ads

Mengapa Anak Zaman Sekarang Rentan GERD? Ternyata, Ini Kebiasaan Kecil yang Kerap Dilakukan

Novita Sari - Rabu, 22 Juli 2026
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi dari Eka Hospital MT Haryono, Jakarta. Foto: Novi
Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi dari Eka Hospital MT Haryono, Jakarta. Foto: Novi
A A A

Si Kecil baru saja selesai menghabiskan porsi makan siang, lalu selang sepuluh menit kemudian ia sudah asyik berlari, melompat, atau bahkan langsung merebahkan diri sambil bermain gawai. Pemandangan ini tentu sangat lazim ditemui di rumah maupun sekolah.

Namun, di balik dinamika anak zaman now yang serba cepat dan aktif, ada risiko kesehatan pencernaan yang diam-diam mengintai. Banyak orang tua tidak menyangka bahwa kebiasaan sepele setelah makan—serta ritme harian anak modern yang kian padat—menjadi alasan utama mengapa kasus GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau asam lambung makin sering ditemui pada anak-anak.

"Penyakit gastro (lambung) pada anak itu sebenarnya banyak sekali, tetapi masyarakat dan bahkan tenaga medis kerap kurang aware. Banyak gejala yang tersembunyi dan baru ketahuan setelah digali lebih dalam," ujar Dr. dr. Eva Jeumpa Soelaeman, Sp.A (K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi dari Eka Hospital MT Haryono, Jakarta saat media meet up, Selasa, 21 Juli 2026.

Mengapa anak zaman sekarang rentan GERD? dr. Eva memaparkan bahwa lifestyle dan kebiasaan harian berperan besar:

  • Aktivitas Langsung Setelah Makan: Anak-anak sering kali terburu-buru. Setelah makan langsung berlari, melompat, atau berolahraga (seperti posisi kepala di bawah).
  • Langsung Tidur Setelah Makan: Lambung yang penuh terdorong saat posisi berbaring, memaksa klep lambung terbuka.
  • Pakaian Terlalu Sempit: Anak bertumbuh cepat, namun kadang celana yang terlalu sempit tetap dipakai. Tekanan pada perut membuat asam lambung terdorong ke atas.

Gejala GERD yang Sering "Terselubung"

Dikatakan dr. Eva, gejala GERD tidak selalu berupa muntah atau sakit perut biasa. Beberapa kasus unik yang sering ditemui di lapangan meliputi:

  • Napas Terengah-engah dan Nyeri Dada: “Anak kelas 3 SD pernah dirujuk karena napasnya sesak seperti pasien kritis. Setelah diperiksa, ternyata ia menahan nyeri akibat asam lambung yang naik,” terang dr. Eva.
  • Batuk Pilek Menahun (Setahun Tidak Sembuh): Sering kali dianggap masalah paru-paru, padahal uap/iritasi asam lambung yang naik secara kronis memicu respons batuk berulang.
  • Sendawa Berlebihan: Gas lambung yang terus naik akibat katup yang longgar.

Diagnosis Inovatif: USG Saluran Cerna

Jika dahulu diagnosis GERD membutuhkan pemeriksaan rontgen kontras beradiasi tinggi, dr. Eva telah menerapkan metode USG khusus. Tanpa radiasi dan tanpa rasa sakit, dokter dapat melihat langsung aliran balik asam lambung (air mancur) serta mengukur tingkatan (grade) bukaan katup lambung. Monitoring ini memastikan pengobatan berfokus pada pemulihan fungsi katup, bukan sekadar meminum obat penurun asam lambung secara bertahun-tahun.

Prosedur Endoskopi pada Anak: Aman dan Terukur

Untuk melihat secara langsung kondisi dinding dalam saluran cerna—terutama jika dicurigai ada luka atau peradangan—dokter gastro anak dapat melakukan tindakan endoskopi.

Prosedur pada anak memiliki standar keamanan khusus yang berbeda dari orang dewasa:

  • Ukuran Alat Pediatrik: Menggunakan selang fleksibel (endoskop) berdiameter sangat kecil yang disesuaikan dengan ukuran tubuh bayi/anak.
  • Penggunaan Sedasi: Anak diberikan pembius/sedasi agar tertidur pulas, bebas cemas, dan tidak bergerak selama tindakan demi keamanan maksimal.
  • Tim Medis Khusus: Dipandu oleh Dokter Gastro Anak dan didampingi perawat khusus endoskopi untuk memantau fungsi vital secara ketat.

Dikatakan dr. Eva, sistem pencernaan anak itu belum sematang orang dewasa dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap infeksi, alergi, maupun kelainan struktural. Ketika masalah pencernaan terjadi terus-menerus, membawa anak ke dokter spesialis anak konsultan gastroenterohepatologi—atau lebih dikenal sebagai dokter gastro anak—adalah langkah tepat.

