ads

Pejuang Berat Badan Anak: Cara Moms Menghadapi Masalah BB Seret pada Si Kecil 

Efa Trapulina - Sabtu, 07 Maret 2026
(ki-ka) Master of Ceremony, Angelia Susanto (Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director, Sarihusada), Cut Meyriska (Aktris/Influencer), dan Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A
(ki-ka) Master of Ceremony, Angelia Susanto (Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director, Sarihusada), Cut Meyriska (Aktris/Influencer), dan Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A
A A A

Bagi banyak ibu, momen menimbang berat badan anak bisa terasa menegangkan. Angka di timbangan sering kali menjadi penanda apakah si kecil tumbuh dengan baik atau tidak. Bahkan ketika makanan sudah disiapkan dengan penuh perhatian, mulai dari finger food sehat hingga camilan bergizi, tetap saja ada rasa khawatir jika berat badan anak tidak kunjung naik. Perasaan itu juga dirasakan oleh aktris sekaligus ibu dua anak, Cut Meyriska. Menurutnya, memantau berat badan anak sering membuat para ibu deg-degan setiap bulan.

“Kalau soal berat badan anak itu bikin deg-degan banget, karena angkanya kelihatan jelas dan bisa diukur. Jadi tiap bulan rasanya selalu menunggu hasilnya,” ujar Cut Meyriska pada sesi bincang-bincang Health Corner “Pejuang Berat Badan Anak: Nutrisi Tepat, Tumbuh Hebat” di ABETO Menteng, Jakarta (6/3).

Ia menambahkan bahwa banyak ibu di sekitarnya mengalami hal yang sama. “Kita sudah berusaha memberikan yang terbaik, menyiapkan makanan sehat, finger food, snack bergizi. Tapi kadang hasilnya belum sesuai harapan. Jadi kekhawatiran itu sering muncul lagi,” katanya.

Berat Badan Anak Bukan Sekadar Angka

Dokter Spesialis Anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med.Sc., Sp.A menjelaskan bahwa berat badan dan tinggi badan merupakan dua indikator penting untuk menilai status gizi anak. Kedua parameter ini membantu melihat apakah kebutuhan nutrisi harian anak terpenuhi dengan baik.
“Status gizi anak adalah salah satu tolak ukur apakah kebutuhan asupan gizinya tercukupi dan digunakan secara optimal oleh tubuh. Jika nutrisi terpenuhi dengan baik, tentu tumbuh kembang anak juga akan optimal,” jelas dr. Ian.

Sayangnya, masalah berat badan anak kurang masih cukup banyak terjadi di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi anak balita (bawah lima tahun) dengan berat badan kurang (underweight) masih di angka 16,8 persen, meningkat dari 15,9 persen pada tahun sebelumnya. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko stunting.

Menurut dr. Ian, gangguan pertumbuhan seperti stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya kondisi ini berkembang secara perlahan selama beberapa bulan.

“Misalnya dua atau tiga bulan berat badan anak tidak naik. Kalau tidak segera diintervensi, lama-lama bisa berujung pada stunting,” jelasnya.
dr. Ian juga berbagi contoh kasus nyata yang pernah ia temui dalam praktiknya. Ia menceritakan seorang bayi yang sebenarnya lahir dengan berat badan normal sekitar 3 kilogram. Namun pada bulan pertama, berat badannya sudah turun hingga mendekati garis merah pada kurva pertumbuhan. Kondisi tersebut seharusnya menjadi alarm bagi orang tua untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

“Sayangnya kondisi ini tidak langsung ditangani. Pada bulan kedua berat badannya turun lagi dan semakin jauh di bawah garis normal. Anak tersebut akhirnya datang ke saya pada usia sekitar 16 bulan dengan berat badan hanya 5,6 kilogram,” ungkap dr. Ian.

Menurutnya, kasus seperti ini menunjukkan betapa pentingnya memantau kurva pertumbuhan anak secara rutin. Dengan pemantauan yang konsisten, penurunan berat badan atau perlambatan pertumbuhan bisa dideteksi lebih cepat sehingga intervensi dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi masalah gizi yang lebih serius.

