ads

Memahami Anak Neurodivergent dengan Pendekatan dan Pendidikan Inklusif yang Tepat

Efa Trapulina - Senin, 13 April 2026
Para Founder Atelier of Minds dan pembicara ahli serta orang tua dari anak neurodivergent dalam acara peluncuran di Jakarta Selatan (Foto: Efa)
Para Founder Atelier of Minds dan pembicara ahli serta orang tua dari anak neurodivergent dalam acara peluncuran di Jakarta Selatan (Foto: Efa)
A A A

Banyak orang tua mungkin pernah merasa bingung saat melihat anak sulit fokus, mudah terdistraksi, atau tampak “berbeda” dalam cara belajar dibanding teman sebayanya. Di satu sisi, ada tuntutan akademik yang harus dipenuhi, tetapi di sisi lain, kebutuhan emosi dan perkembangan anak juga tidak bisa diabaikan. Situasi ini membuat banyak keluarga bertanya: sebenarnya, apa yang paling dibutuhkan anak?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika melihat data yang ada. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (2021) memperkirakan terdapat 2,4 juta individu dengan autisme di Indonesia, dengan penambahan kasus baru sekitar 500 setiap tahunnya. Penelitian tahun 2024 di Surabaya juga menemukan bahwa 15,1 persen siswa sekolah dasar berada dalam kategori berisiko mengalami gejala ADHD.

Di sisi lain, data Kemendikbud per Desember 2023 mencatat terdapat 40.164 sekolah yang memiliki siswa penyandang disabilitas, namun hanya 5.956 sekolah (14,83 persen) yang memiliki Guru Pembimbing Khusus (GPK). Kesenjangan ini menunjukkan bahwa dukungan pendidikan inklusif masih terbatas.

Neurodiversitas: Perbedaan, Bukan Kekurangan

Dalam peluncuran Atelier of Minds, pelopor pusat student care dan pengembangan anak di Jakarta Selatan (10/4) lalu, Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist Agape Psychology, Singapura, yang juga menjadi mitra penasihat mengatakan, “Neurodiversitas adalah perbedaan, bukan kekurangan. Ketika kita mengubah cara pandang dari ‘memperbaiki anak’ menjadi ‘memahami anak’, kita membuka potensi terbaik mereka,” ujarnya.

Jeremy Ang
Jeremy Ang, Principal Clinical Psychologist Agape Psychology, Singapura

Jeremy menjelaskan bahwa setiap anak memiliki cara kerja otak yang berbeda, layaknya sidik jari yang tidak pernah sama. Anak akan berkembang ketika lingkungan disesuaikan dengan cara kerja otaknya, bukan sebaliknya.

Ia juga memaparkan bahwa setiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda. “Anak perlu didampingi secara bertahap—dari hal yang belum bisa dilakukan, menuju hal yang hampir bisa, hingga akhirnya mampu dilakukan secara mandiri. Pendekatan ini menekankan pentingnya dukungan yang tepat, bukan tekanan,” imbuhnya.

Jeremy menambahkan bahwa banyak perilaku anak sebenarnya merupakan respons terhadap lingkungan. Anak yang tantrum di tempat ramai, misalnya, bisa jadi bukan karena tidak disiplin, tetapi karena kewalahan secara sensorik atau emosional. “jadi kita harus ubah pola pikir kita, alih-alih bertanya apa yang salah dengan anak ini? Lebih baik bertanya “Apa yang ingin dia sampaikan?” jelasnya. Pendekatan ini menjadi dasar penting dalam memahami anak, terutama mereka yang termasuk dalam spektrum neurodivergent.

Art Room
Art Room, salah satu ruangan belajar anak di Atelier of Minds 

Setiap Anak Belajar dengan Cara Berbeda

Jeremy juga mengungkapkan bahwa sekitar 1 dari 5 anak belajar dengan cara yang berbeda. Sebagian anak lebih mudah memahami melalui visual, sebagian melalui pendengaran, dan sebagian lainnya melalui pengalaman langsung.

Ia mengatakan bahwa di Indonesia sendiri, sekitar 3,3 persen anak termasuk dalam kategori neurodivergent—setara dengan sekitar 2,6 juta anak. “Ini jumlah yang besar, tetapi sering kali tidak terlihat,” katanya.

