Mengasah Literasi Anak Usia Dini: Investasi Kecil, Manfaat Besar
Moms, di era digital saat ini, banyak anak-anak lebih sering pegang gawai daripada buka buku. Entah nonton video lucu, main game, atau scrolling gambar, gadget memang sudah jadi teman sehari-hari mereka.
Kalau digunakan terlalu berlebihan, anak bisa jadi kurang terbiasa membaca dan menulis. Padahal, literasi sejak dini sangat penting. Literasi tidak terbatas pada kemampuan teknis membaca dan menulis saja, namun pondasi penting dalam membentuk keterampilan berpikir kritis, kemampuan komunikasi yang baik, daya imajinasi yang kreatif, serta kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Hal inilah yang kembali diingatkan dalam Perayaan Hari Literasi Internasional yang dihadiri oleh Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Dr. Ir. Pramono Anung, M.M, di hadapan para orangtua dan anak-anak di Happy Hope International Preschool, Jakarta Selatan, Sabtu (13/9).
Acara ini makin spesial karena Gubernur DKI turut membacakan dongeng untuk anak-anak usia dini. Dengan penuh semangat, Pramono Anung bertanya jawab dengan si kecil tentang Jakarta, cita-cita, buku dongeng yang pernah dibaca hingga hal-hal sederhana yang membuat mereka tertawa riang.
Menurut Pramono, literasi tidak bisa dilepaskan dari pembangunan manusia. “Pemerintah Provinsi Jakarta terus mendorong peningkatan literasi di segala jenjang umur, mulai dari anak usia dini hingga dewasa. Literasi adalah pondasi membangun masyarakat yang cerdas dan kritis untuk kemajuan Indonesia di masa depan,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan berbagai program yang sudah dijalankan provinsi Jakarta, seperti perpustakaan 24 jam dan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.
Peran Penting Orang Tua
Tak hanya kemampuan membaca lancar atau menulis, literasi sejak dini juga erat kaitannya dengan perkembangan kognitif, sosial, bahkan emosional anak. Anak yang terbiasa dibacakan cerita atau dikenalkan buku sejak kecil akan lebih mudah mengekspresikan pendapat, mengembangkan imajinasi, dan belajar memahami orang lain.
Sayangnya, di tengah kesibukan, kadang orang tua merasa cukup menyerahkan urusan literasi pada sekolah. Padahal, menurut Pramono, anak-anak tidak bisa dibiarkan tumbuh begitu saja. Mereka perlu orangtua yang aktif mengajak ngobrol, membacakan buku, atau sekadar bercerita sebelum tidur.
Kegiatan sederhana itu mungkin terlihat remeh, Moms, tapi dampaknya luar biasa. Anak belajar menghubungkan kata dengan makna, mengenal dunia di luar rumah, bahkan membangun empati lewat tokoh-tokoh dalam cerita.

5 Aktivitas Literasi Seru di Rumah
Untuk membiasakan anak suka membaca dan menulis, berikut beberapa ide yang bisa dicoba Moms bersama si kecil:
1. Dongeng Sebelum Tidur. Pilih cerita bergambar dengan alur singkat. Tambahkan intonasi suara atau ekspresi lucu supaya anak makin terbawa suasana.
2. Sudut Buku Mini. Sediakan satu rak kecil berisi buku bergambar, komik edukatif, atau majalah anak. Dengan begitu, anak terbiasa melihat buku sebagai bagian dari keseharian, sama seperti mainan mereka.
3. Buku Harian Bergambar. Ajak anak menggambar setiap hari, lalu bantu tuliskan satu-dua kata yang sesuai. Seru banget untuk melatih ekspresi sekaligus menanamkan kebiasaan menulis sejak dini.
4. Permainan Kata. Coba main tebak kata, sambung cerita, atau mencari kata yang mirip bunyinya. Aktivitas ini bisa dilakukan kapan saja —di mobil, di ruang tunggu, bahkan sambil makan bersama.
5. Libatkan Anak dalam Aktivitas Nyata. Misalnya membaca resep saat memasak, mengeja huruf di papan petunjuk jalan, atau melihat label belanjaan. Anak jadi sadar kalau literasi benar-benar digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mencetak Generasi Emas
Issyarah Feah, sebagai CEO sekaligus Pendiri BATAS Group, yang juga menaungi Happy Hope International Preschool, menekankan betapa pentingnya literasi sejak usia dini. Menurutnya, "Literasi itu seperti sebuah jembatan yang menghubungkan anak-anak dengan dunia serta kehidupan mereka. Lebih dari sekadar kemampuan akademis, literasi melibatkan kemampuan untuk memahami, memaknai, dan menghubungkan pengalaman dengan pengetahuan."
Sebagai lembaga pendidikan yang berlandaskan Islam, mereka bertekad untuk menumbuhkan minat baca sejak usia 1–7 tahun. Mereka percaya bahwa literasi yang ditanamkan pada usia dini akan memberikan dampak positif seumur hidup.
Pramono Anung menyampaikan, "Orang tua dan guru harus bekerja sama untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Membaca jauh lebih menyenangkan daripada menonton televisi. Anak-anak yang gemar membaca sejak kecil pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas dan berprestasi."
Peringatan literasi di sekolah ini juga mencakup pekan literasi, pengumpulan buku dan donasi uang tunai untuk sekolah yang membutuhkan, serta kampanye media sosial "Raise Readers, Raise Leaders." Semua kegiatan ini bertujuan untuk mengajak orang tua, sekolah, serta masyarakat luas untuk bersama-sama membangun budaya membaca sejak usia dini. Harapannya sederhana, tetapi sangat besar: untuk menciptakan anak-anak yang berpengetahuan, berakhlak, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.