ads

Perempuan Jadi Jantung Kebangkitan Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan di Desa

Novita Sari - Jumat, 26 Juni 2026
Melalui kolaborasi lintas sektor, kini saatnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi para ibu di desa untuk memimpin perubahan, menjaga bumi, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga. Foto: Ist
Melalui kolaborasi lintas sektor, kini saatnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi para ibu di desa untuk memimpin perubahan, menjaga bumi, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga. Foto: Ist
A A A

Di balik keindahan kain tenun dan kehangatan masakan tradisi, ada jemari perempuan desa yang tengah menggerakkan roda ekonomi baru. Melalui forum diskusi yang digelar di Jakarta baru-baru ini, para pembuat kebijakan sepakat bahwa perempuan bukan lagi sekadar penonton, melainkan jantung dari kebangkitan ekonomi yang ramah alam.

Melalui kolaborasi lintas sektor, kini saatnya memberikan ruang seluas-luasnya bagi para ibu di desa untuk memimpin perubahan, menjaga bumi, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga.

Hal itu terungkap di hari pertama Kunstkring Dialogue: Forum Ekonomi Restoratif di Tugu Kunstkring Paleis, Rabu (24/6) yang menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas kementerian dalam membangun sebuah sistem ekonomi yang mensejahterakan manusia dan memuliakan alam dengan perempuan sebagai aktor utamanya.

“Selama kita kerja terpisah-pisah dan parsial maka tujuan memberdayakan perempuan ini tidak akan pernah tercapai, karena, misalnya, wewenang dan kemampuan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) itu terbatas, dan ada kewenangan-kewenangan di kementerian lainnya yang akan sangat membantu mendorong pemberdayaan perempuan dan ekonomi restoratif ini,” papar Wamen PPPA, Veronica Tan.

Dialog ini diprakarsai oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) bersama Penabulu-Oxfam. Dialog yang mengajak para pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, dan masyarakat adat untuk duduk bersama bertukar gagasan dan membangun komitmen bersama ini merupakan bagian dari pameran wastra Weaving Wonders: Tenun, Pangan, Energi, dan Perempuan. Dari Warisan ke Kekuatan Ekonomi, yang diselenggarakan di tempat yang sama oleh Yayasan Uma Nusantara.

Mengangkat tema "Ekosistem Pendukung Ekonomi Restoratif: Kebijakan dan Layanan bagi Inisiatif Lokal", diskusi ini menegaskan satu gagasan utama: ekonomi restoratif Indonesia harus dibangun di atas agensi perempuan, agar perempuan dapat menjadi pelaku ekonomi yang tangguh, mandiri, dan berdaya di setiap level, mulai dari unit keluarga, kelompok warga, desa, hingga kabupaten. Forum dialog kebijakan hari ini berlangsung dalam dua sesi utama yang menghadirkan jajaran pejabat tinggi pemerintah pusat.

Sesi pertama, dipandu oleh jurnalis senior Desi Anwar, dengan pemantik diskusi Alamsyah Saragih. Sesi ini menghadirkan enam panelis: Daniel Daud Kameo (Guru Besar Universitas Satya Wacana), Yandri Susanto (Menteri Desa dan PDT), Veronica Tan (Wakil Menteri PPPA), Faisol Riza (Wakil Menteri Perindustrian), Ni Luh Puspa (Wakil Menteri Pariwisata), dan Catur Endah Prasetiani (Dirjen Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan).

Sebagai pembuka rangkaian dialog, Menteri Desa dan PDT Yandri Susanto menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara perputaran roda ekonomi dan keberlanjutan budaya lokal. “Program SEHATI mendorong swasembada pangan dan ketahanan iklim dengan menjaga kelestarian lanskap dan budaya lokal. Keterlibatan pihak luar tetap terbuka, namun tanpa mengubah identitas desa. Melalui ekonomi restoratif, seluruh rantai ekonomi desa diperkuat agar manfaat pembangunan dirasakan secara adil dan tidak ada yang tertinggal.” tegasnya.

Pernyataan tersebut kemudian didukung oleh Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang menegaskan posisi strategis perempuan dalam transformasi ekonomi yang berkelanjutan. “Perempuan adalah jantung pariwisata restoratif. Bagaimana perempuan di desa menjadi pusat pelestarian lingkungan dan penggerak ekonomi keluarga menjadi kekuatan nyata dari ekonomi restoratif,” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan semangat besar forum: menempatkan perempuan bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan penjaga, perawat, dan penggerak utama sistem kehidupan yang menopang ketahanan pangan, sumber daya alam, dan ketahanan komunitas.

Tidak berhenti di situ, diskusi bersambung pada sesi kedua yang dipandu oleh Rosianna Silalahi, dengan menghadirkan Veronica Tan (Wakil Menteri PPPA), Dyah Roro Esti Widya Putri (Wakil Menteri Perdagangan), Erik Teguh Primiantoro (Staf Ahli Kementerian Lingkungan Hidup), Sukiptiyah (Sesditjen Penataan Agraria) serta Mama Erna dari masyarakat adat Wogo.

Rangkaian diskusi kemudian ditutup dengan makan malam bersama, menyajikan menu khas dari Mama-mama Desa Adat Wogo, Kecamatan Golewa, Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur yang menjadi sebuah simbol nyata bagaimana pengetahuan dan keterampilan perempuan lokal turut menghidupkan forum ini, sekaligus memperkenalkan kekayaan kuliner dan budaya Nusa Tenggara Timur kepada para pemangku kebijakan nasional.

Rangkaian dialog berlanjut hingga 26 Juni 2026 dengan menghadirkan forum lintas pelaku yang membahas energi terbarukan berkeadilan gender, Ekonomi ASIK (Alam, Sejarah, Imajinasi, Kolaborasi), serta peran komunitas adat di sekitar kawasan konservasi.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Bepergian Bersama si Kecil Tak Harus Ribet, Kini Ada Inovasi Baru pada Stroller 
img
Perempuan Jadi Jantung Kebangkitan Ekonomi dan Pelestarian Lingkungan di Desa
img
Terinspirasi dari Kebiasaan Orang Indonesia Rebahan di Lantai, Intip Cara Baru Atasi Gerah Fisik dan Pikiran
img
Lengkapi Momen Liburan yang Seru dan Manis dengan Camilan Favorit Keluarga