Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih: Minim Sayatan dan Berbasis Teknologi Modern
Batu saluran kemih masih menjadi salah satu penyakit urologi yang paling sering dijumpai dan angka kejadiannya terus meningkat di berbagai negara. Selain menimbulkan nyeri hebat, penyakit ini juga memiliki risiko kekambuhan yang cukup tinggi apabila penyebabnya tidak ditangani secara menyeluruh. Seiring perkembangan teknologi kedokteran, penanganan batu saluran kemih kini tidak hanya berfokus pada menghilangkan batu, tetapi juga mencegah pembentukannya kembali.
Secara umum, penyakit ini lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan, terutama pada usia produktif 40–50 tahun. Risiko juga meningkat pada individu dengan obesitas, gaya hidup sedentari, kurang asupan cairan, serta mereka yang tinggal di daerah beriklim panas. Namun, penyakit ini dapat dialami siapa saja apabila memiliki faktor risiko yang mendukung.
Untuk mengedukasi penyakit batu saluran kemih dan menginformasikan penanganan terkini kepada masyarakat, RS Premier Bintaro menggelar Media Gathering bertajuk "Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih" di Jakarta (22/7).
Menurut dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U., FICS, Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, batu saluran kemih merupakan kondisi ketika terbentuk endapan mineral di ginjal maupun saluran kemih akibat gangguan metabolisme, kurangnya asupan cairan, pola makan tertentu, infeksi, hingga faktor genetik. Di antara berbagai faktor tersebut, dehidrasi menjadi penyebab yang paling sering ditemukan. “Pada dasarnya batu saluran kemih terbentuk dari endapan urine. Ketika tubuh mengalami dehidrasi, urine menjadi lebih pekat sehingga endapan mineral lebih mudah terbentuk dan akhirnya menjadi batu,” jelasnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa kebiasaan menahan buang air kecil merupakan penyebab utama batu saluran kemih.
“Yang sering menjadi masalah bukan menahan kencingnya, tetapi karena seseorang sengaja mengurangi minum agar tidak sering buang air kecil. Akibatnya tubuh mengalami dehidrasi dan risiko terbentuknya batu meningkat,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut cukup sering dijumpai pada pengemudi jarak jauh atau pekerja yang enggan berhenti saat bekerja sehingga memilih mengurangi konsumsi air putih. Selain itu, pola makan tinggi garam yang masih umum dijumpai di masyarakat juga menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko pembentukan batu saluran kemih.
Nyeri Hebat Bukan Satu-satunya Gejala
Gejala batu saluran kemih yang paling khas adalah nyeri hebat pada pinggang yang muncul secara tiba-tiba dan dapat menjalar ke perut bagian bawah, selangkangan hingga alat kelamin. Dalam beberapa literatur, intensitas nyeri akibat batu saluran kemih bahkan disebut setara dengan nyeri persalinan.
Selain nyeri, penderita juga dapat mengalami darah dalam urine, nyeri saat buang air kecil, anyang-anyangan, mual, muntah, hingga demam apabila telah terjadi infeksi. Tidak jarang pula batu ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan karena pada beberapa kasus tidak menimbulkan keluhan.
Untuk memastikan diagnosis, pemeriksaan diawali dengan ultrasonografi (USG) sebagai modalitas pertama karena aman, praktis, dan tidak menggunakan radiasi. Bila diperlukan, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT Scan tanpa kontras (Non-Contrast CT Scan/NCCT) yang saat ini menjadi standar emas untuk menentukan ukuran, lokasi, serta karakteristik batu sehingga membantu dokter memilih terapi yang paling tepat.
Menurut dr. Teguh, penyakit batu saluran kemih tidak boleh dianggap sepele karena batu saluran kemih dapat menyebabkan sumbatan yang berujung pada gangguan fungsi ginjal.
