Rizky Ridho Tantang 22 Anak Main Bola, Ajak Anak-anak Lebih Aktif di Luar Rumah
Di zaman serba digital saat ini, banyak anak-anak yang semakin jarang bermain di luar rumah. Mayoritas waktu mereka dihabiskan di dalam ruangan dengan gadget, padahal aktivitas fisik justru menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang. Melihat kondisi ini, Rizky Ridho, pemain Tim Nasional Sepak Bola Indonesia bersama Rinso yang baru saja meluncurkan kampanye #Mainkan, mengajak anak-anak untuk kembali bergerak aktif lewat kegiatan bermain di luar.
Ajakan tersebut diwujudkan melalui sebuah friendly match yang mempertemukan Rizky Ridho dengan 22 anak terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Kalimantan, Jawa Timur, hingga Jawa Tengah sebagai bagian dari peluncuran kampanye. Menariknya, peserta yang terlibat bukan hanya anak laki-laki, tetapi juga anak perempuan.
Bagi Rizky Ridho, bermain di luar adalah pengalaman penting yang membentuk dirinya hingga hari ini.
“Saya dulu lebih sering bermain di luar rumah daripada di dalam. Orang tua juga mendukung, salah satunya dengan membiarkan saya main bola. Pulang-pulang kotor, jatuh, itu biasa,” ungkapnya dalam acara konferensi pers peluncuran kampanye #Mainkan di ASIOP Stadium, Jakarta (24/01).
Bek tengah andalan Timnas Indonesia ini bersyukur dibesarkan dengan kebebasan untuk bermain. Sepulang sekolah, Ridho menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman. “Hal-hal itu yang bikin saya jadi lebih tangguh. Dari sana juga mungkin saya bisa berkembang sampai akhirnya bermain bola seperti sekarang,” lanjutnya.
Menurut Ridho, kondisi anak-anak saat ini cukup berbeda. Banyak yang lebih memilih bermain gadget di rumah. Karena itu, ia mendorong orang tua untuk memberi ruang lebih bagi anak agar aktif bergerak. “Saran saya, perbanyak waktu bermain di luar dan menghabiskan waktu bersama teman-teman,” katanya.
Fenomena berkurangnya aktivitas bermain di luar ruangan juga disoroti oleh Ita Karo Karo, Fabric Clean & Unilever Professional Marketing Lead. Ia menjelaskan bahwa dari sudut pandang orang tua, harapan terhadap anak tentu ingin melihat mereka tumbuh tangguh, persisten, memiliki daya juang, dan mental pemenang. Namun pada praktiknya, banyak orang tua justru diliputi kekhawatiran. “Takut anak jatuh, takut baju kotor, dan berbagai kekhawatiran lainnya,” ujar Ita.
Padahal, berdasarkan data UNICEF, anak-anak kini memang semakin jarang bermain di luar ruangan dibandingkan beberapa tahun lalu. Ita menilai, kekhawatiran yang berlebihan justru dapat menghambat proses belajar anak. “Kami ingin mengedukasi bahwa tidak apa-apa membiarkan anak bermain. Tidak perlu terlalu overprotektif, karena dengan melakukan dan bermain, tumbuh kembang anak bisa berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Ita menjelaskan bahwa kampanye #Mainkan mengajak orang tua untuk mendorong anak aktif bermain tanpa takut kotor. Kampanye ini menegaskan bahwa bermain adalah cara anak mengenal dunia dimulai dari keseharian seperti berlari, jatuh, berkeringat, hingga pakaian yang kotor.
“Pesan kami adalah berani kotor itu baik. Baju kotor adalah tanda anak sedang aktif, bahagia, dan berani bereksplorasi,” kata Ita.
Menurutnya, manfaat bermain bukan hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk perkembangan psikologis dan sosial anak. “Saat anak bahagia, pertumbuhannya menjadi sangat optimal, termasuk kemampuan sosialnya.”
Sebagai bagian dari kampanye ini, digelar friendly match antara Rizky Ridho dan 22 anak pemenang kampanye digital di ASIOP Stadium pada Sabtu (24/01). Kegiatan ini menjadi simbol ajakan agar anak-anak mau bergerak aktif dan menghabiskan lebih banyak waktu di luar ruangan. Muhammad Athallah, salah satu pemenang Tim Friendly Match dari Banjarmasin yang berkesempatan melawan Rizky Ridho bermain bola, menceritakan kesehariannya dengan polos. Ia biasa bermain bola di depan musala bersama teman-temannya dan sering menjadi penjaga gawang. Ia pun dengan percaya diri mengaku siap ditantang oleh Kak Ridho. “Sudah siap!” katanya tersenyum.
Ita menambahkan, membiarkan anak bermain di luar berarti memberi mereka kesempatan belajar dari pengalaman. “Walaupun jatuh atau terpeleset, anak belajar bangkit kembali, bertemu anak-anak lain, belajar terkoneksi, lalu mengulang proses itu lagi keesokan harinya. Proses ini sangat indah bagi pertumbuhan seorang anak,” ujarnya.
Melalui kampanye ini, pihaknya menegaskan komitmen untuk terus mengajak keluarga dan masyarakat agar mau meluangkan waktu bermain bersama anak. “Karena di balik pakaian kotor, ada anak yang sedang belajar menjadi lebih aktif, percaya diri, dan bahagia,” tutup Ita.