Perlu Moms Ketahui, Berikut Racun yang Tak Mati Meski Sudah Dimasak!
Tidak sedikit orang beranggapan bahwa racun akan mati ketika sudah dimasak. Nyatanya beberapa jenis racun alami maupun kimia tetap aktif dan mematikan meskipun telah dimasak, direbus, atau digoreng pada suhu tinggi. Proses memasak biasa hanya membunuh bakteri atau kuman, tetapi tidak merusak struktur kimia dari beberapa toksin tertentu.
Pada bulan September lalu, ratusan siswa di Berastagi, Kabupaten Karo, mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara menemukan tiga bakteri yaitu; Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, dan Escherichia coli, pada sampel makanan tersebut. Dokter dan pendidik gizi, Tan Shot Yen menyebut temuan tiga bakteri sekaligus itu “pengabaian yang amat keterlaluan”. Masalahnya tidak selesai dengan memasak lebih matang. Menurut Tan, bakteri menghasilkan racun (toksin) bila makanan terlalu lama berada pada suhu 5–60 derajat Celsius, rentang yang disebut suhu kritis. “Pada proses pemasakan bakteri bisa saja mati, tapi toksinnya tahan panas. Berlaku bagi semua kontaminan,” katanya.
Bacillus cereus adalah contoh paling jelas. “Bakteri pembentuk spora yang sering mencemari beras dan nasi. Sporanya tahan panas, sehingga tidak mati saat nasi dimasak, terutama pada nasi yang disimpan pada suhu ruang,” kata Tan. Racun yang dihasilkannya, cereulide, memicu mual dan muntah dalam 30 menit sampai enam jam setelah makan.
Ditanya tahap mana yang paling berisiko, Tan menolak memilih. “Mulai dari pemilihan bahan, penyimpanan, pengolahan, pemasakan, pemorsian, hingga saat dimakan. Itu titik krusial,” ujarnya. Ia menyebut HACCP, atau sistem pengendalian bahaya di setiap titik rantai makanan, sebagai hal yang tidak bisa ditawar untuk dapur berskala ribuan porsi.
Tan juga meluruskan kabar bahwa seorang siswi Karo “hilang ingatan” setelah keracunan. Yang mungkin terjadi akibat racun saraf adalah ensefalopati, gangguan fungsi otak yang bisa membuat penderita linglung. “Ensefalopati bukan hilang ingatan seperti amnesia,” katanya. Soal siapa yang paling rentan, jawabannya singkat, yaitu semua sama risikonya.
Bakteri yang sama juga sudah menjangkau pabrik berstandar tinggi. Pada 14 Januari 2026, BPOM mengumumkan penarikan dua bets susu formula bayi S-26 Promil Gold pHPro 1 produksi Nestlé di Swiss karena potensi keberadaan toksin cereulide yang berasal dari bakteri Bacillus Cereus pada bahan bakunya, minyak ARA (asam lemak yang ditambahkan ke susu formula). Uji BPOM tidak mendeteksi racun itu, tetapi produknya tetap ditarik sebagai langkah kehati-hatian. Sembilan hari kemudian, otoritas pangan Irlandia mengumumkan Danone menarik bets Aptamil dan Cow & Gate karena bahan baku ARA yang sama, buatan pemasok di Cina. Penarikan dua produsen itu menjangkau hampir 70 negara.
Bagaimana racun bisa lolos dari pabrik? Bagi Tan, jawabannya sederhana. “Pasti ada kontaminasi. Susu bubuk bukan produk steril,” katanya. Racun yang sudah terbentuk di bahan baku tidak hilang di tahap pengolahan, sama seperti di dapur MBG.
Dua kasus, satu mekanisme, yaitu toksin atau racun yang telanjur terbentuk tidak bisa dimatikan oleh panas, jadi pencegahan harus terjadi sebelum itu, di dapur maupun di rantai pasok pabrik. Untuk pemerintah, Tan meminta satu hal, “Kontrol. Monitoring dan supervisi pihak terkait.” Untuk orang tua, pesannya lebih tegas, “Pastikan anak mendapat hak ASI hingga dua tahun atau lebih. Formula hanya atas indikasi medis,” tutupnya.