Pentingnya Memantau Kurva Pertumbuhan

Salah satu cara paling sederhana untuk memantau tumbuh kembang anak adalah dengan melihat kurva pertumbuhan di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak).

dr. Ian menekankan bahwa orang tua sebaiknya menimbang berat badan anak secara rutin. “Pada bayi di bawah satu tahun, sebaiknya ditimbang minimal sebulan sekali. Setelah itu tetap perlu dipantau secara berkala minimal 3 bulan sekali sampai anak usia 2 tahun oleh petugas kesehatan. Tujuannya agar kita bisa melihat apakah pertumbuhannya mengikuti jalur kurva yang benar. Jika asupan nutrisi anak senantiasa terpenuhi dan digunakan seoptimal mungkin, tentu tumbuh kembangnya akan optimal. Namun jika sebaliknya, status gizi si Kecil bisa saja bermasalah sehingga berisiko memengaruhi tumbuh kembangnya  hingga dewasa kelak. Oleh karena itu, gejala berat badan kurang atau berat badan anak sulit naik (BB seret) pada anak perlu diwaspadai karena hal ini dapat menandakan gangguan pertumbuhan,” tegas dr. Ian.

Rekor MURI Sarihusada
Sarihusada gelar Edukasi Gizi Anak melalui kampanye “Pejuang Berat Badan Anak”

Ia mengatakan, jika grafik berat badan mulai melandai atau tidak naik selama dua bulan berturut-turut, itu bisa menjadi tanda bahwa anak membutuhkan perhatian lebih. “Banyak orang tua merasa berat badan anak sudah naik dalam sebulan. Padahal belum tentu itu cukup. Patokannya tetap kurva pertumbuhan,” kata dr. Ian.

Ia juga menjelaskan bahwa pada tiga bulan pertama kehidupan, bayi umumnya mengalami kenaikan berat badan sekitar 900 gram per bulan. Sementara pada usia 4–6 bulan, rata-rata kenaikannya sekitar 600 gram per bulan.

Jika BB Seret, Apa yang Perlu Dilakukan?

Ketika berat badan anak sulit naik, langkah pertama adalah mengevaluasi pola makan dan cara pemberian makan. Menurut dr. Ian, ada tiga prinsip penting dalam pemberian makan anak, yaitu waktu yang tepat, cara pemberian makan yang tepat, dan komposisi makanan yang tepat.
“Komposisi makanan harus lengkap. Ada karbohidrat, protein hewani, sayur, buah, dan susu. Protein hewani sangat penting karena memiliki asam amino yang lengkap dan kandungan zat besi tinggi,” jelasnya.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menekankan pentingnya protein hewani seperti telur, ikan, ayam, atau daging sebagai salah satu kunci mencegah masalah gizi pada anak.

Namun jika pola makan sudah baik tetapi berat badan anak tetap tidak naik, dokter biasanya akan melakukan evaluasi lebih lanjut. “Kita perlu melihat kemungkinan penyebab lain, misalnya anemia, alergi, infeksi, atau gangguan penyerapan nutrisi. Jika semuanya normal, bisa jadi anak termasuk picky eater atau small eater,” kata dr. Ian.

Pada kondisi tertentu, dokter juga dapat merekomendasikan asupan dengan kalori lebih tinggi untuk membantu mengejar kenaikan berat badan. Namun, hal ini tetap perlu dilakukan dengan pengawasan tenaga kesehatan. “Jika diperlukan, pada kondisi berat badan rendah atau berat badan yang sulit naik biasanya dokter juga bisa merekomendasikan konsumsi susu tinggi kalori untuk membantu mengejar kenaikan berat badan. Namun pemberiannya harus berdasarkan rekomendasi dan pemantauan dokter spesialis anak,” tambah dr. Ian.

Mengenali Tanda-tanda yang Perlu Diwaspadai

Sebagai ibu, Cut Meyriska mengaku selalu memperhatikan beberapa tanda ketika merasa ada yang tidak beres dengan pertumbuhan anaknya. “Kalau satu atau dua bulan berat badan belum naik, itu sudah jadi alarm buat saya. Selain itu saya lihat juga perilakunya. Apakah nafsu makannya berkurang, apakah dia tetap aktif bermain atau tidak,” ungkapnya.

Menurutnya, anak yang biasanya aktif tetapi tiba-tiba terlihat lemas atau kurang bersemangat bisa menjadi sinyal bahwa orang tua perlu lebih memperhatikan kondisi kesehatannya. “Biasanya anak-anak itu aktif, suka bermain dan berlari. Kalau tiba-tiba makannya berkurang, badannya lemas, atau tidak semangat bermain, itu tanda yang perlu diperhatikan,” tambahnya.

