Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Stadium Lanjut, LVAD Berhasil Diimplantasi di Indonesia
Ketika jantung tak lagi mampu memompa darah secara optimal, aktivitas sederhana sehari-hari pun dapat terasa begitu berat. Bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, pilihan terapi yang tersedia juga semakin terbatas.
Namun, perkembangan teknologi medis kini menghadirkan harapan baru melalui penggunaan Left Ventricular Assist Device (LVAD), sebuah pompa jantung mekanis yang membantu jantung mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Kabar menggembirakan datang dari Siloam Hospitals Kebon Jeruk. Melalui Advanced Cardiac Care Clinic (ACCC), rumah sakit ini mencatat sejarah sebagai rumah sakit swasta pertama di Indonesia yang berhasil melakukan implantasi LVAD. Bahkan, dalam waktu kurang dari satu bulan, dua pasien berhasil menjalani prosedur tersebut.
“Menjadi satu-satunya rumah sakit di Indonesia dengan Advanced Heart Failure Center bukanlah gelar yang kami kejar, melainkan wujud dari komitmen kami untuk menghadirkan layanan penanganan gagal jantung stadium lanjut yang komprehensif di Indonesia. Kami ingin pasien memiliki akses terhadap teknologi, keahlian medis, dan pilihan terapi yang sebelumnya mungkin mengharuskan mereka mencari pengobatan ke luar negeri. Hari ini, kami ingin menghadirkan harapan tersebut lebih dekat bagi pasien di Indonesia,” ungkap Inge Samadi, Executive Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk saat konferensi pers, Selasa (29/09) di Jakarta.
“Ada suara paling menenangkan yang pernah saya dengar sebagai dokter jantung, yaitu detak yang kembali stabil setelah nyaris berhenti. Dalam sebulan terakhir, saya mendengarnya dua kali. Bagi kami, LVAD bukan sekadar sebuah prosedur, tetapi pilihan terapi yang dapat membuka harapan baru bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, khususnya bagi mereka yang menghadapi keterbatasan pilihan transplantasi jantung,” ucap penuh syukur dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA.
LVAD merupakan perangkat mekanis yang ditanamkan melalui prosedur bedah untuk membantu fungsi ventrikel kiri, yaitu ruang utama jantung yang bertugas memompa darah ke seluruh tubuh. Terapi ini dapat menjadi salah satu pilihan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut ketika terapi medis optimal tidak lagi memberikan hasil yang memadai.
Pada pasien yang memenuhi kriteria klinis, LVAD diharapkan dapat membantu meningkatkan kapasitas fungsional, kualitas hidup, sekaligus kelangsungan hidup. Kehadiran terapi lanjutan ini menjadi semakin penting mengingat beban penyakit jantung di Indonesia masih tinggi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85 persen secara nasional atau diperkirakan sekitar 2,4 juta penduduk. Penyakit jantung juga tercatat sebagai penyebab kematian dan disabilitas kedua tertinggi di Indonesia setelah stroke.
Bukan Sekadar Operasi, tetapi Perjalanan Perawatan yang Panjang
Dikatakan dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV (K), implantasi LVAD bukanlah prosedur sederhana. "Tindakan ini membutuhkan persiapan matang dan kolaborasi berbagai tenaga kesehatan, mulai dari dokter spesialis jantung dan bedah toraks kardiovaskular, anestesi, perawat, rehabilitasi medis, hingga tenaga penunjang lainnya," kata dr. Maizul.
Sebelum tindakan dilakukan, kondisi pasien harus dinilai secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak hanya berfokus pada jantung, tetapi juga mencakup fungsi paru-paru, ginjal, hati, pemeriksaan laboratorium, hingga berbagai pemeriksaan penunjang seperti rontgen, CT toraks, dan USG abdomen. Seluruh hasil pemeriksaan tersebut kemudian digunakan untuk menentukan apakah pasien memenuhi kriteria untuk menjalani implantasi LVAD.
Persiapan juga dilakukan oleh tim medis melalui latihan dan koordinasi sebelum hari operasi. Saat tindakan berlangsung, berbagai perangkat pemantauan dipasang untuk memantau kondisi jantung dan fungsi tubuh pasien. Prosedur dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menjaga keselamatan dan sterilitas selama operasi.
"Momen penting terjadi ketika pompa LVAD mulai mengambil alih fungsi mesin sirkulasi yang digunakan selama operasi. Secara bertahap, pompa tersebut mengambil alih aliran darah sehingga mesin sirkulasi operasi dapat dihentikan. Setelah itu, jantung alami pasien dan pompa LVAD harus bekerja berdampingan," tambah dr. Sugisman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K).
