Merawat Harapan Lewat Pelangi di Mars
Pelangi adalah seorang anak perempuan Indonesia yang lahir dan tumbuh di planet Mars, setelah terdampar bersama ibunya, yang bernama Pratiwi. Ketika sang ibu menjalankan misi mencari mineral ajaib bernama Zeolith Omega yang bisa mempurifikasi air, sebagai solusi atas krisis air bersih di Bumi. Tak hanya sang ibu, Pelangi ikut terlibat dalam misi tersebut. Dengan menemukan mineral tersebut, mimpi Pelangi untuk pulang ke bumi dan bertemu ayahnya bisa terwujud. Misi Pelangi ini akan menjadi tontonan yang menyenangkan bersama keluarga saat Lebaran 2026 nanti.
Dikembangkan dengan teknologi Extended Reality (XR), film ini menghadirkan lanskap Mars yang dibangun melalui perpaduan animasi 3D dan produksi virtual di Studio DossGuavaXR. Namun bagi tim kreatifnya, teknologi bukanlah pusat cerita. Yang ingin dihadirkan justru sesuatu yang lebih sederhana: ruang imajinasi bagi anak-anak Indonesia.
Dendi Reynando, sang Produser mengatakan, Pelangi di Mars berangkat dari keinginannya menghadirkan lebih banyak pilihan tontonan keluarga. “Film anak dan keluarga masih sangat terbatas. Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri,” ujarnya.
Berbeda dari banyak film anak yang menjadikan sosok dewasa sebagai pusat solusi, Pelangi di Mars menempatkan anak sebagai subjek yang aktif. Pelangi yang diperankan oleh Messi Gusti, bukan hanya mengikuti keadaan, melainkan mengambil keputusan, memimpin, dan belajar menghadapi persoalan.
Upie Guava, sang sutradara melihat pendekatan ini sebagai bagian dari perannya sebagai orang tua. “Tugas orang tua adalah mengantarkan anaknya hidup di zamannya,” katanya. Menurutnya, dunia yang akan dihadapi generasi hari ini tidak sama dengan masa kecil orang tua mereka. Tantangannya berbeda, begitu pula cara memahami dunia.
Gagasan itu menjadi landasan cerita ini. Latar tentang Bumi yang mengalami krisis lingkungan hadir sebagai konteks, bukan sebagai ancaman yang menakutkan. Upie mengaku percaya bahwa perubahan iklim adalah persoalan nyata. Namun ia tidak ingin menyampaikan kegelisahan itu secara menggurui.
“Anak-anak tidak suka digurui,” ujarnya. Karena itu, pesan tentang pentingnya menjaga bumi tidak ditempatkan di permukaan cerita. Penonton anak mungkin akan menikmati petualangan, dinamika persahabatan dengan robot-robot interaktif, serta pencarian ayah Pelangi. Di balik itu, ada ajakan untuk melihat bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap masa depan.
Upie banyak mengambil inspirasi dari kesehariannya bersama anak-anaknya sendiri. Ia terbiasa mendongeng pada malam hari, sering kali tanpa naskah. Pola bercerita yang spontan itu, menurutnya, ikut membentuk cara ia menyusun film. “Kapan cerita naik, kapan memberi ruang emosi, kapan menghadirkan humor, itu semua refleksi interaksi personal saya dengan anak,” kata Upie.
Pada akhirnya, film ini tidak hanya menawarkan petualangan di planet lain. Film ini juga mengajak anak-anak membayangkan diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton perubahan. Sosok Pelangi digambarkan tumbuh tanpa sekat sosial tertentu, dengan keyakinan bahwa siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk berbuat sesuatu bagi dunia.
Bagi orang tua, film ini bisa menjadi ruang bersama untuk memahami cara anak melihat masa depan. Bagi anak-anak, cerita ini menjadi pengingat bahwa keberanian dan rasa ingin tahu adalah bekal penting untuk menjalani zaman mereka sendiri.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi dunia hari ini, Pelangi di Mars memilih menyampaikan harapan secara sederhana: melalui cerita tentang seorang anak yang mencoba melakukan yang terbaik dari tempat ia berdiri.