ads

Jangan Salah! Berikut Beda Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak

Dwi Retno - Jumat, 06 Februari 2026
Sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan, dan umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan (Foto : Ist)
Sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan, dan umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan (Foto : Ist)
A A A

Regurgitasi atau gumoh pada bayi kerap menimbulkan kekhawatiran orang tua dan sering disalahartikan sebagai penyakit. Padahal, secara medis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) merupakan kondisi fisiologis yang umum terjadi pada bayi, terutama pada enam bulan pertama kehidupan. Nah, agar Moms bisa membedakan antar gumoh, GER, dan GERD, berikut penjelasan detailnya.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, dari RS Premier Bintaro, menyebutkan berdasarkan data klinis sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi, dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan, dan umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan. Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yaitu bayi yang tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh normal meskipun sering mengalami gumoh.

Regurgitasi atau gumoh adalah keluarnya kembali isi lambung bayi melalui mulut. Kondisi ini umum terjadi pada bayi sehat dan tidak disertai usaha muntah yang kuat. Gumoh terjadi karena sistem pencernaan bayi masih dalam tahap pematangan. Otot katup antara lambung dan kerongkongan belum bekerja optimal sehingga kondisi ini merupakan proses fisiologis pada bayi.

"Refluks itu normal pada bayi, karena secara anatomi dan fungsi, saluran cerna bayi memang belum matang, dan regurgitasi itu adalah refluks yang keluar lewat mulut," ujarnya saat ditemui pada Media Gathering dan Health Talk di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (4/2/2026).

RS Premier Bintaro menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan
RS Premier Bintaro menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan

Sedangkan GER atau gastroesophageal reflux terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan. Pada kondisi ini, refluks tidak selalu terlihat karena tidak selalu keluar dari mulut. Sebagian besar bayi dengan GER tetap tumbuh sehat tanpa gangguan. Seiring bertambahnya usia, fungsi saluran cerna akan membaik dengan sendirinya.

Namun demikian, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang berbeda dan jauh lebih jarang, dengan prevalensi sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau terlalu lama, sehingga dapat menyebabkan peradangan esofagus (esofagitis) dan komplikasi lain seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi disertai darah, hingga gangguan kualitas hidup anak.

Prof Hegar menegaskan bahwa tantangan terbesar di lapangan adalah membedakan regurgitasi fisiologis dengan GERD. “Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelasnya.

“Regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan GERD, karena kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada bayi sehat. Oleh karena itu, evaluasi medis yang tepat diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain, seperti alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD. Penatalaksanaan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya bersifat non-farmakologis, meliputi edukasi orang tua, melanjutkan ASI, menghindari overfeeding, pengaturan posisi bayi, serta penggunaan susu formula yang ditebalkan bila diperlukan. Pemberian obat bukan merupakan terapi lini pertama dan hanya dipertimbangkan pada kasus GERD yang terkonfirmasi,” lanjutnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Jangan Salah! Berikut Beda Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak
img
Ngobrolin Kanker dan Bangun Empati Lewat Pameran Seni
img
Musim Hujan Risiko Dengue Meningkat: Saatnya Perkuat Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak dan Dewasa
img
Tak Perlu Jauh ke Luar Negeri, Kini Wisata Medis Mumpuni Hadir di Jakarta