Tak Hanya Kenyang, Pastikan Si Kecil Terpenuhi Zat Gizi Makro dan Mikro
Menurut survei kepada ribuan ibu menggambarkan kesenjangan antara harapan orang tua agar anak tumbuh optimal, dengan realita pemenuhan nutrisi harian di rumah. Selain itu, mayoritas orang tua menjadikan tinggi badan, berat badan, dan kemampuan kognitif yakni anak cepat tanggap sebagai indikator utama tumbuh kembang anak. Namun, masih terdapat tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian yang mendukung indikator tersebut secara optimal.
Sekitar 60 persen orang tua menjadikan tinggi badan dan kemampuan kognitif sebagai indikator utama tumbuh kembang, namun di sisi lain 69,76 persen responden belum memahami perbedaan zat gizi makro dan mikro, serta 62,87 persen merasa zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral paling sulit dipenuhi setiap hari. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun perhatian terhadap pertumbuhan anak cukup tinggi, tantangan dalam memastikan kualitas dan kelengkapan nutrisi harian masih perlu mendapat perhatian lebih. Selain itu hasil riset juga menunjukkan bahwa 69 persen orang tua menyatakan tantangan terbesar dalam memenuhi kebutuhan gizi anak adalah anak yang pilih-pilih makanan.
dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi, menekankan bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya sebatas memastikan anak merasa kenyang, tetapi juga harus memperhatikan keseimbangan antara nutrien makro dan mikro secara optimal. Orang tua memegang peran sentral dalam menentukan jenis makanan yang dikonsumsi anak, waktu pemberian makan, serta pola makan yang diterapkan di rumah. “Orang tua memiliki andil besar dalam menentukan apa yang akan dimakan oleh anak, kapan anak makan, dan bagaimana anak akan makan. Namun, anak sendiri yang menentukan seberapa banyak ia akan makan. Oleh sebab itu, dalam proses pemberian makan, tidak boleh ada unsur pemaksaan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dokter Juwalita menjelaskan bahwa pada periode emas pertumbuhan anak usia 1–5 tahun, terdapat kebutuhan nutrien makro dan mikro yang harus terpenuhi secara seimbang. Pemilihan bahan makanan pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pada tahap usia tersebut. Beberapa mikronutrien penting yang dibutuhkan anak antara lain zat besi, vitamin A, vitamin D, zinc, serta DHA yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak. Selain aspek nutrisi, dokter Juwalita juga menekankan pentingnya stimulasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses tumbuh kembang anak. Stimulasi dapat dilakukan melalui aktivitas sederhana seperti mengajak anak berbicara, membacakan buku, maupun bermain bersama. “Peran orang tua sangat krusial dalam memastikan kecukupan gizi sekaligus memberikan stimulasi yang tepat, karena keduanya merupakan fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal,” tegasnya.
Melengkapi perspektif tersebut, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Medical & Scientific Affairs Director Danone Indonesia, menegaskan bahwa tantangan pemenuhan gizi anak tidak hanya berkaitan dengan kuantitas asupan, tetapi juga kualitas serta kelengkapan nutrisinya. “Banyak orang tua merasa anak sudah cukup makan. Namun, kenyang belum tentu lengkap. Anak membutuhkan kombinasi protein berkualitas, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, Omega-3, serta berbagai vitamin dan mineral esensial lainnya untuk mendukung pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitifnya. Nutrisi tersebut bekerja secara sinergis, sehingga keseimbangan menjadi sangat penting. Dalam kondisi tertentu, dukungan dari asupan padat gizi seperti susu fortifikasi yang mengandung protein, zat besi, zinc, vitamin C, DHA, dan Omega-3 dapat membantu melengkapi kebutuhan harian anak sebagai bagian dari pola makan seimbang,” ujar dokter Ray.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa hasil riset Danone Indonesia bersama Indonesia Nutrition Association (INA) menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengkonsumsi susu terfortifikasi zat besi, delapan kali lebih banyak anak yang tercukupi kebutuhan zat besinya dan anak dengan cukup zat besi terbukti 20 persen lebih tinggi” ujarnya
Pada usia dini, kebutuhan nutrien anak meningkat pesat, sementara kapasitas konsumsi makanannya masih relatif terbatas. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang padat gizi (nutrient-dense foods), termasuk susu fortifikasi, menjadi langkah strategis dalam mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi harian anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang dan beragam.
Dhea Ananda, Ibu sekaligus Figur Publik, turut membagikan pengalamannya dalam menghadapi tantangan anak yang cenderung selektif terhadap makanan. Ia mengakui bahwa di balik harapan setiap orang tua agar anak tumbuh optimal, masih terdapat kesenjangan antara ekspektasi dan praktik sehari-hari. “Sebagai orang tua, kita tentu ingin anak tumbuh tinggi, berat badannya ideal, dan kemampuan kognitifnya berkembang dengan baik. Itu biasanya menjadi indikator utama yang kita lihat. Namun, saya menyadari bahwa memahami kebutuhan nutrisi anak secara menyeluruh tidak sesederhana itu. Awalnya, saya juga belum terlalu memahami perbedaan antara zat gizi makro dan mikro. Yang saya tahu hanya sebatas karbohidrat, protein, dan serat. Padahal, vitamin dan mineral justru memiliki peran penting dan sering kali lebih menantang untuk dipenuhi setiap hari,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari pentingnya edukasi gizi yang praktis dan mudah dipahami. “Banyak orang tua merasa anak sudah makan cukup, tetapi belum tentu nutrisinya sudah lengkap. Edukasi yang tepat membantu saya lebih percaya diri dalam memilih asupan, termasuk memberikan susu fortifikasi untuk membantu melengkapi kebutuhan mikronutrien anak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang,” ujarnya.