Terlihat Sehat Belum Tentu Bebas Risiko, Cara Kenali Sejak Dini Bahaya Hipertensi, Gangguan Irama Jantung, dan Stroke
Ada satu hal yang sering membuat kita lengah, yaitu: merasa sehat.
Kita masih bisa bangun pagi, bekerja, bercanda bersama keluarga, beraktivitas seperti biasa, bahkan merasa tubuh baik-baik saja. Karena tidak ada rasa sakit atau keluhan yang mengganggu, pemeriksaan kesehatan pun kerap dianggap belum perlu.
Padahal, tidak semua masalah kesehatan datang dengan tanda yang mudah dikenali.
Tekanan darah tinggi, misalnya, dapat berlangsung tanpa gejala. Begitu pula gangguan irama jantung tertentu yang mungkin baru diketahui ketika seseorang menjalani pemeriksaan. Jika faktor risiko tersebut tidak dikenali dan dikendalikan, dampaknya bisa serius, termasuk meningkatkan risiko stroke.
Itulah mengapa menjaga kesehatan jantung bukan seharusnya dilakukan setelah tubuh memberikan peringatan, tetapi dimulai sebelum masalah muncul.
Menjelang World Heart Day 2026 pada 29 September, perhatian terhadap kesehatan jantung kembali menjadi penting. Tahun ini, World Heart Federation mengangkat tema “Heart Disease Can Hide in Plain Sight: Don’t Miss a Beat”, yang mengajak masyarakat lebih peka terhadap penyakit kardiovaskular yang terkadang tersembunyi di balik kondisi tubuh yang terlihat baik-baik saja.
Bagi OMRON Healthcare Indonesia, momentum tersebut menjadi pengingat agar masyarakat mulai mengenali faktor risiko, membangun kebiasaan hidup sehat, dan melakukan pemantauan kesehatan secara rutin.
Hipertensi Bisa Diam-Diam Membebani Jantung
Salah satu faktor risiko yang perlu diperhatikan adalah hipertensi.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Sementara berdasarkan diagnosis dokter, angkanya tercatat 8,6 persen.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan masih adanya masyarakat yang mungkin belum mengetahui bahwa dirinya memiliki tekanan darah tinggi.
Padahal, hipertensi bukan sekadar persoalan angka pada alat pengukur tekanan darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, tekanan darah tinggi dapat memberikan beban pada jantung dan pembuluh darah serta meningkatkan risiko berbagai masalah kardiovaskular.
Salah satunya adalah atrial fibrillation (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang menyebabkan detak jantung menjadi tidak teratur.
Menurut Dr. Decsa Medika Hertanto, Sp.PD-KGH, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal-Hipertensi, hipertensi dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan irama seperti AFib.
Pada kondisi AFib, detak jantung yang tidak teratur dapat membuat aliran darah di dalam jantung tidak optimal dan meningkatkan risiko terbentuknya bekuan darah. Jika bekuan tersebut terbawa ke otak, stroke dapat terjadi. Karena itu, pengendalian tekanan darah dan perhatian terhadap irama jantung menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular.
Jangan Menunggu Tubuh Memberi Peringatan
Pengalaman Iwet Ramadhan, yang pernah mengalami stroke, menjadi pengingat bahwa merasa sehat dan tetap aktif belum tentu berarti seseorang sudah mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh.
Pengalaman tersebut membuat Iwet semakin konsisten memperhatikan kondisi tubuh dan menjaga kesehatan. Ia juga berharap orang lain tidak perlu menunggu mengalami kejadian serupa untuk mulai peduli terhadap kesehatan.
Pesan tersebut terasa sederhana, tetapi penting: jangan menunggu sakit untuk mulai mengenal tubuh sendiri.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengetahui faktor risiko dan melakukan pemeriksaan secara berkala.
Hidup Sehat Tak Harus Ekstrem
Menjaga kesehatan jantung juga tidak selalu berarti harus melakukan perubahan besar secara tiba-tiba.
Tetap aktif bergerak, menjaga pola makan, beristirahat cukup, dan memilih kebiasaan yang realistis untuk dilakukan setiap hari dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Dion Wiyoko, aktor dan presenter, melihat hidup sehat sebagai kebiasaan yang perlu dibangun secara konsisten.
“Menurut saya, hidup sehat itu tidak harus selalu berat atau ekstrem. Yang penting adalah bagaimana kita bisa menemukan aktivitas yang kita nikmati dan menjadikannya bagian dari keseharian,” ujarnya pada Jumat, 11 September 2026 di Jakarta.
Namun, gaya hidup sehat tetap perlu dibarengi dengan pemantauan. Sebab, tekanan darah dan irama jantung dapat mengalami perubahan tanpa selalu menimbulkan keluhan.
Kenali Kondisi Jantung dengan Pemantauan Rutin
Sejalan dengan kampanye “Keep On, Life On”, OMRON Healthcare Indonesia memperkenalkan teknologi ECG atau elektrokardiogram yang dapat membantu masyarakat memantau irama jantung dan mengenali kemungkinan gangguan irama, termasuk AFib.
Pemantauan ECG di rumah dapat menjadi informasi tambahan, terutama untuk kondisi seperti AFib yang dapat muncul dan menghilang secara berkala. Rekaman tersebut juga dapat memberikan informasi yang dapat membantu tenaga kesehatan memahami kondisi pasien di luar pemeriksaan di fasilitas kesehatan.
Meski demikian, ada hal penting yang perlu dipahami: hasil ECG yang menunjukkan kemungkinan AFib bukanlah diagnosis. Hasil pemeriksaan tetap perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.
Selain memperhatikan irama jantung, masyarakat juga disarankan melakukan pengukuran tekanan darah secara rutin menggunakan alat yang akurat dan telah tervalidasi secara klinis. Dengan pemantauan yang konsisten, perubahan kondisi dapat lebih mudah dikenali dan dikonsultasikan kepada tenaga kesehatan bila diperlukan.
Pada akhirnya, menjaga jantung bukan hanya tentang memperpanjang usia, tetapi juga tentang menjaga kesempatan untuk terus menjalani kehidupan yang kita cintai.
Masih bisa berkumpul dengan keluarga. Masih bisa bekerja dan berkarya. Masih bisa melakukan hal-hal kecil yang membuat hidup terasa berarti.
Karena itu, jangan menunggu tubuh memberi tanda bahaya untuk mulai peduli. Kenali risikonya, bangun kebiasaan sehat, dan lakukan pemantauan secara rutin.
Keep On, Life On.