Jeremy juga menyoroti bahwa lebih dari 80 persen orang tua atau pengasuh anak dengan kebutuhan khusus mengalami tingkat stres yang tinggi, karena harus mencari dukungan yang sering kali belum tersedia secara memadai.

Orang Tua Juga Butuh Ruang Aman   

“Memiliki anak neurodivergent mengubah seluruh perjalanan sebagai orang tua,” kata Wina Natalia, figur publik dan ibu dari empat anak, termasuk anak neurodivergent dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). “Yang dibutuhkan keluarga bukan hanya terapi atau sekolah, tetapi ruang aman di mana anak dipahami dan diterima. Tempat seperti itu memberi harapan bagi orang tua,” ujarnya. 

Wina Atelier
Wina Natalia di depan lukisan karya putranya 

Menjawab kebutuhan tersebut, Atelier of Minds hadir di tengah meningkatnya kebutuhan akan pendidikan inklusif dan pendekatan yang lebih memahami cara belajar anak. Dirancang untuk mendukung anak dengan beragam kebutuhan belajar, tempat ini menghadirkan ekosistem holistik agar setiap anak dapat berkembang secara optimal, baik secara akademik, sosial, maupun emosional. Alih-alih hanya berfokus pada hasil akhir, pusat ini menekankan bagaimana anak belajar, mengelola emosi, serta berinteraksi dengan lingkungannya, pendekatan yang semakin diakui secara global sebagai kunci perkembangan jangka panjang.

Peluncuran ini juga diisi dengan rangkaian workshop bagi orangtua, pendidik, dan sekolah, yang membahas strategi praktis seperti membantu regulasi emosi, membangun resiliensi, serta menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi anak. Pendekatan ini berbasis ilmu saraf (neurosains), yang menekankan bahwa anak perlu merasa aman secara emosional sebelum dapat belajar secara optimal.

“Banyak orangtua merasa harus memilih antara dukungan akademik atau perkembangan anak,” ujar Ries Sansani, Lead Coach dan Terapis Okupasi Atelier of Minds. “Di sini, orang tua tidak perlu memilih hal tersebut. Anak didukung secara menyeluruh, melalui struktur, permainan, dan interaksi bermakna yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang mereka.”

Pusat pembelajaran ini menghadirkan tiga program utama yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anak, yaitu: Atelier Minis (usia 2–5 tahun) – program berbasis bermain untuk anak usia dini; Student Care (usia 6–12 tahun) – pendampingan setelah sekolah yang mengintegrasikan akademik, regulasi emosi, dan keterampilan sosial, dan Enrichment Program – meliputi coding, art therapy, seni dan kerajinan, angklung, gitar, gym & movement.

Melalui kombinasi pembelajaran sehari-hari dengan pendekatan berbasis terapi, tempat ini berupaya menjembatani kesenjangan antara pendidikan, terapi, dan pengasuhan anak yang selama ini masih terpisah di Indonesia.

“Kami membangun pusat student care ini dari keyakinan sederhana: setiap anak berhak mendapatkan lingkungan yang tepat untuk berkembang,” ujar Donny Eryastha, Co-Founder Atelier of Minds. “Kami tidak hanya membangun sebuah tempat, tetapi juga mendorong gerakan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berempati di Indonesia,” tutupnya.

Dengan kehadiran lembaga pendidikan dan pengasuhan ini di Jakarta Selatan, diharapkan dapat menjadi model ruang belajar inklusif di masa depan, yang mempertemukan orangtua, pendidik, dan profesional untuk mendukung tumbuh kembang generasi berikutnya.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Memahami Anak Neurodivergent dengan Pendekatan dan Pendidikan Inklusif yang Tepat
img
Mengenalkan Toleransi Sejak Dini, Kenapa Enggak? Ini Langkah Mudahnya!
img
Siapkan Talenta Global, Integrasi AI dan Sentuhan Humanis dalam Pendidikan Pariwisata Nasional
img
Waspada Ancaman Siber, Tips Mengunci Pintu Bagi Peretas dan Malware