Apa Itu Dokter Gastro Anak?

Dokter gastro anak adalah dokter spesialis anak yang telah menempuh pendidikan subspesialisasi khusus untuk mendiagnosis, mengobati, dan mengelola gangguan saluran cerna. Cakupan penanganannya sangat luas, mulai dari kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, organ hati (liver), hingga pankreas pada bayi, anak-anak, sampai remaja.

Beragam Kasus yang Ditangani Dokter Gastro Anak

Gangguan pencernaan pada anak tidak hanya sebatas sakit perut biasa. Menurut dr. Eva, berikut adalah ranah kondisi yang ditangani oleh dokter gastro anak:

1. Gangguan Saluran Cerna Atas & Gejala Umum

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease): Naiknya asam lambung ke kerongkongan yang memicu rasa tidak nyaman, mual, hingga muntah.
  • Kesulitan Menelan & Muntah Berulang: Termasuk kondisi muntah yang menyemprot atau bercak darah.
  • Sakit Perut: Baik yang bersifat akut maupun kronis/berulang.

2. Gangguan Buang Air Besar (BAB)

  • Diare Kronis: Diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu.
  • Konstipasi Kronis & BAB Sukar: Sembelit menahun yang berlangsung lebih dari 2 bulan atau BAB yang sangat jarang (misalnya hanya seminggu sekali).
  • BAB Berdarah: Adanya bercak darah pada kotoran anak secara berulang.

3. Masalah Berat Badan, Nutrisi & Perilaku Makan

  • Masalah Pertumbuhan: Berat badan (stuck) atau tidak naik padahal porsi makan anak banyak (indikasi gangguan penyerapan/nutrisi).
  • Gangguan Makan: Anak yang tidak pernah merasa lapar, kelainan perilaku makan, hingga masalah makan spesifik pada anak dengan Cerebral Palsy (CP).
  • Masalah Bayi & Anak: Obesitas pada anak serta kendala menyusui pada bayi.

4. Infeksi & Radang Pencernaan Kronis

  • Alergi Makanan & Alergi Protein Susu Sapi: Reaksi sistem imun terhadap kandungan protein dalam makanan/susu.
  • Infeksi H. Pylori: Infeksi bakteri pada lambung yang memicu tukak/luka.
  • IBD (Inflammatory Bowel Disease): Peradangan kronis pada dinding saluran cerna (seperti Crohn’s disease dan ulcerative colitis).

5. Kelainan Hati & Empedu

  • Bayi Kuning (Jaundice): Kondisi kuning yang menetap lebih dari 2 minggu setelah lahir.
  • Atresia Bilier: Kelainan bawaan akibat tersumbatnya saluran empedu.
  • Hepatitis: Baik hepatitis neonatal pada bayi baru lahir maupun Hepatitis A/B/C.
  • Kerusakan Hati Lainnya: Akibat efek samping obat, autoimun, hingga gagal hati.

Mengenali sinyal gangguan pencernaan pada anak memang membutuhkan kepekaan ekstra dari orang tua. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memberi jeda istirahat usai makan, menghindari pakaian terlalu ketat pada perut, serta tidak terburu-buru merebahkan si Kecil, bisa menjadi langkah awal preventif yang sangat berharga.

Ingatlah bahwa kesehatan saluran cerna adalah fondasi utama penyerapan nutrisi dan tumbuh kembang anak. Jika si Kecil menunjukkan keluhan berulang atau gejala "terselubung" seperti yang telah dipaparkan, jangan ragu untuk berdiskusi dan memeriksakannya ke Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastroenterohepatologi. Dengan penanganan yang tepat dan berbasis evaluasi medis yang akurat, si Kecil dapat kembali beraktivitas dengan nyaman, sehat, dan ceria.

Kids Zone
Zona di mana buah hati Anda dapat menikmati kisah-kisah seru dalam bentuk cerita dan komik, mengeksplorasi artikel pengetahuan yang menyenangkan, serta permainan yang menarik untuk mengasah pemikiran buah hati.
Masuk Kids Zone
Latest Update
Selengkapnya
img
Mengapa Anak Zaman Sekarang Rentan GERD? Ternyata, Ini Kebiasaan Kecil yang Kerap Dilakukan
img
Keren! Inovasi AI Karya Dokter Indonesia, Bantu Deteksi Dini Pasien Gagal Jantung Berisiko Tinggi
img
Hadirkan Harapan Baru bagi Pasien Katarak, Lewat Bakti Sosial Operasi Katarak
img
Rahasia Tetap Sehat Luar Dalam: Kenali Tubuhmu Lewat Teknologi Pemeriksaan Terbaru yang Makin Pintar dan Personal