Berawal dari Aksi Bersih Sungai, Prakosa Sukses Membangun Destinasi Wisata Berkelanjutan
Di tepian Sungai Pusur, Klaten, Jawa Tengah, sebuah perubahan luar biasa terjadi di atas lahan seluas 3 hektare. Destinasi yang kini dikenal sebagai New River Moon bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan bukti nyata bagaimana sebuah bisnis bisa tumbuh selaras dengan alam melalui sentuhan inovasi anak muda, Prakosa (26 tahun) tamatan S2 Pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.
Perjalanannya dimulai dari visi sang ayah, Sarjono, yang bertekad mengubah lahan miliknya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Pada awalnya, area sekitar sungai dianggap "angker" dan menakutkan oleh warga sekitar. Namun, melalui kerja keras membersihkan aliran sungai sejak tahun 2017, wajah Sungai Pusur pun berubah.
"Setelah tak bersihkan, bersih... mereka sudah tidak takut ke sungai. Dulu takut, habis mandi ke sungai takut. Saya berusaha untuk mengubahkan tanah ini... saya mencoba untuk bisnis di sini agar enak, dan saya berusaha bersama anak muda," kenang Sarjono pada Senin, 04 Mei 2026.
Diteruskan sang Anak
Semangat membangun dari sang Ayah kemudian diteruskan oleh putranya, Prakosa. Di usianya yang masih 26 tahun, lulusan S2 Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mengemban amanah sebagai Managing Director sejak tahun 2021. Di bawah kepemimpinan Prakosa, destinasi wisata ini berevolusi dari sekadar tempat outbound dan river tubing menjadi destinasi kuliner dan wisata terintegrasi.
Pandemi COVID-19 sempat memaksa tempat ini tutup selama setahun. Namun, latar belakang pendidikan dan ketajaman strateginya justru membuahkan ide baru. Ketika wisata air dilarang selama masa PPKM, Prakosa menginisiasi pembukaan restoran agar para karyawan tetap memiliki penghasilan.
"Untuk New River Moon ini berdiri sejak 2017. Kami sejak awal sudah bersih-bersih sungai dan memberdayakan masyarakat menjadi pemandu. Setelah COVID, karena restoran boleh buka 50% sementara wisata air tidak, kami inisiasi membuka resto demi menjaga nasib banyak karyawan yang sudah bergabung bersama kami," jelas Prakosa.
Pilar Keberlanjutan
Prakosa pun menjelaskan prinsip kuat yang ia tanamkan yaitu: mengambil manfaat dari alam, maka wajib merawatnya. Hal ini dibuktikan melalui dua pilar utama:
- Pemberdayaan Masyarakat Lokal: Sebesar 85% dari total SDM adalah warga sekitar, bahkan untuk pemandu sungai, angkanya mencapai 100%. Bisnis ini telah menjadi motor penggerak ekonomi bagi Desa Karanglo.
- Komitmen Zero Waste: Bekerja sama dengan Pusur Institute (komunitas lokal yang fokus pada konservasi, pengelolaan, dan pelestarian Sungai Pusur dari hulu hingga hilir), destinasi ini menerapkan sistem pengelolaan limbah yang ketat. Mulai dari pemilahan sampah plastik dan botol yang bisa dijual kembali, hingga penggunaan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Komunal agar air buangan tidak mencemari sungai.
Bahkan, kebijakan operasional pun diubah demi lingkungan. Jika dulu makanan ringan untuk tubing dibungkus plastik sekali pakai, kini mereka beralih menggunakan paper bag yang lebih ramah lingkungan.
"Prinsip kami jelas, kami menggunakan alam, sehingga mau tidak mau kita harus merawatnya. Kami berkomitmen untuk kelestarian alam agar bisnis lancar, alam terjaga, dan perekonomian masyarakat tumbuh," pungkas Prakosa.
Kini, New River Moon berdiri tegak sebagai contoh nyata bahwa kesuksesan bisnis wisata tidak harus mengorbankan alam, melainkan bisa menjadi benteng pelindung bagi ekosistem sungai demi masa depan yang lebih hijau.