permen asap yang mengepul jenaka di mulut dan ditutup dengan letupan-letupan kesegaran segelas es doger manis yang dinikmati sembari memakai jas hujan di dalam ruangan. Semuanya menjadi pengalaman tak terlupakan dalam menikmati kreativitas kuliner siang itu, Selasa, 09 Juni 2026 di IKEA Alam Sutera, Tangerang.
Pengalaman kuliner teatrikal bin ajaib ini bukan bagian dari syuting film, melainkan sebuah pertunjukan seni memasak tingkat tinggi. Rangkaian hidangan jalanan dan tradisional Indonesia tersebut sengaja dirombak total dan disajikan melalui teknik molecular gastronomy oleh juru masak visioner, Chef Andrian Ishak.
Keseruan mencicipi hidangan tak biasa ini menjadi pembuka yang memikat dalam perayaan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day 2026 yang berkolaborasi dengan Marine Stewardship Council (MSC).
Melalui eksplorasi rasa, tekstur, dan teknik penyajian yang unik, para peserta diajak untuk melihat bagaimana kualitas sebuah bahan makanan dapat diterjemahkan menjadi pengalaman bersantap yang sama sekali berbeda, sekaligus merenungkan cerita penting di balik asal-usul bahan baku tersebut.
Keberlanjutan di Atas Piring
Bagi seorang koki, bahan baku adalah fondasi utama. Dalam sesi Molecular Gastronomy Experience ini, Chef Andrian Ishak menggunakan bahan-bahan berkualitas yang tersedia di IKEA, termasuk ikan salmon yang telah bersertifikasi MSC.
“Sebagai chef, bahan baku adalah inti dari setiap hidangan. Jika sumber daya laut tidak dijaga dengan baik, kita berisiko kehilangan banyak jenis seafood yang selama ini menjadi bagian penting dari dunia kuliner,” ujar Chef Andrian Ishak.
Ia juga menambahkan bahwa inovasi dalam dunia kuliner bukan sekadar pamer teknik atau keindahan presentasi, melainkan bagaimana membangun apresiasi yang lebih besar terhadap bahan makanan dan proses bertanggung jawab di baliknya. Ketika sebuah bahan memiliki kualitas yang konsisten dan ketertelusuran (traceability) yang jelas, ruang kreativitas bagi para pegiat kuliner justru akan terbuka semakin lebar.
Mengapa Harus Label Biru?
Laut adalah penyedia protein utama bagi lebih dari 3 miliar orang di seluruh dunia. Namun, saat ini ekosistem laut sedang menghadapi tekanan yang luar biasa. Berdasarkan data terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), hampir 40% stok ikan di seluruh dunia telah tereksploitasi secara berlebihan (overfishing). Kondisi ini diperparah oleh proyeksi para ilmuwan yang mengkhawatirkan apakah generasi mendatang masih bisa menikmati hidangan laut di meja makan mereka.
Di sinilah pentingnya sertifikasi internasional dengan label biru MSC. Sertifikasi ini memastikan bahwa seafood yang dikonsumsi berasal dari perikanan tangkap liar yang memenuhi tiga prinsip utama:
- Kesehatan Populasi Ikan: Memastikan stok ikan tetap berkembang dan tidak mengalami penangkapan berlebih.
- Minimalisasi Dampak Ekosistem: Menjaga keseimbangan habitat dan spesies laut lainnya.
- Sistem Pengelolaan yang Efektif: Mematuhi regulasi serta memiliki sistem keterlacakan (Chain of Custody) yang jelas dari laut hingga ke piring konsumen.
“Pilihan seafood berkelanjutan menjadi semakin penting untuk membantu menjaga kesehatan laut sekaligus memastikan sumber daya tersebut tetap tersedia di masa depan. Kolaborasi ini menunjukkan bagaimana pelaku industri dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap pilihan seafood yang lebih bertanggung jawab,” ungkap Hirmen Syofyanto, Program Director Marine Stewardship Council Indonesia.
Pilihan Berkelanjutan untuk Semua Orang
Kini, prinsip keberlanjutan (sustainability) bukanlah sekadar program, melainkan bagian inti dari strategi bisnis. Melalui pilar People and Planet, toko perabot asal Swedia ini berkomitmen untuk menghadirkan dampak positif yang nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui responsible sourcing (pemasokan yang bertanggung jawab).
Sebagai salah satu pionir retail terbesar yang menerapkan standar ini, seluruh menu salmon yang disajikan di Restoran maupun yang dijual beku di Swedish Food Market telah mengantongi sertifikasi MSC. Bahkan, salah satu pemasok salmon merupakan bisnis keluarga yang dikelola oleh Emily, seorang nelayan generasi kelima di Alaska yang memegang teguh prinsip ramah lingkungan.
“Bagi kami, keberlanjutan perlu hadir dalam pilihan yang dapat diakses oleh banyak orang. Kami berharap kolaborasi ini dapat membantu membuka lebih banyak percakapan mengenai pentingnya menjaga sumber daya alam, sekaligus menunjukkan bahwa makanan yang kita nikmati setiap hari juga memiliki hubungan dengan masa depan lingkungan di sekitar kita,” jelas Ahmad Alhamid, Sustainability Business Partner IKEA Indonesia.
Menu Baru yang Ramah Lingkungan
Untuk memanjakan lidah para pencinta kuliner sekaligus merayakan momentum World Ocean Day, varian ikan terbaru yaitu Silver Koho Salmon berkualitas tinggi diluncurkan.
“Salmon merupakan salah satu pilihan makanan yang banyak dinikmati pelanggan kami. Karena itu, penting bagi kami untuk memastikan bahwa bahan yang kami gunakan tidak hanya memenuhi standar kualitas yang kami harapkan, tetapi juga berasal dari sumber yang dikelola secara bertanggung jawab, untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang. Melalui kolaborasi ini kami ingin mengajak pelanggan mengenal lebih dekat perjalanan di balik makanan yang mereka konsumsi,” tambah Ariane Vinsontia selaku Food Commercial Manager.
Selain menu laut, juga diperkenalkan hidangan khas Swedia terbaru lainnya, yaitu Beef Wallenbergare yang disajikan bersama mashed potato, lingonberry, dan saus gravy yang autentik.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Tren global menunjukkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, kesadaran konsumen untuk memilih produk yang berkelanjutan terus meningkat. Dengan jaringan yang menjangkau ratusan juta konsumen di puluhan negara, langkah kecil dari setiap pelanggan yang memilih hidangan berlabel biru ini dipercaya akan menciptakan efek bola salju yang besar bagi kelestarian samudera.
Menjaga masa depan laut bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: lebih peduli pada apa yang ada di piring kita hari ini. Jadi, pastikan kamu mencari logo label biru dan ikut serta dalam menjaga kelestarian laut dunia untuk generasi yang akan datang.