ads

20 Tahun Dukung Peneliti Muda, Gali Potensi Pangan Lokal untuk Kesehatan

Novita Sari - Kamis, 08 Oktober 2026
Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (paling kanan) dan Suaimi Suriady, Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (paling kiri) mengapit perwakilan mahasiswa penerima program IRN 2026-2027. Foto: Novi
Franciscus Welirang, Direktur PT Indofood Sukses Makmur Tbk (paling kanan) dan Suaimi Suriady, Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (paling kiri) mengapit perwakilan mahasiswa penerima program IRN 2026-2027. Foto: Novi
A A A

Kekayaan pangan Indonesia tidak hanya terletak pada beras, jagung, atau kedelai. Di berbagai daerah, tersimpan beragam sumber pangan lokal seperti sagu, sorgum, sukun, garut, gembili, kacang-kacangan lokal, rumput laut hingga aneka pangan tradisional yang berpotensi dikembangkan menjadi solusi pangan masa depan.

Potensi tersebut menjadi perhatian dalam Simposium Pangan Nasional 2026 yang digelar dalam rangka 20 tahun Program Indofood Riset Nugraha (IRN). Mengangkat tema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa”, forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, peneliti, dan industri untuk membahas bagaimana kekayaan pangan Indonesia dapat diolah melalui riset menjadi inovasi yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat.

Foto: Novi
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy menyampaikan sambutan di acara Simposium Pangan Nasional  2026 bertema “Inovasi Pangan Fungsional Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Bangsa” di Indofood Tower, Jakarta, Kamis (8/10/2026). Foto: Novi

Memasuki dua dekade perjalanan, IRN kembali menegaskan komitmennya mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Sejak diluncurkan pada 2006 sebagai kelanjutan Program Bogasari Nugraha yang telah dirintis sejak 1998, mereka telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa S1 dari lebih dari 200 perguruan tinggi di Indonesia, mulai Aceh hingga Papua.

“Dua puluh tahun perjalanan merupakan wujud konsistensi kami dalam mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi, memperkuat kemampuan ilmiah, dan mengembangkan kekayaan pangan lokal menjadi gagasan inovasi yang relevan bagi masyarakat,” ujar Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Kamis (08/10) di Jakarta.

Menurutnya, sebagai perusahaan Total Food Solutions yang lahir dan berkembang di Indonesia, mereka melihat riset dan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian penting dalam membangun masa depan pangan Indonesia.

Dari Pangan Lokal Menjadi Inovasi

Salah satu hal menarik dari perjalanan program ini adalah semakin beragamnya sumber daya lokal yang menjadi objek penelitian mahasiswa. Tidak sedikit penelitian yang berangkat dari bahan yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat, tetapi belum banyak dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Dalam program IRN 2026–2027, misalnya, terdapat penelitian yang mengeksplorasi berbagai sumber daya pangan dan pertanian lokal. Sebanyak 83 mahasiswa dari 55 perguruan tinggi terpilih untuk mendapatkan dukungan dana penelitian dan pendampingan Tim Pakar selama satu tahun.

Sementara itu, sejumlah penelitian yang mendapatkan penghargaan sebagai peneliti terbaik di periode 2025–2026 memperlihatkan luasnya peluang inovasi tersebut.

Abdul Kohar dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember mengembangkan produksi silooligosakarida (SOS) dari ampas tebu melalui hidrolisis enzimatik sebagai kandidat prebiotik. Penelitian ini menarik karena mencoba meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian menjadi bahan yang berpotensi mendukung kesehatan mikrobiota usus.

Penelitian lain dilakukan Adinda Nurwulandari dari Universitas Lampung yang mengeksplorasi senyawa bioaktif dan aktivitas antihiperkolesterolemia dari anggur laut atau Caulerpa. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sumber daya laut sebagai bahan pangan fungsional.

Dari Universitas Jember, Elen Bethania Pasaribu mengembangkan keju nabati berbasis edamame dan ubi kuning sebagai alternatif pangan rendah laktosa. Gagasan tersebut berangkat dari kebutuhan untuk memperluas pilihan produk pangan yang dapat diterima oleh masyarakat, sekaligus meningkatkan nilai tambah bahan pangan lokal.

Sementara itu, Kemal Abdul Malik dari Institut Pertanian Bogor mengembangkan pupuk nano berbasis pati talas dengan memanfaatkan bahan dari limbah temu kunci. Penelitian ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen dan fosfor pada lahan sawah.

Beragam penelitian tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pangan tidak selalu harus dimulai dari bahan yang mahal atau teknologi yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru, banyak peluang dapat ditemukan dari apa yang tumbuh dan tersedia di sekitar masyarakat.

Foto: Novi
Ki-ka: Kemal Abdul Malik dari Institut Pertanian Bogor; Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN; Andrew Hallatu, Head of Corporate PR PT Indofood Sukses Makmur Tbk; Prof. Dr. Ir.Bustanul Arifin,M.S, Tim Pakar IRN; dan Elen Bethania Pasaribu dari Universitas Jember. Foto: Novi

Pangan Fungsional, Bukan Sekadar Mengenyangkan

Dalam simposium tersebut, pangan fungsional menjadi salah satu topik utama. Konsepnya tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan gizi dasar, tetapi juga melihat potensi pangan dalam memberikan manfaat fisiologis atau mendukung kesehatan.

Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi, M.Sc., Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar, mengatakan Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal dan pengetahuan tradisional yang dapat menjadi sumber gagasan inovasi.

