ads

Memasuki Era Baru Media Intelligence: Ketika AI dan Intuisi Manusia Bertemu

Novita Sari - Jumat, 28 Agustus 2026
Deddy Hermawan, Commercial Lead Media Info Group Indonesia saat soft launch, Kamis, 27 Agustus 2026 di Jakarta. Foto: Novi
Deddy Hermawan, Commercial Lead Media Info Group Indonesia saat soft launch, Kamis, 27 Agustus 2026 di Jakarta. Foto: Novi
A A A

Dunia komunikasi dan media bergerak semakin cepat. Jika dahulu pemantauan pemberitaan dilakukan secara manual dengan cara menggunting, menempel, memindai, lalu mendigitalisasi artikel, kini perkembangan teknologi membawa industri media monitoring ke babak baru: era artificial intelligence (AI).

Perubahan inilah yang menjadi salah satu latar belakang kehadiran Media Info Group Indonesia melalui soft launch platform media web, pada Kamis, 27 Agustus 2026 di Jakarta. Sebuah dashboard media monitoring yang dikembangkan untuk membantu perusahaan dan praktisi komunikasi memahami lanskap media secara lebih cepat, akurat, dan mendalam.

Dengan pengalaman sekitar 14 tahun di industri media monitoring, tim Media Info Group melihat bahwa kebutuhan terhadap teknologi pemantauan media terus berkembang. Dari monitoring media cetak, kemudian berkembang ke media online, social listening, hingga kini memasuki era AI yang memungkinkan data tidak hanya dikumpulkan, tetapi juga dipahami dan dianalisis secara lebih kontekstual.

Dari Gunting dan Tempel hingga Kecerdasan Buatan

Perjalanan media monitoring di Indonesia menunjukkan betapa cepatnya perubahan teknologi. Sekitar 2010, pemantauan media masih identik dengan pekerjaan manual. Artikel koran harus digunting, ditempel, dipindai, kemudian dimasukkan ke dalam sistem digital.

Memasuki 2017, ledakan media online membuat metode manual semakin tidak relevan. Jumlah berita yang harus dipantau semakin besar sehingga dibutuhkan software, tools, dan dashboard untuk mengelola informasi secara lebih efisien.

Perubahan berikutnya terjadi sekitar 2022 ketika social listening semakin berkembang. Pemantauan tidak lagi cukup hanya terhadap media mainstream. Percakapan di media sosial juga menjadi sumber informasi penting karena sebuah isu dapat bermula dari media sosial, berkembang menjadi pemberitaan media mainstream, kemudian saling memengaruhi.

Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks jika melihat lanskap media Indonesia saat ini. “Saat ini terdapat sekitar 43.000 media online, sementara media yang telah terverifikasi Dewan Pers mencakup media online, cetak, dan televisi dengan total sekitar 1.277 media terverifikasi. Banyaknya sumber informasi, membuat pemantauan secara manual menjadi pekerjaan yang nyaris mustahil dilakukan secara menyeluruh,” ungkap Deddy Hermawan, Commercial Lead Media Info Group Indonesia.

Menghadirkan Platform yang Lebih Relevan untuk Indonesia

Diterangkan Deddy, mereka sendiri memiliki akar bisnis di Belanda, tepatnya di Almere, dan telah memiliki sekitar 1.500 klien di Belanda dan Belgia. Namun, ketika memasuki pasar Indonesia, pendekatan yang digunakan tidak sekadar menyalin produk dari negara asal.

“Konsep yang diusung adalah country-centric, bukan semata-mata product-centric. Artinya, teknologi yang telah digunakan di Belanda menjadi fondasi awal, tetapi pengembangannya akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar Indonesia,” jelas Deddy.

Produksi dan pengembangan teknologi di Indonesia juga menjadi salah satu kekuatan. Dengan tim yang berada di dalam negeri, mereka memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan cakupan media maupun kebutuhan pengguna berdasarkan karakteristik pasar lokal.

