Strabismus Bukan Hanya Persoalan Kosmetik, Tetapi dapat Mengganggu Penglihatan pada Anak
Strabismus atau mata juling merupakan kondisi ketika satu mata melihat satu objek, namun mata lain menyimpang dengan pergeseran (deviasi) yang dapat mengarah ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah. Kondisi ini dapat mengganggu kerja kedua mata, persepsi kedalaman, dan perkembangan fungsi penglihatan pada anak. “Strabismus memiliki penyebab, pola, dan kebutuhan penanganan yang berbeda pada setiap pasien. Karena itu, diperlukan pemeriksaan yang lengkap, dukungan Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus, serta pilihan terapi yang sesuai dan berkesinambungan. Selain memengaruhi fungsi penglihatan, strabismus juga dapat berdampak secara psikososial. Pada anak, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan meningkatkan risiko perundungan, sedangkan pada orang dewasa dapat memengaruhi interaksi sosial, kepercayaan diri, serta peluang dalam lingkungan profesional. Melalui Pusat Operasi Mata Juling, pasien anak maupun dewasa dapat memperoleh penanganan yang tepat, mulai dari terapi nonbedah hingga operasi berdasarkan indikasi medis,” ujar Dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng.
Selain menyediakan pilihan penanganan yang terintegrasi, pusat layanan ini membantu pasien dan keluarga memahami kondisi, tujuan terapi, serta pertimbangan medis sebelum menentukan tindakan. Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, menekankan bahwa kepercayaan pasien dibangun melalui kompetensi tenaga medis, ketepatan diagnosis, teknologi yang relevan, dan komunikasi yang jelas. “Dalam penanganan strabismus, setiap pasien dapat memiliki penyebab, kondisi penglihatan, dan kebutuhan terapi yang berbeda. Karena itu, pasien dan keluarga bukan hanya membutuhkan pemeriksaan atau tindakan, tetapi juga rasa aman dan keyakinan bahwa keputusan medis yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhannya. Inilah prinsip yang terus dijaga melalui layanan yang terintegrasi, didukung tenaga medis subspesialistik, serta berorientasi pada fungsi penglihatan dan kualitas hidup pasien,” ujar Prof. Tjahjono.
Penanganan strabismus disesuaikan dengan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi mata, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia atau mata malas, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi kesehatan yang menyertai. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, penanganan dapat berupa penggunaan kacamata hingga operasi sesuai indikasi medis. Keberhasilannya tidak hanya dilihat dari perbaikan posisi mata, tetapi juga dari meningkatnya fungsi penglihatan dan koordinasi kedua mata, berkurangnya penglihatan ganda, serta kemampuan pasien menjalani aktivitas sehari-hari.
Rangkaian layanan di Pusat Operasi Mata Juling mencakup:
- Pemeriksaan ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, posisi dan pergerakan bola mata, fungsi penglihatan binokular, serta kondisi bagian mata lainnya.
- Pemeriksaan stereopsis dan koordinasi kedua mata menggunakan alat seperti Synoptophore, TNO, dan Fly Test sesuai kebutuhan klinis.
- Koreksi menggunakan kacamata, termasuk lensa khusus atau prisma pada pasien tertentu untuk membantu fokus, mengurangi deviasi, atau mengatasi penglihatan ganda.
- Terapi ambliopia melalui patching atau penutupan mata yang lebih kuat dalam durasi terukur agar mata yang lebih lemah mendapatkan stimulasi.
- Terapi penglihatan atau latihan tertentu berdasarkan indikasi medis untuk membantu koordinasi kedua mata.
- Operasi otot mata apabila terapi nonbedah belum memberikan hasil yang memadai atau tindakan tersebut menjadi pilihan paling sesuai berdasarkan diagnosis.
“Keputusan operasi tidak dibuat hanya untuk memperbaiki penampilan, namun lebih jauh untuk memperbaiki fungsi mata secara menyeluruh, sedapat mungkin dicapai penglihatan binokular tunggal. Oleh karena itu, sebelum melakukan tindakan, kami perlu menilai pola dan besar deviasi, fungsi kedua mata, usia, penyebab, serta kondisi kesehatan pasien. Apabila operasi dibutuhkan, perencanaannya disusun secara individual (sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien) dan disertai pemantauan sesudah tindakan secara berkesinambungan. Penanganan ini relevan bagi anak untuk memfasilitasi perkembangan penglihatan, serta bagi pasien dewasa yang mengalami penglihatan ganda akibat perubahan posisi mata sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari,” jelas Dr. Gusti G. Suardana, SpM(K), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus sekaligus Ketua Layanan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics.
Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah pergeseran mata (deviasi). Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung, sedangkan exotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah luar. Pergeseran mata ke atas disebut hypertropia, sementara pergeseran ke bawah disebut hypotropia. Sebagian pasien juga dapat mengalami pola kombinasi atau perubahan arah yang lebih kompleks. Selain berdasarkan arah deviasi, strabismus dapat dikenali berdasarkan pola kemunculannya, antara lain:
- Strabismus manifest atau nyata, yaitu ketidaksejajaran mata yang terlihat jelas dan dapat muncul terus-menerus.
- Strabismus latent atau tersembunyi, yaitu kecenderungan mata bergeser (berdeviasi) yang biasanya tidak terlihat dalam kondisi sehari-hari dan baru terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
- Strabismus intermittent atau hilang-timbul, yaitu mata juling yang hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya ketika anak lelah, mengantuk, melamun, sakit, atau kehilangan fokus.
- Strabismus alternating atau bergantian, yaitu ketidaksejajaran yang dapat berpindah antara mata kanan dan kiri.
Pemahaman masyarakat mengenai strabismus juga masih kerap dipengaruhi oleh berbagai mitos, mulai dari anggapan bahwa mata juling membawa keberuntungan, disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tidak dapat ditangani, hingga dapat sembuh sendiri seiring bertambahnya usia. Padahal, strabismus merupakan kondisi medis yang perlu diperiksa untuk mengetahui penyebab, dampak terhadap fungsi penglihatan, serta pilihan penanganannya.
Deteksi dini dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea di kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat pada foto atau rekaman video. Namun, temuan tersebut tetap perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk menilai posisi mata, ketajaman penglihatan, fungsi penglihatan binokular, dan risiko ambliopia.
DR. Dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), selaku Wakil Ketua INAPOSS (Indonesian Pediatric Ophthalmology and Strabismus Society) menjelaskan bahwa strabismus tersembunyi atau strabismus latent tidak selalu mudah dikenali. Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak fokus, lalu tampak bergeser saat lelah atau melalui foto dan rekaman video. “Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia. Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan, terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda. Juling yang muncul mendadak, terlebih jika disertai sakit kepala, muntah, kelopak mata turun, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan saraf lainnya, perlu segera diperiksa,” jelas Dr. Lely.
Strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata. Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa. “Di lapangan, masih ada anak dengan mata juling yang terlambat memperoleh pemeriksaan karena kondisi tersebut kerap dianggap hanya persoalan penampilan atau dapat ditunda. Padahal, strabismus dapat memengaruhi kualitas penglihatan dan meningkatkan risiko terjadinya ambliopia atau mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak. Penanganan yang tepat diharapkan tidak hanya membantu mengoptimalkan fungsi penglihatan, tetapi juga mendukung kualitas hidup anak melalui penampilan mata yang lebih baik sehingga anak dapat tumbuh dan beraktivitas dengan lebih percaya diri," ujar Dr. Julie Dewi Barliana, SpM, Subsp.P.O.S., Biomed, Ketua PERDAMI Jaya.