"Karena itu, perjalanan pasien tidak berhenti setelah operasi selesai. Kecepatan dan performa pompa harus terus dipantau, sementara kondisi jantung pasien juga perlu dievaluasi secara berkala. Perawatan luka, pemantauan kemungkinan infeksi, serta pemeriksaan rutin oleh dokter jantung dan dokter bedah jantung menjadi bagian penting dari perawatan selanjutnya," ucap dr. Sugisman.
Dua Pasien, Satu Tonggak Penting
Keberhasilan implantasi pertama kemudian disusul dengan prosedur kedua dalam waktu kurang dari satu bulan. Pasien pertama, seorang laki-laki berusia 44 tahun, mendapatkan HeartMate 3 LVAD dari Abbott, perangkat yang telah digunakan pada lebih dari 42.000 pasien di seluruh dunia.
Kurang dari satu bulan kemudian, tim kembali berhasil melakukan implantasi LVAD pada pasien kedua. Keberhasilan dua prosedur dalam rentang waktu tersebut tidak hanya menjadi pencapaian klinis, tetapi juga menunjukkan kesiapan sistem, tim multidisiplin, dan kapabilitas dalam menghadirkan layanan implantasi LVAD secara berkelanjutan.
dr. Melissa, MARS, Hospital Director Siloam Hospitals Kebon Jeruk, mengatakan, “Keberhasilan satu kasus merupakan pencapaian penting. Namun, keberhasilan dua kasus dalam waktu kurang dari satu bulan menunjukkan kesiapan sistem, tim, dan kapabilitas yang telah kami bangun. Ini bukan sekadar tentang berhasil melakukan sebuah prosedur, tetapi tentang memastikan bahwa kami memiliki kesiapan untuk memberikan layanan ini secara berkelanjutan bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang membutuhkan.”
Prosedur implantasi LVAD merupakan tindakan kompleks yang membutuhkan kolaborasi multidisiplin serta keahlian khusus dari dokter spesialis jantung dan bedah toraks kardiovaskular. Pencapaian ini didukung oleh tim medis yang terdiri dari dr. Leonardo Paskah Suciadi, Sp.JP, FIHA, FAPSC, FESC, FHFA, bersama dr. Maizul Anwar, Sp.BTKV(K) dan dr. Sugisman, Sp.BTKV, Subsp.JD (K). Tim tersebut telah menjalani pelatihan intensif bersama para ahli LVAD internasional untuk memastikan kesiapan dalam melakukan prosedur dengan tingkat kompleksitas tinggi ini.
Teknologi yang Membuka Harapan
Perangkat HeartMate 3 yang digunakan merupakan teknologi LVAD generasi terbaru dengan Full MagLev Flow Technology. Data uji klinis MOMENTUM 3 menunjukkan tingkat kelangsungan hidup lima tahun sebesar 58,4 persen, sementara terapi LVAD telah memperoleh rekomendasi kelas 1A dalam pedoman AHA/ACC/HFSA.
Namun, LVAD bukan berarti menjadi pilihan untuk semua pasien gagal jantung. Prosedur ini ditujukan bagi pasien tertentu dengan gagal jantung stadium lanjut yang telah menjalani berbagai pilihan terapi tetapi masih mengalami kondisi yang berat. Karena itu, proses penilaian pasien harus dilakukan secara komprehensif oleh tim medis.
Setelah LVAD, Apa Selanjutnya?
Keberhasilan implantasi LVAD juga menjadi bagian dari perjalanan pengembangan layanan jantung yang lebih kompleks di Indonesia. Pengembangan kemampuan di bidang transplantasi jantung terus dilakukan, termasuk pengiriman tim bedah jantung untuk mempelajari lebih lanjut mengenai transplantasi jantung di Taiwan.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa perkembangan teknologi medis tidak berhenti pada satu pencapaian. Setiap keberhasilan menjadi pijakan untuk meningkatkan kemampuan tenaga medis, memperkuat sistem pelayanan, dan memperluas pilihan terapi bagi pasien di Indonesia.
Bertepatan dengan World Heart Day pada 29 September 2026, pencapaian implantasi LVAD ini menjadi pengingat bahwa setiap detak jantung begitu berharga. Bagi pasien dengan gagal jantung stadium lanjut, teknologi seperti LVAD dapat menghadirkan pilihan terapi yang sebelumnya mungkin belum tersedia di dalam negeri.
Meski demikian, keberhasilan teknologi medis tetap membutuhkan satu hal yang tidak kalah penting: kolaborasi. Dari pemeriksaan awal, persiapan operasi, tindakan implantasi, hingga perawatan setelah operasi, pasien membutuhkan dukungan tim multidisiplin dan pemantauan berkelanjutan.
Dengan semakin berkembangnya kemampuan tenaga medis dan teknologi di Indonesia, harapannya semakin banyak pasien dengan kondisi jantung kompleks yang dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhan klinisnya tanpa harus selalu mencari pilihan pengobatan di luar negeri.