ads

Jejak Kelam Perang Malaya 1948: Ketika Sinema Jadi Jembatan Belajar Sejarah dan Dialek Bahasa

Novita Sari - Senin, 26 Oktober 2026
Ide di balik film ini bermula dari pertemuan tak terduga para kreatornya di Festival Film Cannes beberapa tahun lalu. Foto: Novi
Ide di balik film ini bermula dari pertemuan tak terduga para kreatornya di Festival Film Cannes beberapa tahun lalu. Foto: Novi
A A A

Industri perfilman Indonesia kembali menorehkan babak gemilang. Di tengah gelombang antusiasme penonton domestik yang sukses menembus lebih dari 82 juta penonton dan menguasai sekitar 80% pangsa pasar bioskop dalam negeri, sebuah karya kolaborasi internasional berskala besar resmi lahir.

Berjudul "The Ghost and the Gun" (atau dikenal juga sebagai "Peluru Senja"), film drama aksi-sejarah berbasis karakter (character-driven historical action-drama) ini dijadwalkan tayang serentak di jaringan bioskop CGV Indonesia mulai 23 Oktober 2026, setelah sebelumnya sukses menggelar pemutaran perdana eksklusif di Pacific Place Mall, Jakarta.

Namun, di balik megahnya layar lebar, ada sebuah cerita petualangan produksi yang luar biasa: bagaimana Bali disulap menjadi hutan Malaya era 1940-an, serta kisah di balik layar yang penuh tantangan, mulai dari proses casting yang serba dadakan hingga peleburan budaya lintas negara.

Momen "Movie Magic": Ketika Bali Menjelma Menjadi Malaya 1948

Ide di balik film ini bermula dari pertemuan tak terduga para kreatornya di Festival Film Cannes beberapa tahun lalu. Bo Holmgreen selaku CEO & Executive Producer Viking Sunset Studios—studio produksi modern yang berpusat di Bali—menuturkan bahwa diskusi awal berfokus pada dinamika sejarah Malaysia tahun 1948 pasca Perang Dunia II, di tengah penarikan pasukan Inggris.

"Saya menyadari 70% dari film ini berlatar di hutan liar (jungle). Dan kita memiliki itu di Bali. Jadi, tercetuslah ide untuk membawa produksinya langsung ke Bali," ujar Bo Holmgreen dalam sesi bincang-bincang bersama media, Jumat (23/10) di Jakarta.

Di bawah naungan ekosistem studio yang mumpuni di Tabanan, Bali, tim produksi menciptakan keajaiban sinematik (movie magic) yang masif. Sebanyak 14 set replika perkampungan dan kamp pertahanan Malaya tahun 1948 dibangun dari nol dalam radius yang sangat dekat dari studio.

Selama 35 hari syuting yang melibatkan sekitar 145 orang kru, pemain pendukung (extras), dan aktor lintas negara, proyek ini berjalan penuh gairah. Mulai dari pesta pizza santai di sela-sela syuting hingga kerja keras menghadapi tantangan musim hujan di tengah hutan—di mana adegan harus diakali karena naskah menuntut cuaca kering—semuanya dilewati dengan semangat kebersamaan yang tinggi.

Kolaborasi Lintas Batas: Pertemuan Budaya dan Totalitas Tanpa Batas

Film dua bahasa (bilingual dalam Bahasa Melayu dan Inggris) ini disutradarai oleh Anshul Tiwari dengan naskah garapan Abhi Kumar. Sebagai seorang pembuat film dokumenter, Anshul meletakkan akurasi sejarah sebagai harga mati, menyoroti dampak psikologis dan trauma kemanusiaan dari para penyintas perang, khususnya dari kacamata Asia.

Pemeran utama pria asal Malaysia, Hazman Al Idrus (memerankan Ishraq Wan alias Iz), berbagi pengalaman emosionalnya hijrah dari Terengganu ke Indonesia untuk proyek internasional pertamanya ini. Ia memuji solidnya kerja sama lintas negara yang melibatkan talenta dari Malaysia, Indonesia, Inggris, Amerika Serikat, Singapura, hingga Australia.

Cerita unik juga datang dari proses casting yang dinilai sangat menantang. Hazman mengungkapkan bahwa keterlibatannya di film ini tergolong sangat "dadakan":

"Hari ini saya datang ke Bali, malamnya briefing dengan sutradara, besoknya langsung syuting. Biasanya aktor butuh waktu workshop 10 sampai 20 hari untuk membangun karakter. Tapi di sini, saya harus create my character on set secara instan. Ini tantangan besar, tapi justru memicu adrenalin karena saya tahu saya cepat belajar," tutur Hazman.

Tidak hanya itu, tantangan bahasa juga menjadi bumbu tersendiri. Para aktor Indonesia dituntut untuk mendalami dialek spesifik dari Provinsi Pahang, Malaysia. Hazman bahkan mengaku kagum melihat totalitas aktor Indonesia seperti Asmara Abigail (pemeran Siti), Indra Paci, serta talenta lokal Bali yang begitu fasih meniru dialek Pahang, sesuatu yang diakuinya sangat sulit bahkan bagi orang Malaysia sendiri pada awalnya.

Menempatkan Bali di Peta Sinema Global

Di balik layar, proyek ambisius ini menjadi panggung pembuktian bagi kru teknis asal Indonesia. Seluruh departemen penting mulai dari kamera, pencahayaan, hingga tata suara dipegang sepenuhnya oleh profesional lokal Indonesia yang berhasil merekonstruksi atmosfer tahun 1940-an dengan sangat presisi.

Asisten Sutradara Richo Dharma dan talenta lokal Yoga Gunatika sepakat bahwa sinergi antara visi kreatif internasional dan keahlian teknis kru dalam negeri membuktikan kualitas sineas Indonesia kini semakin diperhitungkan di kancah global.

Melalui The Ghost and the Gun, Viking Sunset Studios tidak sekadar mempersembahkan sebuah tontonan drama aksi-sejarah yang memukau dan kaya emosi, tetapi juga mendeklarasikan bahwa Bali telah siap menjadi hub produksi berstandar internasional bagi para sineas dunia.

Bagi para penikmat film tanah air, The Ghost and the Gun bukan sekadar suguhan ketegangan di medan perang, melainkan sebuah perayaan atas suksesnya kolaborasi lintas budaya yang membanggakan. Jangan lewatkan penayangannya di jaringan bioskop CGV Indonesia mulai 23 Oktober 2026!

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Jejak Kelam Perang Malaya 1948: Ketika Sinema Jadi Jembatan Belajar Sejarah dan Dialek Bahasa
img
Talenta Muda Indonesia Berpeluang Unjuk Kemampuan Sepak Bola hingga ke Jepang
img
Sapa UMK Dukung UMK Kuliner Tumbuh dari Dapur Rumah Keluarga Indonesia
img
Lewat Gerakan SATU HATI, Dukung Ibu Indonesia Berikan Perawatan Terbaik untuk Si Kecil