Waspada Kekurangan Zat Besi pada Anak, Dampaknya Setara Stunting dan Bisa Turunkan IQ
Risiko anemia akibat kekurangan zat besi pada anak kembali menjadi perhatian. Dalam konferensi pers terbaru Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru-baru ini, disebutkan kekhawatiran akan kekurangan zat besi pada anak erat kaitannya dengan kondisi ekonomi negara. Sebab, asupan zat besi erat kaitannya dengan protein hewani seperti ikan, ayam, daging, telur, dan susu.
Defisiensi zat besi pada anak perlu diwaspadai karena dapat mengganggu tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan otak, kemampuan kognitif, dan konsentrasi. Jika tidak dicegah dan ditangani dengan tepat, kekurangan zat besi pada masa pertumbuhan, dapat berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak.
Dokter Spesialis Anak, dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp.A., mengungkapkan bahwa, Air Susu Ibu (ASI) merupakan nutrisi terbaik bagi bayi usia 0–6 bulan. Namun, setelah memasuki usia enam bulan, kebutuhan zat besi bayi meningkat sehingga perlu dipenuhi melalui Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang bergizi seimbang.
Bayi yang mendapatkan ASI eksklusif pun tetap berisiko mengalami kekurangan zat besi apabila asupan zat besinya tidak tercukupi setelah memasuki masa MPASI. Hal inilah yang meningkatkan risiko kekurangan zat besi pada anak, sebab orang tua yakin anak sudah mendapat nutrisi yang cukup dari ASI.
“Dampak dari kondisi ini tidak boleh disepelekan, karena kekurangan zat besi dapat menurunkan tingkat kecerdasan (IQ) anak hingga 8 sampai 9 poin,” jelas dr. Agnes.
Sementara Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menegaskan bahwa dampak kekurangan zat besi bersifat permanen pada perkembangan kognitif, perilaku, konsentrasi, hingga aktivitas fisik anak.
“Kategori yang paling rentan mengalami kondisi ini adalah bayi dan balita pada masa pertumbuhan cepat, bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah, serta anak yang kurang mengonsumsi sumber zat besi,” ujar dr. Piprim.
Untuk mencegah dampak buruk tersebut, pemenuhan mikronutrien seperti kombinasi zat besi dan vitamin C (Iron C) menjadi kunci utama. Vitamin C berperan penting dalam mengoptimalkan penyerapan zat besi di dalam saluran pencernaan. Pemenuhan nutrisi ini dapat diperoleh dari bahan makanan yang mudah ditemukan sehari-hari, antara lain dari protein hewani seperti hati ayam dan daging merah.
Selain itu, juga asupan pendukung seperti susu pertumbuhan, makanan fortifikasi, serta buah atau sayur yang kaya vitamin C untuk memaksimalkan penyerapan.