“Yang kita khawatirkan bukan hanya batunya, tetapi kerusakan ginjal akibat sumbatan yang berlangsung terlalu lama. Ada pasien yang batunya memang keluar, tetapi saat diperiksa ternyata fungsi ginjalnya sudah menurun karena terlambat mendapatkan penanganan,” katanya.
Pada ibu hamil, batu saluran kemih juga memerlukan perhatian khusus. Nyeri hebat akibat batu dapat memicu kontraksi sehingga meningkatkan risiko persalinan prematur maupun keguguran. Namun, tidak semua kasus memerlukan operasi. Selama kondisi ibu dan janin stabil, penanganan umumnya dilakukan secara konservatif dengan pemantauan ketat.
Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Batu saluran kemih tak boleh dipandang sepele. “Jika tidak ditangani dengan baik, batu dapat menyebabkan sumbatan saluran kemih, infeksi berat, gangguan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting,” jelas dr. Teguh.
Kabar baiknya, perkembangan teknologi urologi memungkinkan penanganan batu saluran kemih dilakukan secara lebih efektif melalui prosedur yang minim invasif. Tidak semua pasien memerlukan operasi terbuka.
Pada batu berukuran kecil, terapi dapat berupa obat-obatan disertai peningkatan konsumsi cairan untuk membantu batu keluar secara alami. Menurut dr. Teguh, peluang batu keluar sendiri dapat mencapai 20–80 persen, bergantung pada ukuran batu, lokasi, dan kondisi anatomi pasien.
Sementara itu, pada batu yang berukuran besar, menyebabkan sumbatan, infeksi, nyeri berulang, atau berisiko merusak ginjal, tindakan aktif perlu segera dilakukan.
RS Premier Bintaro menyediakan berbagai pilihan terapi sesuai ukuran, lokasi, dan kondisi pasien, di antaranya:
- Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL), yaitu memecahkan batu menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh tanpa sayatan.
- Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS), prosedur endoskopi menggunakan alat yang dimasukkan melalui saluran kemih sehingga batu dapat dihancurkan menggunakan laser tanpa membuat sayatan pada kulit.
- Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Mini-PCNL, yang digunakan untuk batu ginjal berukuran besar atau kompleks melalui sayatan yang sangat kecil pada kulit.
Menurut dr. Teguh, perkembangan terbaru di bidang endourologi juga menghadirkan penggunaan Thulium Fibre Laser, teknologi laser generasi baru yang mampu menghancurkan batu secara lebih efektif dengan waktu tindakan yang lebih singkat. Selain itu, penggunaan sistem suction modern membantu menjaga tekanan di dalam ginjal selama tindakan sehingga dapat menurunkan risiko infeksi dan mempercepat pemulihan pasien.
Pencegahan Kekambuhan Sama Pentingnya dengan Pengobatan
Salah satu tantangan terbesar pada batu saluran kemih adalah tingginya angka kekambuhan. Berdasarkan data yang dipaparkan dr. Teguh, angka kekambuhan di luar negeri mencapai sekitar 23 persen dalam lima tahun, sedangkan di Indonesia dapat mencapai sekitar 49 persen.
Karena itu, menurutnya, pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan. Pasien juga perlu menjalani evaluasi metabolik maupun stone analysis untuk mengetahui penyebab pembentukan batu sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan. Kami juga melakukan evaluasi metabolik untuk mengetahui penyebab pembentukan batu sehingga kekambuhan dapat dicegah. Minum air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam berlebih, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah sederhana yang sangat berperan dalam mencegah batu terbentuk kembali,” tutup dr. Teguh.
Melalui layanan Urologi yang didukung teknologi modern dan tim dokter berpengalaman, RS Premier Bintaro berkomitmen memberikan penanganan batu saluran kemih secara komprehensif, mulai dari diagnosis yang akurat, terapi yang sesuai dengan kondisi pasien, hingga program pencegahan kekambuhan agar kualitas hidup pasien dapat tetap terjaga.