Berawal dari Dapur Sederhana Bu Siti dan Bang Agem, Begini Cerita di Balik Kuliner Viral Mi Nyemek
Di pojok-pojok kota yang riuh, sebuah keajaiban kuliner seringkali lahir dari kesederhanaan. Sebelum menjadi tren yang dibicarakan di media sosial, "Mi Nyemek" adalah sebuah bentuk cinta dan ketelatenan dari tangan-tangan kreatif para pemilik warung makan.
Warisan Ibu Siti: Kehangatan dari Yogyakarta
Perjalanan ini dimulai di Yogyakarta pada tahun 2000. Ibu Siti Artani, melalui warungnya Mie Nyemekee Bu Siti, menciptakan sebuah resep yang lahir dari pengamatan jeli. Di tengah pilihan mi goreng yang kering atau mi rebus yang banjir kuah, Bu Siti melihat celah: sebuah tekstur yang berada tepat di tengahnya.
Beliau meracik bumbu dengan sentuhan khas Jawa yang manis, gurih, dan hangat. Teknik memasaknya unik, dengan sedikit kuah yang dibiarkan menyusut hingga mengental dan meresap ke dalam tiap helai mi. Rasanya? Comforting. Tak heran jika warungnya di Yogya menjadi destinasi wajib bagi siapa pun yang rindu akan pelukan hangat dalam bentuk makanan.
Semangat Bang Agem: Rempah Berani dari Medan
Bergeser ke Barat, di Medan, Bang Agem melalui Warmindo Agem Senyum Ketawa membawa napas yang berbeda. Terinspirasi dari petuah Ayahnya tentang semangat pantang menyerah, Bang Agem menciptakan menu yang kini dikenal luas sebagai Mi Banglahdes’e.
Berbeda dengan versi Yogya, racikan Bang Agem adalah perayaan rempah yang berani dan intens. Dimasak dalam kuali besar (bahkan hingga 2 kardus mi sekaligus!), konsistensi rasa yang dihasilkan Bang Agem tetap presisi: kental, berempah tajam, dan sanggup membuat siapa pun yang mencicipinya "senyum ketawa" karena puas.
Nama "Bang Lah" sendiri diambil dari potongan nama sang Ayah, Abdullah yang juga secara personal berupa doa dan harapan keluarga agar usaha ini mampu mengangkat derajat melalui kerja keras.
"Kreativitas bisa lahir dari dapur mana pun. Saya bangga sensasi mi nyemek yang dulu cuma ada di warung saya, sekarang bisa dinikmati banyak orang," ungkap Bang Agem dengan haru.
Ketika Sang Legenda Berpadu dengan Inovasi Modern
Kreativitas Bang Agem dan Bu Siti inilah yang kemudian ditangkap sebagai sebuah warisan budaya kuliner yang harus dirayakan secara nasional. Melalui lini Indomie Hype Abis Mi Nyemek, rahasia dapur dari Medan dan Yogya ini kini bisa dinikmati siapa saja, di mana saja, dengan cara yang sangat praktis.
Jakarta pun menjadi saksi perayaan ini melalui acara ‘Indomie Nyemek on The Block’ yang digelar di Lobi Piazza, Gandaria City Mall, Jakarta Selatan (13-15 Februari 2026). Selain memanjakan lidah, pengunjung juga dihibur dengan penampilan musik dari Juicy Luicy dan Nyanyi Bareng Jakarta, serta berbagai zona interaktif yang seru.
"Saya juga pernah makan di warungnya Bang Agem, kalau kangen, bisa terobati dengan yang praktis ini karena rasanya sama," kata Steven Wang, Food Enthusiast dan Content Creator yang turut hadir.
"Dulu kalau mau makan mi nyemek Bang Agem atau Bu Siti harus jauh-jauh, sekarang praktis, cukup tambahkan 12 sendok makan air rebusan, sensasi kental dan nendangnya langsung dapat!" ujar Cherie Anisa Nuraini, Senior Brand Manager PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk.
“Kami percaya bahwa kreativitas kuliner masyarakat merupakan fondasi strategis yang mampu menyatukan dan menginspirasi lahirnya kolaborasi yang lebih besar. Lewat acara ini kami ingin mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bersama-sama merayakan semangat inovasi dalam kolaborasi, sekaligus mengangkat kreasi mi nyemek khas Warmindo menjadi sensasi nasional,” pungkas Cherie.