ads

Putri Ayudya Hadirkan Dinamika 3 Generasi Perempuan Jawa dalam Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” 

Efa Trapulina - Sabtu, 25 April 2026
Sukses bius penonton, Putri Ayudya perankan tiga generasi perempuan Jawa dalam pementasan Dapur Sumur Tutur di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, 25 April 2026 (Foto: Ist)
Sukses bius penonton, Putri Ayudya perankan tiga generasi perempuan Jawa dalam pementasan Dapur Sumur Tutur di Galeri Indonesia Kaya, Sabtu, 25 April 2026 (Foto: Ist)
A A A

Putri Ayudya kembali menunjukkan kemampuan aktingnya dalam pementasan pertunjukan satu orang (one man show) bertajuk “Dapur Sumur Tutur” di Galeri Indonesia Kaya (GIK), Grand Indonesia, Sabtu (25/4).

Aktris, presenter dan dosen ini sukses membius para penikmat seni selama kurang lebih 1 jam 15 menit. Menariknya lagi, walau berlakon seorang diri, Ayudya mampu berinteraksi dan melibatkan penonton dalam aksi panggungnya. Tak ayal, penampilan ciamiknya menghasilkan apresiasi aplaus meriah.

Dapur Sumur Tutur sendiri menyoroti dinamika perempuan lintas generasi di tengah perubahan nilai dan tradisi. Putri Ayudya mengajak penonton menyelami kisah 3 generasi perempuan Jawa dalam satu keluarga. Wanita yang telah telah dua kali dinominasikan sebagai Pemeran Wanita Terbaik FFI dan meraih Piala Maya ini, hadir dalam sosok YangTi (Eyang Putri/Nenek), Ibuk, dan Mbak (anak perempuan bernama Gita) dalam momen sakral peringatan seribu hari wafatnya Eyang Kakung. 

Melalui sudut pandang ketiga karakter itu, hadir dialog batin tentang tradisi, relasi keluarga serta konflik. Dengan pendekatan pertunjukan satu orang yang bersifat imersif, karya yang diproduseri oleh Nosa Nurmanda dan disutradarai oleh Ben Bening ini menghadirkan pengalaman yang intim dan reflektif bagi penonton.

Putri Ayudya dalam sosok karakter YangTi dan melibatkan penonton dalam lakonnya
Putri Ayudya dalam sosok karakter YangTi dan melibatkan penonton dalam lakonnya

Selaku aktor tunggal, Putri Ayudya memaparkan bahwa karya ini lahir dari pengalaman personal dan hasil riset bersama tim kreatif. Kisah dalam Dapur Sumur Tutur, menurut Putri Ayudya, berangkat dari kegelisahan sebagai perempuan Jawa generasi milenial. “Sebagian materi berasal dari pengalaman pribadi kami dan sebagian lainnya dari riset tentang perempuan Jawa, generational trauma, serta proses reparenting. Judul Dapur Sumur Tutur sendiri menggambarkan perubahan peran perempuan, dari yang semula terbatas di ranah domestik menjadi ruang bertutur dan menyuarakan pengalaman,” imbuhnya.

Salah satu isu yang diangkat dalam pertunjukan ini adalah sandwich generation dan ageism sebagai refleksi kondisi sosial saat ini, ketika jumlah populasi lansia terus meningkat, sementara jumlah usia produktif semakin terbatas. 

Dapur Sumur Tutur

Situasi ini membuat generasi muda harus memikul beban ekonomi sekaligus perawatan keluarga yang lebih besar, di tengah keterbatasan akses pekerjaan dan kemandirian bagi kelompok usia lanjut. Dalam konteks ini, perempuan kerap berada di garis depan, tidak terlepas dari nilai dan tradisi yang menempatkan mereka sebagai pengurus utama orang tua di masa tua. Realitas ini mencerminkan kuatnya ekspektasi gender yang menempatkan perempuan sebagai caretaker utama dalam keluarga.

Yang menarik, meskipun diperankan oleh satu orang, Putri Ayudya berhasil masuk ke dalam karakter YangTi, Ibuk maupun Mbak. Sosok YangTi ia bawakan dengan peran berfisik rapuh, memegang tongkat, bertutur bahasa Jawa, suara dalam dan agak serak. Sementara sosok Ibuk ia hadirkan dalam wujud wanita Jawa yang lemah lembut. Sementara generasi milenial yang terus terang, apa adanya, serba cepat dan mandiri, pun sukses ia munculkan  dalam sosok Mbak (Gita). Perubahan lakon setiap tokoh tak membuat penonton bingung, sebab Putri Ayudya mampu memisahkan ketiga karakternya dengan apik. 

Nosa Nurmanda sebagai Produser menjelaskan bahwa pemilihan tiga generasi perempuan dan latar peringatan seribu hari kematian memiliki makna simbolis. “Momen ini adalah ruang refleksi keluarga, ketika duka sudah mengendap dan bisa dimaknai ulang. Di situlah kita melihat bagaimana nilai, luka, dan cara pandang diwariskan antar generasi, terkadang tanpa disadari. Harapannya, melalui pertunjukan ini penonton dapat lebih memahami bahwa tradisi dapat terus hidup dan relevan jika disikapi secara bijaksana,” imbuhnya.

Selaku Sutradara, Ben Bening mencoba menjawab pertanyaan tentang kebebasan perempuan, apakah di masa modern ini perempuan sudah benar-benar bebas menentukan mimpi, pilihan hidup maupun ruang yang ia ingin tempati. “Pertunjukan ini berangkat dari pertanyaan tersebut, yang bagi kami akan selalu relevan, sudahkah perempuan benar-benar bebas?” katanya.

Pertunjukan Dapur Sumur Tutur didukung oleh elemen artistik seperti lagu latar dan efek suara yang dikomposisikan oleh Taufan Iskandar. Tata cahaya, serta elemen visual yang ditampilkan melalui layar menambah kuatnya atmosfer pementasan dan  membantu penonton menyelami emosi serta dinamika antar generasi dalam karya ini. 

“Melalui cerita yang personal dan pendekatan artistik yang kuat, kami berharap pertunjukan ini dapat membuka ruang refleksi bagi penikmat seni tentang dinamika keluarga, peran perempuan, serta perubahan nilai budaya yang terus berlangsung,” tutup Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

Pertunjukan ini sekaligus menjadi penutup rangkaian pertunjukan seni akhir pekan di Galeri Indonesia Kaya sepanjang bulan April.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Putri Ayudya Hadirkan Dinamika 3 Generasi Perempuan Jawa dalam Pertunjukan “Dapur Sumur Tutur” 
img
Bukan Cuma Kulit Mulus, Ternyata Fondasi Wajah Juga Perlu Dijaga, Lho!
img
Tetap Segar dan Wangi, Cara Pria Modern Menjaga Percaya Diri dan Mental Juara Setiap Hari
img
Wujudkan Liburan Ramah Lingkungan, Dorong Adopsi Pariwisata Berkelanjutan di Indonesia