Kenali Fungsi Kental Manis, Jangan Lagi Keliru Menganggapnya Susu
Ingin anak tumbuh sehat dan berat badan bertambah, atau berharap anggota keluarga yang sedang sakit segera pulih? Sebagian masyarakat mungkin memilih menyeduhkan kental manis setiap hari karena harganya terjangkau, rasanya manis, dan mudah ditemukan di warung. Namun, tahukah Moms and Dads, bahwa kebiasaan yang dianggap baik ini justru bisa membawa risiko bagi kesehatan jika kental manis dikonsumsi sebagai pengganti susu?
Anggapan bahwa kental manis setara dengan susu, masih banyak ditemukan di masyarakat. Padahal, kandungan gula yang tinggi dan komposisi gizinya membuat produk ini tidak tepat dijadikan minuman pengganti susu, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.
Mita Rukmawati, Ahli Gizi dari Puskesmas Balong, Ponorogo, mengungkapkan bahwa kesalahpahaman tersebut masih menjadi persoalan di lapangan. Kebiasaan mengonsumsi kental manis sebagai minuman harian, tidak hanya berisiko bagi anak-anak, tetapi juga orang dewasa hingga lanjut usia (lansia).
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele, mulai dari kurangnya asupan zat gizi penting pada anak hingga meningkatnya risiko gangguan metabolik akibat konsumsi gula berlebihan.
Kental Manis untuk Menambah Berat Badan? Hati-Hati!
Salah satu kasus yang ditemukan Mita di wilayah kerjanya menunjukkan bahwa niat baik belum tentu memberikan hasil yang baik bagi kesehatan.
Ia menceritakan seorang kakek yang berstatus suspek tuberkulosis (TBC) dan datang dengan kadar gula darah yang sangat tinggi. Setelah ditelusuri, keluarga memiliki kebiasaan memberikan kental manis setiap hari. Sang istri berharap minuman tersebut dapat membantu suaminya kembali sehat dan menambah berat badan.
Sayangnya, kebiasaan itu justru berpotensi memperburuk kondisi kesehatan sang kakek.
Kental manis memang memiliki rasa manis yang kuat, tetapi kandungan gulanya yang tinggi, tidak menjadikannya sumber nutrisi yang memadai untuk membantu pemulihan tubuh. Bagi orang yang sedang sakit, kebutuhan gizi perlu dipenuhi melalui makanan bergizi seimbang dengan asupan protein dan zat gizi lain yang sesuai.
“Orang yang TBC jika terkena diabetes akan mempersulit pengobatan. Apalagi semakin tua, metabolisme tubuh makin menurun,” jelas Mita.
Konsumsi gula berlebihan dapat memperburuk pengendalian kadar gula darah, terutama pada orang yang memiliki risiko diabetes. Jika berlangsung terus-menerus, pola konsumsi yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan berbagai komplikasi, termasuk penyakit jantung dan gangguan ginjal.
Karena itu, ketika anggota keluarga sedang sakit atau mengalami penurunan berat badan, solusi terbaik bukan sekadar memberikan minuman manis. Kebutuhan gizinya perlu diperhatikan secara menyeluruh, termasuk protein dari telur, ikan, dan sumber pangan bergizi lainnya.
Anak Berisiko Stunting, Berat Badan Berlebih Juga Mengintai
Persoalan konsumsi kental manis sebagai pengganti susu juga menjadi perhatian serius pada anak-anak. Kebiasaan ini dapat membuat anak kehilangan kesempatan untuk memperoleh zat gizi penting yang dibutuhkan selama masa pertumbuhan.
Survei yang dikutip dalam laporan ini dari Unisba menemukan bahwa 67 persen balita masih mengonsumsi kental manis sebagai susu harian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman tentang gizi anak masih perlu diperkuat, termasuk di kalangan orang tua yang memiliki pendidikan formal tinggi.
Mita mengingatkan bahwa anak di bawah usia dua tahun tidak dianjurkan mengonsumsi gula tambahan. Memberikan kental manis sebagai minuman pengganti susu juga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan gizinya.
“Karena didominasi gula, lambung anak yang masih kecil sudah keburu kenyang. Akibatnya, nutrisi penting seperti protein, karbohidrat kompleks, vitamin, dan mineral tidak bisa masuk, sehingga tumbuh kembang maksimal dan tinggi badannya tidak tercapai,” ungkap Mita.
