Mengenalkan Profesi Dessert Chef, Mengajak Anak Mengekspresikan Kreativitas Lewat Jelly
Moms dan si kecil penyuka dessert? Ya, bagi anak-anak, hidangan penutup selalu punya daya tarik tersendiri. Bukan hanya karena rasanya yang lezat, tapi juga karena tampilannya yang cantik, warna-warni, dan sering kali mengundang rasa penasaran. Dari kue, jelly, puding, waffle, hingga es krim, kerap menjadi penutup momen makan yang menyenangkan. Menariknya, di balik tampilannya yang menggugah selera, dessert juga bisa menjadi sarana belajar untuk anak, terutama saat mereka diajak terlibat langsung dalam proses pembuatannya.
Pendekatan belajar sambil bermain inilah yang kemudian dihadirkan melalui wahana edutainment Nutrijell - House of Jelly di KidZania Jakarta, di mana anak-anak usia 4-12 tahun diajak merasakan langsung peran sebagai dessert chef. Dalam dunia kuliner, dessert chef adalah profesi yang berfokus pada pembuatan hidangan penutup. Profesi ini menuntut ketelitian, kreativitas, serta kemampuan mengikuti proses secara runtut.
“Anak-anak diajak membuat kreasi jelly secara terstruktur, belajar mengenal bahan dasar jelly yang berasal dari rumput laut, memahami manfaat serat bagi pencernaan, sekaligus mengekspresikan ide mereka lewat warna, tekstur, dan topping sesuai imajinasi masing-masing,” ujar Lindung Artha Marhendra, Direktur Operasional KidZania Jakarta yang ditemui pada acara pembukaan establishment tersebut di Pasific Place Mall Jakarta, Sabtu (24/01).
Ia menilai pengalaman ini sebagai bagian dari pendidikan menyeluruh. “Anak-anak tidak hanya bermain, tetapi belajar antre, disiplin, menjaga kebersihan, dan mengekspresikan diri. Orang tua berperan sebagai observer. Mereka bisa mengamati minat anak. Apakah anak telaten menghias? Suka bereksperimen warna? Atau justru paling menikmati prosesnya? Semua terlihat dari cara anak-anak “bekerja” sambil bermain,” katanya.
Pendekatan belajar sambil bermain ini juga menjadi alasan kolaborasi tersebut terwujud. David Hinjaya, Direktur Marketing PT Forisa Nusapersada mengatakan, “Kami ingin anak-anak belajar lewat praktik langsung, mengenal bahan jelly dari rumput laut yang kaya serat dan merupakan kekayaan alam Indonesia, dan memahami bahwa makanan tidak hanya soal rasa, tetapi juga bermanfaat bagi tubuh."
Hal senada disampaikan Helen, Senior Brand Manager Nutrijell yang menyoroti pentingnya mengenalkan kreativitas sejak dini. “Kami ingin mengedukasi tentang rumput laut dan manfaatnya bagi pencernaan, tapi dengan pendekatan yang fun. Melalui peran Dessert Chef, mereka bisa menentukan topping yang mereka sukai, bereksperimen dengan warna, rasa, dan tekstur jelly,” katanya.
Tekstur jelly yang kenyal, warna yang cerah, serta cara pembuatannya yang relatif sederhana membuat jelly menjadi media yang aman dan ramah anak untuk bereksplorasi. Manfaat aktivitas semacam ini juga sejalan dengan berbagai kajian internasional tentang sensory play. Kegiatan mengolah makanan bertekstur lembut seperti jelly membantu anak melatih koordinasi motorik halus, kemampuan mengambil keputusan, serta regulasi emosi. Saat anak memilih topping, menata hasil kreasi, dan menyelesaikan tugasnya sendiri, mereka sedang belajar memecahkan masalah dengan caranya sendiri.
“Setelah bermain di House of Jelly, kami berharap anak-anak pulang dengan cerita, lalu mengajak orang tuanya membuat jelly bersama. Mereka jadi tahu bahwa jelly itu kenyal, dingin, dan menyenangkan untuk dikreasikan. Dari pengalaman mencium aroma, melihat proses, sampai membuat sendiri, semuanya membantu anak mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya,” tutup Helen.