“Riset berperan penting untuk memahami potensi tersebut, menguji manfaatnya secara ilmiah, serta memastikan keamanan dan mutu dalam pengembangannya,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan pangan fungsional membutuhkan keterhubungan antara riset, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri, serta ketentuan regulasi. Karena menyangkut kesehatan, setiap klaim manfaat juga perlu didukung bukti ilmiah yang memadai.

Hal ini menjadi penting karena pangan fungsional berada di persimpangan berbagai bidang, mulai dari pangan, gizi dan kesehatan hingga industri serta regulasi.

Indonesia sendiri memiliki banyak contoh pangan tradisional yang berpotensi menjadi inspirasi pengembangan produk baru. Tempe, dadih, tiwul, berbagai olahan sagu hingga pangan berbasis tanaman lokal menyimpan pengetahuan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dengan dukungan penelitian, bahan-bahan tersebut dapat dipelajari lebih jauh untuk mengetahui kandungan, manfaat, keamanan, serta kemungkinan pengembangannya menjadi produk pangan modern.

Menjawab Tantangan Kesehatan

Pengembangan pangan alternatif juga semakin relevan ketika dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat akan pola makan yang lebih beragam dan mendukung kesehatan.

Pangan yang memiliki karakteristik tertentu, misalnya mengandung serat, senyawa bioaktif, atau komponen yang berpotensi mendukung mikrobiota usus, dapat menjadi bagian dari inovasi pangan yang lebih berorientasi pada kesehatan.

Namun, inovasi tersebut tetap membutuhkan proses panjang. Peneliti tidak hanya dituntut menemukan bahan atau formula baru, tetapi juga perlu memastikan keamanan, mutu, penerimaan konsumen, hingga kesesuaian regulasi.

Karena itu, Simposium Pangan Nasional 2026 juga mempertemukan berbagai perspektif, termasuk pemerintah, akademisi, industri dan regulator. Forum tersebut membahas kebijakan pengembangan industri pangan fungsional berbasis bahan baku lokal, peran pangan dalam mendukung perbaikan gizi dan pencegahan penyakit tidak menular, serta persyaratan keamanan, mutu, pelabelan dan klaim pangan.

Bagi para peneliti muda, proses tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa sebuah penelitian tidak berhenti ketika hasil eksperimen diperoleh. Ada perjalanan panjang untuk membawa temuan dari laboratorium hingga benar-benar dapat dimanfaatkan masyarakat.

Foto: Novi
Memasuki dua dekade perjalanan, IRN kembali menegaskan komitmennya mendukung generasi peneliti muda Indonesia. Foto: Novi

Dua Dekade Menyiapkan Generasi Peneliti

Selama 20 tahun, tidak hanya memberikan bantuan dana penelitian. Program ini juga memberikan pendampingan melalui Tim Pakar lintas disiplin, proses seleksi, bimbingan, serta evaluasi hasil penelitian.

Dari proses tersebut lahir jejaring alumni yang kini berkiprah sebagai akademisi, peneliti, profesional maupun entrepreneur. Jejaring ini menjadi modal penting untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan membuka peluang kolaborasi baru.

“Dua puluh tahun perjalanan ini bukan sekadar angka. Di baliknya ada ribuan mahasiswa, dosen, peneliti dan pakar yang telah mencurahkan dedikasi untuk menguji berbagai gagasan dan mencari solusi bagi tantangan pangan Indonesia,” ujar Stefanus.

Semangat tersebut kembali dilanjutkan di periode 2026–2027. Sebanyak 83 peneliti mahasiswa S1 terpilih dari 595 proposal penelitian yang masuk. Mereka akan memperoleh dukungan dana dan pendampingan selama satu tahun untuk mengembangkan penelitian masing-masing.

Bagi para peneliti muda, kesempatan ini bukan hanya tentang menyelesaikan tugas akhir atau menghasilkan sebuah karya ilmiah. Lebih jauh, penelitian dapat menjadi pintu untuk melihat persoalan di sekitar, menemukan potensi yang selama ini belum tergali, kemudian mengubahnya menjadi solusi.

Pesan tersebut sejalan dengan tema Hari Pangan Sedunia 2026, “Innovate Today. Nourish Tomorrow.” Inovasi yang dilakukan hari ini diharapkan dapat menjadi bekal untuk menghadirkan sistem pangan yang lebih beragam, aman, bergizi, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa depan.

Pada akhirnya, perjalanan dua dekade ini menunjukkan bahwa masa depan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan generasi muda untuk meneliti, berinovasi, dan mengubah kekayaan tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Dari sagu hingga rumput laut, dari pangan tradisional hingga hasil samping pertanian, berbagai bahan lokal menyimpan peluang untuk dikembangkan. Ketika bertemu dengan riset, kreativitas mahasiswa, dukungan industri, dan kolaborasi lintas sektor, kekayaan tersebut dapat menjadi bagian dari solusi pangan alternatif yang tidak hanya multifungsi, tetapi juga berpotensi mendukung kesehatan masyarakat.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
20 Tahun Dukung Peneliti Muda, Gali Potensi Pangan Lokal untuk Kesehatan
img
Melalui “Aksi Nyata Sehatkan Bangsa”, Berikan Pemeriksaan Kesehatan Dasar Gratis Hingga Edukasi Penggunaan Obat Bagi Masyarakat
img
Rayakan 1 Dekade, Bazar Buku Internasional Kembali Hadir di BSD dengan Jutaan Buku dan Koleksi Islami untuk Anak
img
20.000 Buyers Ditargetkan Hadir, SIAL Food & Drinks Indonesia 2026 Buka Jalan Produk Lokal Menuju Pasar Global