ads

6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnostik Saat Sakit

Dwi Retno - Jumat, 15 Mei 2026
Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan (Foto : Ist)
Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan (Foto : Ist)
A A A

Fenomena swadiagnostik atau self-diagnosis di kalangan anak muda urban Indonesia kini menjadi perhatian serius. Studi terbaru dari Health Collaborative Center (HCC) menemukan bahwa hampir 60 persen anak muda usia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnosis terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan, dan tidak langsung berkonsultasi ke dokter atau fasilitas kesehatan. Penelitian ini dilakukan pada Maret–Mei 2026 melalui pendekatan mixed-method yang melibatkan survei terhadap 448 responden urban dari berbagai kota besar di Indonesia, termasuk Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Yogyakarta.

Menurut Ketua Peneliti dan Pendiri HCC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, fenomena ini tidak bisa dipandang sekadar perubahan perilaku digital biasa. “Swadiagnostik saat ini sudah menjadi bagian dari budaya kesehatan generasi urban. Internet, mesin pencari berbasis AI, media sosial, hingga pengalaman orang lain kini menjadi ‘dokter pertama’ bagi banyak anak muda sebelum mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujar dokter Ray.

Studi HCC dengan research associate Yoli Farradika ini menemukan bahwa Google dan mesin pencari berbasis AI menjadi sumber utama swadiagnosis, diikuti website kesehatan dan konten digital lainnya. Keluhan yang paling sering dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan dan kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis. Fenomena ini sejalan dengan istilah global cyberchondria, yaitu kondisi meningkatnya kecemasan kesehatan akibat pencarian informasi medis secara berlebihan di internet. Yang menjadi perhatian, studi ini juga menemukan bahwa ternyata 36 persen responden langsung melakukan swamedikasi atau mengobati diri sendiri tanpa ke dokter, serta 27 persen mengabaikan resep dokter karena bertentangan dengan informasi internet. Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa 57 persen hasil swadiagnostik ternyata dikonfirmasi benar oleh dokter.

Menurut dokter Ray, temuan ini menjelaskan mengapa perilaku swadiagnostik semakin menguat. “Ketika seseorang merasa hasil pencarian internetnya beberapa kali terbukti benar, maka kepercayaan terhadap proses swadiagnosis akan meningkat. Ini bisa membentuk ilusi kompetensi medis semu di masyarakat, karena sebenarnya yang dianggap cocok dengan dokter itu bisa jadi hanya hasil skrining risiko penyakit dan bukan diagnosis,” terangnya.

Penelitian juga menunjukkan bahwa responden dengan riwayat penyakit kronis memiliki kemungkinan 2,5 kali lebih besar melakukan swadiagnostik dibanding kelompok lainnya. Hal ini menggambarkan adanya kelelahan sistemik (system fatigue) di masyarakat urban modern. “Sebagian masyarakat merasa datang ke fasilitas kesehatan membutuhkan waktu panjang, antre, biaya tambahan, dan energi emosional. Akhirnya internet dianggap lebih praktis, lebih cepat, lebih murah, dan terasa lebih personal,” ujar pengajar kedokteran komunitas ini.

Penelitian juga menemukan bahwa lebih dari separuh responden merasa swadiagnosis lebih nyaman dibanding datang langsung ke fasilitas kesehatan karena dianggap lebih praktis, lebih hemat biaya, dan tidak perlu antre. Fenomena ini menjadi sinyal penting bahwa sistem kesehatan modern tidak lagi hanya bersaing dengan penyakit, tetapi juga dengan banjir informasi digital.

“Ke depan, tantangannya bukan melarang masyarakat mencari informasi kesehatan di internet. Itu hampir mustahil. Tantangannya adalah bagaimana negara, tenaga kesehatan, platform digital, dan institusi pendidikan membangun literasi kesehatan digital yang sehat dan bertanggung jawab,” tambah dokter Ray.

HCC menilai bahwa peningkatan literasi kesehatan digital perlu menjadi agenda nasional baru, terutama di era AI dan algoritma media sosial yang semakin memengaruhi keputusan kesehatan masyarakat sehari-hari. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa meskipun kepercayaan terhadap dokter masih relatif tinggi, masyarakat kini semakin menjadikan internet sebagai alat rekonfirmasi terhadap diagnosis dan terapi medis.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
6 dari 10 Anak Muda Urban Indonesia Lebih Memilih Swadiagnostik Saat Sakit
img
Kunyit dan Temulawak, Dari Dapur Tradisional Menuju Solusi Kesehatan Dunia
img
Kembangkan Sistem Transport Neonatal Kritis untuk Keselamatan Bayi Baru Lahir
img
Inovasi Penutupan Kelainan Jantung Bawaan yang Lebih Aman dengan Teknik Zero Fluoroscopy ASD & VSD Closure