“Saat ini, kami telah mencakup lebih dari 1.000 media online dan lebih dari 100 media cetak. Cakupan televisi, radio, dan media sosial masih terus dikembangkan. Untuk media sosial, kami menggandeng pihak ketiga, dengan rencana mengintegrasikan berbagai sumber tersebut ke dalam sistem yang semakin diperkuat teknologi AI,” tandas Deddy.

Bukan Sekadar Mengumpulkan Berita

Salah satu pembeda yang ditawarkan adalah proses kurasi data. Lanjut Deddy, informasi yang ditemukan dari berbagai sumber tidak serta-merta masuk ke dalam dashboard.

“Ada proses produksi, pembacaan, hingga quality control untuk memastikan artikel yang masuk memang relevan dengan kebutuhan pengguna. Tim clippers bertugas melakukan proses pengambilan artikel, sementara readers membaca dan menilai relevansinya. Setelah itu, tim QC memastikan tidak terdapat persoalan teknis dalam proses pengambilan data,” terang Deddy.

“Pendekatan tersebut menggabungkan kemampuan manusia dan teknologi. Tujuannya sederhana: ketika pengguna menarik data dari dashboard, informasi yang diperoleh sudah melalui proses penyaringan sehingga tidak dipenuhi data yang tidak relevan,” tambah Deddy.

AI Tidak Menggantikan Manusia

Meski AI menawarkan kemampuan analisis yang semakin luas, satu hal yang ditekankan oleh Deddy adalah bahwa teknologi bukan berarti menggantikan intuisi manusia.

Menurut Deddy, pengalaman dan kemampuan manusia dalam membaca weak signal tetap menjadi bagian penting dari proses media intelligence. “Sebuah isu tidak selalu muncul dengan kata kunci yang jelas. Kadang-kadang, isu yang sangat relevan justru tidak menyebutkan satu pun kata kunci yang telah dimasukkan ke dalam sistem,” sebutnya.

Di sinilah pengalaman seorang analis menjadi penting. Kemampuan memahami konteks, menghubungkan berbagai informasi, serta membuat hipotesis sebelum melihat data secara lebih mendalam, tetap membutuhkan human intuition.

Dengan kata lain, masa depan media intelligence bukanlah pertarungan antara manusia dan AI. Justru kekuatannya muncul ketika keduanya bekerja bersama: AI membaca data dalam jumlah besar dan menemukan pola, sementara manusia memberikan konteks, pengalaman, intuisi, dan penilaian strategis.

“Di tengah derasnya arus informasi, tantangannya bukan lagi sekadar mendapatkan berita sebanyak mungkin. Tantangan sebenarnya adalah menentukan informasi mana yang penting, memahami konteksnya, menemukan sinyal-sinyal yang tersembunyi, dan mengubahnya menjadi dasar pengambilan keputusan,” kata Deddy.

AI menawarkan kemampuan untuk mengolah data dalam skala yang jauh lebih besar dan cepat. Namun, pengalaman manusia tetap dibutuhkan untuk membaca konteks yang tidak selalu terlihat dari angka maupun kata kunci.

Kombinasi keduanya menjadi fondasi penting bagi masa depan media intelligence: teknologi untuk mempercepat, data untuk memperkuat, dan manusia untuk memberikan makna.

Langkah ini diharapkan menjadi awal dari cara yang lebih cepat, cerdas, dan mendalam dalam memahami dunia media sekaligus menyambut sebuah era baru: media intelligence di era AI.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Memasuki Era Baru Media Intelligence: Ketika AI dan Intuisi Manusia Bertemu
img
Rayakan 72 Tahun Perjalanan dengan Terus Berkomitmen Menghadirkan Manfaat Bagi Keluarga Indonesia Melalui Nutrisi, Edukasi dan Kolaborasi Bermakna
img
Dukung Talenta Muda Berprestasi, Antarkan Bandung Legend Tembus 16 Besar Turnamen Sepak Bola Dunia di Jepang
img
Setiap Langkah Moms dalam Memberikan yang Terbaik Bagi si Kecil Merupakan Wujud Kasih Sayang yang Layak Mendapatkan Apresisasi Lebih