Sebagai seorang ibu, ia juga memahami bahwa kekhawatiran soal berat badan anak adalah hal yang sangat umum. “Untuk para orang tua yang sedang menjadi pejuang berat badan anak, jangan merasa sendirian. Banyak ibu mengalami hal yang sama. Yang penting tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan,” kata Cut Meyriska.

Rekor MURI Skrining Pertumbuhan Anak

Kesadaran akan pentingnya pemantauan pertumbuhan anak juga menjadi latar belakang kampanye edukasi bertajuk “Pejuang Berat Badan Anak” yang diluncurkan Sarihusada dalam momentum Hari Gizi Nasional 2026. Kampanye ini bertujuan mengajak para ibu agar lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, serta pemantauan rutin terhadap berat badan anak agar dapat mencapai berat badan ideal dan terhindar dari gangguan pertumbuhan.

Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) yang telah diinisiasi oleh mereka sejak 2023 dan kampanye aksi “3 Langkah Maju” yang telah meraih Rekor MURI skrining pertumbuhan anak terbanyak dengan menjangkau 1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

CEO PT Sarihusada Generasi Mahardhika, Joris Bernard, mengatakan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak Indonesia. “Kami terus berkomitmen kuat untuk mendukung tumbuh kembang optimal anak-anak Indonesia, khususnya dalam upaya mengatasi masalah gangguan pertumbuhan seperti kondisi berat badan kurang,” ujar Joris.

Ia menjelaskan bahwa pada tahun 2025 gerakan GMBS berhasil mencatatkan dua Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Rekor pertama adalah skrining stunting secara daring kepada peserta terbanyak dengan 1.155.524 peserta, sedangkan rekor kedua adalah penyuluhan dan skrining stunting secara luring kepada 10.195 peserta.

“Pada tahun 2026 ini, komitmen tersebut kami lanjutkan dan perkuat melalui kampanye Pejuang Berat Badan Anak agar edukasi kepada masyarakat semakin luas dan mendorong deteksi dini gangguan pertumbuhan,” lanjut Joris.

Bantu Moms Pantau Pertumbuhan Anak

Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director Sarihusada, Angelia Susanto, menambahkan bahwa banyak ibu sebenarnya sudah proaktif memantau pertumbuhan anak, tetapi sering mengalami kesulitan membaca kurva pertumbuhan di buku KIA.

“Kurva pertumbuhan di buku KIA sebenarnya sangat penting karena mengikuti standar WHO. Namun memplot data secara manual tidak selalu mudah karena informasinya cukup padat,” jelas Angelia.

Untuk membantu para ibu, mereka menyediakan tools digital Growth Checker yang dapat diakses melalui platform Pejuang Berat Badan Anak yang dikembangkan Sarihusada bersama Alodokter. Melalui fitur ini, orang tua cukup memasukkan data tinggi dan berat badan anak untuk melihat hasil kurva pertumbuhan sesuai standar WHO dalam waktu kurang dari satu menit.

“Melalui inisiatif ini kami ingin mengajak para Bunda untuk deteksi sejak dini risiko gangguan pertumbuhan pada si kecil dan bergabung dalam kampanye Pejuang Berat Badan Anak dengan melakukan Growth Checker. Jika terdeteksi lebih awal, intervensi gizi yang tepat bisa segera dilakukan untuk mencegah dampak panjang serius ke depannya,” kata Angelia.

Sebagai orang tua yang sempat menjadi Pejuang Berat Badan Anak, Cut Meyriska sangat mengapresiasi inisiatif ini. “Dengan Growth Checker, Bunda di Indonesia yang sedang mengalami tantangan yang sama sebagai Pejuang Berat Badan Anak bisa mendapatkan kemudahan akses edukasi dan cek pertumbuhan si kecil dengan mudah,” ujar Cut Meyriska.

“Kami percaya, dengan intervensi gizi yang tepat, anak-anak Indonesia bisa tumbuh sehat dan berkembang secara optimal untuk jadi generasi maju,” tutup Angelia.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Menyebarkan Kebaikan si Kecil di Rumah Bisa Jadi Donasi untuk Anak Yatim di Bulan Ramadan
img
Simfoni Rasa Peranakan: Menghidupkan Kembali Legenda Kuliner di Jantung Batavia
img
Pejuang Berat Badan Anak: Cara Moms Menghadapi Masalah BB Seret pada Si Kecil 
img
Kulit Bayi dan Anak Lebih Sensitif, Orang Tua Perlu Cermat Memilih Skincare yang Aman dan Teruji