Angka Obesitas di Indonesia Terus Naik, Kemenkes Ajak Masyarakat Cermat Memilih Pangan Olahan
Moms, siapa sih yang tak ingin punya proporsi tubuh ideal? Berat badan normal, tidak mudah capek, badan fit. Namun, tanpa kita sadari, hidup di era digital yang difasilitasi segala kecanggihan, membuat sebagian orang jadi “mager” alias malas bergerak. Belum lagi ketika memilih makanan, banyak orang akhirnya memilih panganan cepat saji yang dirasa praktis di tengah aktivitas padat. Tak terasa, timbangan pun terus bergerak ke kanan, celana terasa sempit, cepat lelah saat naik tangga dan napas mulai terengah ketika beraktivitas sedikit berat. Ukuran baju yang dipakai pun berubah, dari M, menjadi L, Xl, bahkan XXXL. Duh, ini bukan lagi kelebihan berat badan tapi sudah menjadi obesitas.
Penyebab obesitas umumnya adalah konsumsi kalori yang berlebihan dalam jangka panjang, yang bersumber dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, baik dalam bentuk pangan olahan maupun siap saji. Dari tahun ke tahun, angka obesitas terus naik. Data menunjukkan prevalensi obesitas nasional pada penduduk berusia ≥ 18 tahun mengalami peningkatan. Naik dari 21,8% pada tahun 2018 menjadi 23,4% pada tahun 2023. Tentunya kondisi ini sangat mengkhawatirkan!
Nah, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan obesitas, bertepatan dengan Hari Obesitas Sedunia yang jatuh pada 4 Maret, Nutrifood bersama dengan Kementerian Kesehatan RI mengajak masyarakat untuk cermat dalam memilih pangan olahan guna mencegah obesitas.
Program ini merupakan bagian dari kampanye edukatif #BatasiGGL sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular yang telah dilakukan produsen makanan dan minuman kesehatan tersebut bersama dengan Kementerian Kesehatan dan BPOM sejak tahun 2013. Kampanye #BatasiGGL ini mengingatkan masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), serta meningkatkan literasi membaca label kemasan pangan olahan.
Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang berdampak serius terhadap kesehatan dan bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup semata. “Sebagian besar asupan kalori harian masyarakat sebenarnya masih berasal dari pangan olahan dan siap saji. Karena itu, yang terpenting adalah menerapkan pola makan seimbang, memperhatikan porsi, serta menghindari konsumsi berlebihan agar risiko obesitas dapat ditekan,” imbuhnya.
Ia mengakui bahwa di tengah gaya hidup modern, konsumsi pangan olahan memang tidak dapat dihindari. Namun, masyarakat perlu mampu mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas. “Pesan berikutnya adalah lakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan manfaatkan bulan Ramadan ini untuk melatih diri kita mengurangi konsumsi gula, garam dan lemak bukan hanya menahan lapar dan dahaga,” ujar Dr. Siti Nadia.
Head of Strategic Marketing Nutrifood, Susana S.T.P., M.Sc., PD.Eng mengatakan bahwa pangan olahan dan siap saji yang beredar saat ini sangat beragam. “Konsumen tetap perlu memperhatikan informasi pada label kemasan, seperti takaran saji, energi total, persentase AKG, serta komposisi bahan. Dengan memahami informasi tersebut, masyarakat dapat mengontrol asupan gula, garam, dan lemak sesuai kebutuhan hariannya,” imbuhnya dalam sesi media briefing bertajuk “Cermat Memilih Pangan Olahan untuk Mencegah Obesitas” di Bunga Rampai Restaurant Menteng, Jakarta (3/3).
Dari perspektif akademisi, Direktur SEAFAST Center IPB, Dr. Puspo Edi Giriwono, STP., Magr., menjelaskan bahwa sebenarnya teknologi pangan modern dirancang untuk menjamin keamanan dan kualitas produk, masa simpan hingga pengurangan dampak lingkungan. Namun, tantangan yang muncul adalah bagaimana masyarakat memahami proses pengolahan, bahan dan ingredien yang digunakan, serta informasi yang tertera di kemasan. Pangan olahan adalah bagian dari sistem pangan modern yang dihasilkan melalui proses berlandaskan sains dan teknologi untuk meningkatkan keamanan, mutu, masa simpan, dan kemudahan konsumsi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari.
“Bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan digunakan untuk menghasilkan produk yang baik dan telah melalui kajian keamanan serta batas aman konsumsi, sehingga aman dikonsumsi sesuai ketentuan. Proses pengolahan pangan yang direkomendasikan adalah proses yang mengutamakan keamanan, menjaga kualitas gizi, serta mengikuti standar dan regulasi yang berlaku, sehingga produk tetap aman dan bernilai gizi. Edukasi publik menjadi kunci penting untuk menurunkan risiko obesitas tanpa harus membatasi akses pangan. Dengan pemahaman yang baik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berperan aktif dalam upaya mencegah obesitas,” ujar Puspo.
Susana mempertegas komitmen perusahaan untuk mendukung upaya pencegahan obesitas di Indonesia melalui penyediaan produk yang aman, berkualitas, dan bernutrisi. “Sebagai bagian dari solusi, Nutrifood secara konsisten menjalani kampanye #BatasiGGL melalui insiatif berkelanjutan, mulai dari inovasi produk, program edukasi literasi gizi, hingga kolaborasi dengan berbagai pihak,” tutup Susana.