Ketika anak lebih banyak mengonsumsi minuman manis, ruang untuk makanan bergizi bisa berkurang. Jika kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral tidak terpenuhi dalam jangka panjang, pertumbuhan anak dapat terganggu dan risiko stunting meningkat.
Di sisi lain, konsumsi gula berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap kelebihan asupan kalori. Jika tidak diimbangi pola makan seimbang dan aktivitas fisik yang cukup, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko berat badan berlebih hingga obesitas.
Apalagi, anak-anak masa kini semakin akrab dengan gawai dan aktivitas yang minim gerak. Karena itu, orang tua perlu memperhatikan bukan hanya apa yang dikonsumsi anak, melainkan juga kebiasaan bermain, bergerak, dan beraktivitas setiap hari.
Mengapa Kental Manis Masih Dianggap Susu?
Mengubah kebiasaan konsumsi kental manis bukan perkara mudah. Menurut Mita, salah satu penyebabnya adalah pemahaman lama bahwa minum susu merupakan bagian penting dari pola makan sehari-hari agar tubuh sehat.
Karena namanya mengandung kata “susu”, sebagian masyarakat kemudian menganggap kental manis memiliki manfaat yang sama dengan susu pada umumnya. Padahal, setiap produk memiliki komposisi dan peruntukan yang berbeda.
Faktor lain yang turut memengaruhi persepsi masyarakat adalah iklan yang selama bertahun-tahun membentuk anggapan bahwa kental manis merupakan minuman yang dapat menunjang kesehatan keluarga.
“Iklan dari dulu sering membangun narasi bahwa tanpa susu, kita tidak sehat. Masyarakat kita, terutama orang tua, banyak yang termakan hal tersebut,” tambah Mita.
Padahal, pemenuhan gizi tidak bergantung pada satu jenis minuman saja. Pedoman Gizi Seimbang dan konsep “Isi Piringku” mengingatkan masyarakat untuk mengonsumsi makanan yang beragam dengan porsi sesuai kebutuhan, disertai kebiasaan hidup sehat.
Dengan kata lain, anak tidak harus mengonsumsi kental manis untuk tumbuh sehat. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kebutuhan gizinya terpenuhi melalui makanan sehari-hari yang beragam dan bergizi.
Ubah Kebiasaan, Mulai dari Meja Makan Keluarga
Lantas, bagaimana jika selama ini keluarga terbiasa mengonsumsi kental manis setiap hari?
Mita menyarankan agar perubahan dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah. Orang tua dapat mengalihkan anggaran pembelian kental manis untuk menyediakan bahan makanan yang lebih kaya zat gizi, seperti telur, ikan lele, dan buah-buahan.
“Daripada membelanjakan uang untuk membeli kaleng atau saset kental manis, anggaran tersebut jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk membeli sumber protein sejati yang lebih murah namun kaya gizi, seperti telur, ikan lele, atau buah-buahan,” sarannya.
Jika masih memiliki stok kental manis di rumah, penggunaannya juga perlu disesuaikan dengan peruntukannya, yakni sebagai pelengkap makanan atau topping, bukan diseduh sebagai minuman pengganti susu. Penggunaannya tetap perlu dibatasi agar konsumsi gula harian tidak berlebihan.
Hal lain yang tak kalah penting adalah membiasakan diri membaca label informasi nilai gizi pada kemasan. Perhatikan kandungan gula, ukuran sajian, serta jumlah sajian dalam satu kemasan. Dengan begitu, orang tua dapat lebih cermat memperhitungkan asupan gula dari berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi keluarga.
Mita juga mengingatkan agar orang tua tidak merasa malu mengakui kebiasaan yang selama ini dilakukan. Menurutnya, yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan memperbaiki pola makan keluarga.
“Tidak ada ilmu paten dalam menjadi orang tua, semuanya berproses. Lebih baik terbuka sekarang dan belajar memperbaiki pola makan anak demi investasinya di masa depan, daripada menyesal nanti ketika usia sudah menua dan penyakit metabolik mulai bermunculan,” imbaunya.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan keluarga dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan setiap hari. Memahami perbedaan kental manis dan susu, membatasi konsumsi gula, serta menyediakan makanan bergizi seimbang merupakan langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus menjaga kesehatan anggota keluarga hingga usia lanjut.