Pentingnya Menanamkan Literasi Hijau pada Anak Sejak Dini: Anak-anak Belajar Peduli Lingkungan Lewat Global CR Day 2025
Moms dan Dads, pernahkah terbayang kalau kebiasaan kecil anak di rumah –seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air, memakai botol minum –bisa membawa dampak besar bagi bumi? Inilah pentingnya mengajarkan anak literasi hijau. Bukan sekadar mengajarkan teori, tapi membentuk kebiasaan baik sejak dini agar anak tumbuh menjadi generasi yang peduli pada lingkungan.
Itulah yang coba dijawab pada rangkaian program Global CR Day 2025 dan Cahaya Kasih 2025-2026 yang digelar oleh PT Bank Maybank Indonesia, Tbk di Hutan Kota Sangga Buana, Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (27/9) lalu. Kegiatan ini mengintegrasikan kegiatan sukarela karyawan (employee volunteering) dengan inisiatif keberlanjutan dan literasi.
“Ayo, anak-anak siapa bisa jawab? Di sini hutannya indah sekali, banyak pohon. Ada pohon apa saja?” tanya Steffano Ridwan, Presiden Direktur Maybank Indonesia di atas panggung di hadapan ratusan anak-anak sekolah dasar.
Dengan antuasias, bocah-bocah tersebut menjawab berebutan. “Pohon kopi, pohon nangka, pohon sukun…” yang dijawab benar oleh Steffano.
Romy Sidharta, Kepala Bidang Kehutanan Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta, turut bertanya, “Kalau kita habis makan dan sudah mencuci tangan, lebih baik mengelap tangan pakai sapu tangan atau tisu?”. Seorang anak lelaki mengangkat tangannya dan langsung diajak menuju panggung. Ia pun berlari dengan semangat dan langsung menjawab, “Sapu tangan! Karena kalau pakai tisu, setelah dipakai harus dibuang, dan itu bisa menambah sampah. Kalau sapu tangan, bisa dicuci dan dipakai lagi,” jawabnya yang disambut dengan tepuk tangan meriah.
Program Global Corporate Responsibility Day dilakukan serentak di seluruh dunia. Dan di Indonesia, kegiatan tersebut memasuki pelaksanaan yang ke-13 dan dilaksanakan sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan dan target Carbon Neutral 2030. Mengusung tema “The Next Chapter of Negeri di Awan: Literasi Hijau”, fokus mereka tidak hanya pada peningkatan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di sekolah dasar, tetapi juga memperluas makna literasi menjadi “literasi hijau”, yaitu sebuah pendekatan yang menanamkan kesadaran tentang lingkungan.
Rangkaian kegiatan tahun ini dirancang agar anak-anak bisa belajar lewat pengalaman nyata. Ada lomba mewarnai, puisi, hingga cerdas cermat bertema lingkungan untuk siswa sekolah dasar. Ada pula kegiatan menanam lebih dari 2.000 pohon produktif, melepas bibit ikan di sistem Bioflok, serta pengelolaan sampah organik dengan pemanfaatan komposter/black soldier fly.
Tak berhenti di situ, sebanyak 66 kantor cabang bank tersebut di seluruh negeri juga ikut menanam pohon dan melibatkan para relawan karyawan dalam kegiatan edukasi lingkungan bersama komunitas, guru, dan orang tua. Pohon-pohon ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga memberi nilai tambah ekonomi untuk masyarakat sekitar.
“Melalui keterlibatan aktif anak-anak, orang tua, guru, hingga relawan, kami berharap program ini dapat membantu menciptakan generasi yang lebih peduli, tangguh, dan siap menghadapi tantangan global menuju masa depan yang berkelanjutan,” ujar Steffano Ridwan.
Hal ini diamini oleh Maria Trifanny Fransiska, Head of Sustainability. Pihaknya memilih menyasar anak-anak karena edukasi harus dimulai sejak kecil. “Anak-anak masih polos, mudah menerima informasi, sehingga diharapkan bisa terbentuk perilaku peduli lingkungan sejak dini. Kami pilih Hutan Kota Sangga Buana karena lahannya luas, rindang, masih asli, dan memiliki nilai ekonomi dari tanaman produktif maupun budidaya ikan nila di pinggir sungai. Jadi cocok untuk menegaskan komitmen literasi hijau,” katanya.
Kegiatan literasi hijau juga sangat diapresiasi oleh Chaeruddin atau yang dikenal dengan Babe Idin, Pelopor Pelestari Lingkungan dan Penjaga Kali Pesanggrahan Jakarta Selatan. “Gara-gara tanaman produktif (kopi) dan pengelolaan sampah, kita bisa membuka kekuatan ekonomi. Soal kopi, kopi kita diminati di beberapa negara. Mereka datang ke sini sebagai pembeli. Saya tidak pernah pinjam uang negara, tapi bisa memberi penghidupan untuk ribuan orang melalui sayuran, kopi, dan hasil bumi yang dikelola. Inilah bukti bahwa dari sampah pun bisa jadi uang. Dari budidaya, kita bisa selamatkan alam,” imbuh Babe Idin yang juga merupakan Pendiri Kelompok Tani Lingkungan Hidup (KTLH) Sangga Buana.
Bagi keluarga, kegiatan ini memberi kesempatan untuk belajar bersama. Program Cahaya Kasih 2025–2026 misalnya, menargetkan keterlibatan 3.600 anak usia dini dan sekolah dasar, serta 720 orang tua. Mereka diajak mengikuti kegiatan literasi keuangan, literasi hijau, hingga pelatihan pengelolaan sampah organik dengan metode komposter dan black soldier flies.
“Kita tahu, ancaman sampah di Indonesia sangat luar biasa. Sungai-sungai kita banyak tercemar karena sampah dibuang sembarangan. Kalau kita bandingkan dengan Jepang, walau tempat sampah sulit ditemukan tapi orang tidak membuang sampah sembarangan. Kita harus mulai membangun kesadaran peduli lingkungan itu sejak dini,” imbuh Stefanno.
Selain itu, para relawan karyawan akan rutin mengunjungi pusat baca dan komunitas untuk mendampingi proses belajar selama satu tahun penuh. Dengan begitu, literasi bukan hanya berhenti di ruang kelas, melainkan bisa menjadi kebiasaan sehari-hari di rumah dan lingkungan sekitar.
Langkah kecil seperti menanam pohon atau mengelola sampah organik memang terlihat sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar ketika dilakukan bersama. Bagi anak-anak, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga untuk memahami bahwa keberlanjutan bukan hanya isu global, tetapi sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini sangat positif, dilakukan di berbagai titik di Indonesia. Kami mendukung penuh dan berharap ini menjadi motor penggerak peningkatan literasi keuangan, terutama bagi anak-anak sekolah dasar. Pelajar dan anak-anak memang menjadi salah satu segmen prioritas OJK dalam literasi,” ujar Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK.
Ya, dengan pendekatan menyeluruh yang melibatkan anak-anak, orang tua, guru, hingga komunitas, literasi kini hadir dengan makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar soal membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk memahami, mencintai, dan menjaga lingkungan.
“Melalui Cahaya Kasih, kami ingin meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak sebagai generasi bangsa serta menanamkan pemahaman bahwa keberlanjutan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Kami percaya pendidikan dan lingkungan adalah dua pilar yang saling menguatkan untuk masa depan Indonesia,” tutup Steffano.